Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #3

BAB 3

Sejujurnya, walaupun aku saat ini hidup dengan harta yang banyak. Tetapi, ada segunung derita menancap dengan kokoh di dalam diriku. Entah, gunung itu hadir dari mana. Pengalaman masa lalu atau diwariskan oleh kedua orang tua. Bisa jadi, Tuhan sengaja menaruh itu di dalam diriku. Dulu, aku tak menyadari hadirnya gunung itu.

Tetapi pada seiring waktu, aku sedikit sadar bahwa gunung itu mulai dapat aku rasakan. Di sekitar gunung, tumbuh dengan banal belukar penyesalan dan kesendirian. Belukar itu betah hidup di tanah yang tak sehat. Dan, perlahan akan terus tumbuh. Justru, ketika aku mengalami hal-hal yang baik. Mereka akan menciutkan diri. Sungguh, tumbuhan yang tumbuh dengan cara teramat aneh. 

Mungkin, jika aku senantiasa mengalami hal baik. Belukar itu akan punah sepenuhnya. Akankah hal itu dapat terjadi? Aku tak mampu menjawabnya. Setidaknya hingga saat ini.

Aku harap bisa. Karena, aku juga ingin memiliki masa depan. Aku ingin berdamai dengan diri sendiri dan masa laluku yang penuh runyam.

Sejak ayah menjadi penghuni tetap di rumah sakit. Aku menjadi penguasa tunggal di rumah. Aku pandangi sudut demi sudut dari rumah yang menjadi saksi bisu kehidupan yang mulanya cukup menyenangkan. Namun, kemudian berubah menjadi mengenaskan. Perjalanan hidup yang sama sekali tak aku inginkan. 

Dulu, ayah adalah orang yang baik. Ibu dapat membeli perias wajah secara rutin. Kami bertiga pun sering pergi berlibur ke taman kota. Sekedar untuk menertawakan badut atau menonton mobil-mobil berwarna-warni yang lalu lalang di jalan. 

Tiap akhir bulan, ayah membelikanku mainan yang bagus sekali. Mobil yang dapat dikontrol melalui sebuah remot, bola bliter, mobilan tamiya, baju superman yang ada sayapnya, gimbot hingga walkman.

Budi Suap dan Mahmud Jiper sering iri padaku. Karena, ayah mereka tak ingin membuang-buang uang untuk hal yang dinilai oleh ayah mereka tak berguna. 

Pak RT lebih ingin Budi Suap menjadi seorang yang memiliki fisik kuat dan cerdas. Sehingga, Budi selalu dititipkan oleh Pak RT pada komunitas pecinta alam untuk diajak naik gunung. Serta, diikutkan kursus yang mahal agar dapat meneruskan pendidikan ke sekolah negeri. 

Sedangkan, Kiai Barjo menginginkan Mahmud jadi seorang kiai meneruskan dirinya. Membuat Mahmud, lebih sering ikut bersama Kiai Barjo berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Untuk memahami teknik berceramah. Sesekali, Mahmud dititipkan ke salah seorang kiai lain untuk mondok secara singkat, guna memperdalam ilmu agama. 

Ayah mulai berubah dari seorang yang baik menjadi kejam, sejak ia diputus kontraknya oleh pabrik tempatnya bekerja. Aku masih ingat peristiwa saat ayah diputus kontrak. Saat itu, akhir bulan. Biasanya, ia akan pulang dengan sebungkus makanan. Martabak, nasi goreng, ote-ote, tahu sumedang, kerang rebus atau apa saja yang bisa diboyongnya ke rumah. 

Namun saat itu, ia pulang dengan wajah yang sangat kusam. Tak ada kantong plastik di tangannya. Seharusnya, ia akan memeluk ibu dan menanyakan pada ibu hari ini memasak apa. Tapi, hari itu ayah melengos melewati ibu. Bahkan, menarik tangannya ketika ibu hendak menciumi. Ia segera menjatuhkan diri di sofa yang sudah memudar warnanya dan berkata dengan penuh kecewa serta terpatah-patah, sepertinya menahan tangis, “Pabrik bangkrut. Sehingga, mereka harus memecat setengah karyawannya. Termasuk, ayah.”

Mendengar itu, ibu segera merangkul ayah dan mencoba membesarkan hati ayah, yang nampak tak terima dengan kepahitan yang menerjangnya secara tiba-tiba. Pada saat itu, aku masih berusia 12 tahun. Aku sedang persiapan menghadapi ujian nasional. Sejujurnya, pada saat itu aku tak dapat mengetahui secara pasti, hal apa yang menimpa ayah. Satu hal yang jelas, pasti yang menimpanya adalah hal yang buruk. Aku tak ingin memperkeruh suasana. Aku segera menarik diri menuju kamar.

Beberapa hari berlalu. Ayah selalu sudah ada di rumah sebelum aku tiba. Mulanya, aku berpikir ia pulang cepat. Namun, perlahan-lahan aku memahami. Bahwa, ayah saat ini sudah tidak bekerja. Dan, ia sedang berupaya memperoleh duit pesangon yang menjadi haknya. Sambil terus menitipkan lamaran kerja ke berbagai tempat yang ditemuinya. 

Satu bulan berlalu. Ujian nasional telah usai. Aku hanya tinggal menunggu upacara perpisahan dan pembagian ijazah. Serta, mengurus berkas-berkas untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Saat itu, ayah lebih sering di rumah. Duduk di sofa yang sama ketika ia mengabarkan berita pemecatannya, berteman secangkir kopi hitam dan beberapa potong tahu goreng bersama cengek. Ia terlihat nyaman dengan kebiasaan barunya. 

Bermain teka-teki silang yang di dapatnya dari koran loak. Sedangkan ibu, di waktu pagi hingga siang akan mangkal di depan sekolahku dengan gerobak yang dibeli melalui uang tabungannya. Ibu menjadi seorang penjual pempek. Ada yang bongsor, berisikan potongan telur. Serta, ada yang panjang tanpa isi, namun dengan harga lebih murah. 

Di waktu sore, ia akan bergeser ke lapangan dekat rumah. Di sana, ramai orang bermain layangan, kejar-kejaran atau sepak bola. Terkadang aku membantu ibu, sekedar memotong-motong timun. Pergi ke warung untuk membeli minyak curah atau menukar tabung gas. 

Entah pura-pura atau tidak. Ibu terlihat senang dengan rutinitas barunya ini. Tak nampak wajah lelah sama sekali. Sebetulnya aku teramat kasian pada ibu, yang saat ini harus membanting tulang demi hidup aku dan ayah. Namun, meskipun kasian. Dalam diriku, seperti ada dorongan untuk selalu pamrih ketika diminta tolong olehnya. Aku yang tak tahu diri akan meminta uang sebagai upah, yang akan aku gunakan untuk main warnet bersama Budi Suap dan Mahmud Jiper.

Tidak jauh dari lapangan tempat biasa ibu mangkal di waktu sore, mas Deri yang baru mendapatkan warisan rumah dari ayahnya yang meninggal karena usia yang sudah sepuh. Langsung menyulap rumah itu menjadi sebuah warnet. Sebagai anak satu-satunya, ia mendapatkan kekuasaan penuh untuk merombaknya. 

Tanpa perlu melakukan soceng kepada adik dan kakaknya. Atau adik dan kakak dari ayahnya seperti aku. Ditambah, ibu mas Deri pun sudah lebih dulu meninggal. Betapa bebas dan beruntungnya hidup mas Deri. Di warnet yang dinamai Connect itulah, aku, Budi dan Mahmud sering menghabiskan waktu. 

Kami memutuskan untuk berhenti main kejar-kejaran, memburu layangan putus dan juga sepak bola. Hal itu disebabkan oleh sebuah peristiwa yang menimpa Budi. 

Ketika kami sedang seru bermain bola, Budi tak sengaja menendang batu yang ada di sisi luar lapangan. Seperti anak lainnya, kami bertiga tak menggunakan alas kaki. Itu membuat jempol Budi mengucurkan darah. Pak RT yang mengetahui kejadian itu melarang Budi untuk bermain itu lagi. Tetapi, Pak RT tetap meminta Budi untuk mendaki gunung bersama dengan komunitas pecinta alam. Sungguh Pak RT yang aneh.

Di antara kami bertiga, hanya Budi yang mampu mengoperasikan komputer. Itu pun sebatas membuka pemutar musik, mengetik nama, menggambar dan bermain catur. Aku gaptek. Serius. Tetapi, lebih gaptek lagi Mahmud. 

Aku selalu tergelak ketika mengingat cerita ini. 

Jadi, saat itu kami bertiga berada di satu bilik yang sama. Posisinya, Mahmud ada di dekat tombol power dari komputer. Aku dan Budi memintanya mengeklik bulatan yang sebesar uang logam itu. Sesaat setelah mengeklik, terdengar suara kipas dan mesin berpacu, bersama dengan layar yang menampilkan kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang aku sendiri tak paham. 

Serentak Mahmud mengucapkan istigfar dengan lantang. Anak itu langsung bangkit dan lari keluar bilik. Aku dan Budi hanya tercengang penuh keheranan melihat tingkahnya. “Hei, itu benda sihir. Pasti pemilik tempat ini bersekutu dengan setan. Ya Tuhan, lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk,” sergahnya sembari menengadahkan tangan, sebelum ia melesat ke luar warnet dan pulang ke rumah. 

Aku dan Budi hanya dapat menggelengkan kepala melihat ketololan anak kiai yang satu ini. Keesokan harinya, warnet mas Deri digeruduk oleh Kiai Barjo dan Mahmud yang menuduh warnetnya sebagai tempat pemujaan iblis. Ya, Tuhan, lindungilah aku dari kebodohan yang terkutuk semacam ini.

Mas Deri menerangkan pada Kiai Barjo. Bahwa, komputer itu hanyalah sebuah mesin. Persis seperti mesin motor dan mobil. Mas Deri pun mempraktikan bahwa dengan komputer, seseorang bisa mengakses beragam pengetahuan. Bahkan, ilmu agama. 

Setelah mendengar dan melihat secara langsung bagaimana komputer itu bekerja. Kiai Barjo langsung meminta maaf dengan penuh tulus sembari diliputi rasa malu. Sang kiai pun memarahi Mahmud, akibat ketololan anaknya itulah ia menjadi sangat malu. Merosak pamor sang kiai di kampungnya sendiri.

Setelah kejadian itu, Kiai Barjo menjadi salah satu pelanggan setia warnet. Sekedar untuk mencari bahan ceramah atau khotbah yang menarik, agar jamaah tidak tertidur. Walaupun, tidurnya mereka itu dikatakan oleh Kiai Barjo lebih baik dari pada terjaganya orang-orang di pos ronda yang sibuk bermain remi. Sejak kejadian itu, Mahmud menjadi anteng bersama aku dan Budi di balik bilik. 

Sudah lumrah, pada Sabtu malam. Warnet sesak sekali oleh mereka yang hendak bermalam mingguan. Apalagi, terdapat paket hemat dari jam 10 malam hingga 6 pagi. Hanya perlu merogoh kocek seharga sewa 4 jam, untuk menguasai bilik selama 8 jam. Murah sekali. 

Mereka yang ada di ruang khusus permainan biasanya hanya para lelaki. Oleh karena itu, sungguhlah wajar jika di ruang itu terdengar pekik bernuansa kebun binatang. Anjing! Babi! Monyet! 

Suasananya, sangat kontras dengan ruang dilarang bermain permainan, yang biasa aku, Budi dan Mahmud tempati. Berisi para lelaki yang memboyong perempuannya. Ah, sudah bukan hal yang asing jika malam minggu merupakan hari agung bagi mereka yang memiliki pasangan. 

Di balik tiap bilik itu, pada jam 10-12 akan riuh oleh gelak tawa penuh bahagia. Tetapi, di atas jam itu hanya akan terdengar suara desis dan desah. Sebelum, kemudian hanya terdengar suara mengorok serupa pekerja lembur yang keletihan. Pasangan sejoli itu bersenggama. Aku serius. Dan, itu sudah menjadi rahasia umum. Sebelum ada warnet Connect, sejoli itu akan bersenggama di pemakaman. Mengendap-ngendap di antara perkebunan singkong untuk mengelabui Mang Cecep. 

Mas Deri sempat melarang muda-mudi untuk melakukan mesum di warnetnya, karena karpet warnet akan berbau tak mengenakan pada keesokan harinya. Namun, kebijakannya itu membuat omzetnya menurun drastis. Hal itulah, yang membuatnya terpaksa mengizinkan pasangan itu berbuat mesum di warnetnya. Dengan satu syarat, mereka harus mengenakan kondom. Jika tidak, tiap pasangan akan dikenakan sejumlah denda. Seandainya, suatu pasangan lupa tidak membeli kondom. Mereka dapat membelinya ke Hendi. Meskipun, harganya sedikit lebih mahal.

Pada suatu malam minggu, kami bertiga sudah berada di salah satu bilik. Budi yang setahun lebih tua dari aku dan Mahmud. Memperlihatkan sesuatu yang tak semestinya. Ia membuka suatu folder yang di dalamnya berisi film-film dewasa. Jepang. Amerika. Eropa. Latin. Besar. Kecil. Pirang. Merah. Hitam. Lengkap!

Aku sendiri kaget dengan apa yang aku lihat. Mahmud yang jauh lebih kaget, hampir saja memekikan istigfar dan loncat ke luar bilik. Sebelum itu terjadi, dengan cekatan Budi sudah membekapnya. Tubuh Mahmud meronta-ronta, sembari menutup rapat-rapat matanya. 

Budi memintaku mengambil perangkat jemala, lalu memasangkan ke telinga Mahmud. Setelah terpasang, dengan tangan satunya, Budi membuka salah satu video dari folder Jepang. Mendengar suara desah yang tak sepatutnya didengar, terlebih bagi dirinya seorang anak kiai terpandang. Seketika Mahmud hendak melepasnya. Namun, Budi menahannya. Mahmud terus meronta, mendengarkan desahan dari folder Jepang, matanya masih tertutup sambil merintihkan Ayat Kursi. 

Butir keringat perlahan tempias di dahinya.

Sepertinya, yang dikatakan Mahmud beberapa saat lalu tidak sepenuhnya salah. Setan ramai di tempat ini. Menggoda dan merasuki siapapun. Tanpa pandang bulu. 

Di bilik sana, mereka mesum. Di bilik sini, seorang anak kiai sedang mendengarkan jeritan dan desahan yang berasal dari film mesum. Aku ingat perkataan ayah Mahmud yaitu Kiai Barjo. Bahwa, setan itu dapat menyelinap dari aliran darah. Setahuku, aliran darah mengerjakan peran penting di tubuh. Seperti mengantar oksigen ke seluruh organ. Keren juga setan itu, pikirku.

Saat ini, tubuhku merasakan suatu gelisah. Aku pun menyusul Mahmud, perlahan keringat megucur karena aku mulai larut dalam film yang sedang kami saksikan bersama di layar monitor. Pasti, saat ini aliran darahku disusupi oleh setan. Anehnya, anak kiai yang sedang dipaksa oleh Budi untuk mendengar suara penuh kenikmatan itu, saat ini nyaris tentram. Hanya meronta lemah, sesekali terperanjat seperti ikan yang berusaha melarikan diri dari akuarium. Ayat Kursi yang dibaca Mahmud kini hanya serupa bisikan samar. 

Dan, seketika aku menjadi mual. Ketika Budi memberikan isyarat untuk melihat selangkangan Mahmud. Sangat jelas terlihat, si kecil milik Mahmud yang mengacung tanpa rasa malu. Menonjok resleting celana hitam polos yang dikenakannya. Aku tak bisa membalas tawa yang dilontarkan Budi, yang nampak senang karena berhasil membuat anak kiai menjadi terangsang berat. 

Karena, di otakku berkelindan pengalaman buruk yang terjadi di pemakaman pada beberapa tahun silam. Astaga Tuhan, tolong hilangkan ingatan itu dari otakku. Meski dibayang-bayangi pengalaman buruk. Aku pun akhirnya tertawa. Terbahak-bahak. Ketika si kecil milik Mahmud itu meletuskan cairan sucinya. Rembes keluar celana. Bersama semerbak bau pandan yang menyeruak.

Kejadian memalukan itu menjadi awal mula kegilaan kami bertiga. Malam mingguan selanjutnya, kami akan kembali menonton film dewasa bersama-sama, sembari memijat si kecil milik kami masing-masing. Tanpa ada secuil rasa malu. Siapa yang keluar duluan, ia harus menelaktir kami berdua semangkuk mi instan dengan telor. Dan, anak kiai itu muncrat duluan. Pada malam minggu selanjutnya, pun sama. Begitupun selanjutnya dan selanjutnya. 

Hingga Budi menyarankan pada Mahmud untuk rutin memijat si kecil di rumah. Latihan agar tak mudah keluar. “Kasian binimu nanti tak puas. Pasti nanti dia selingkuh dengan pria lain,” begitulah hasutan iblis Budi yang membuat Mahmud, anak Kiai Barjo menjadi candu terhadap kegiatan maksiat itu. 

=====

Bencana tiba, pada suatu hari ketika Mahmud yang kebelet onani lupa tidak mengunci kamarnya. Tanpa ketokan, Kiai Barjo yang hendak mengajak Mahmud untuk sowan kepada seorang buya tersohor yang sedang berkunjung ke desa sebelah. Langsung membuka pintu kamar Mahmud. 

Betapa terkejutnya sang kiai, ketika memergoki anaknya yang sedang disiapkan jadi panutan umat, ternyata sedang memuaskan birahinya. Mahmud kepergok sedang merem melek penuh pengkhayatan duniawi. Naik pitamlah Kiai Barjo. Diludahi anaknya itu berkali-kali. Ditampari anaknya bolak-balik. Dicubitnya si kecil yang masih setengah bangun hingga membiru puncaknya. Mahmud hanya mengaduh sembari memohon ampun penuh penyesalan.

Berlagak seperti seorang inkuisitor abad pertengahan, Kiai Barjo memulai sesi interogasi. “Siapa yang mengajari kamu maksiat?” Pengakuan jujur muntah begitu saja dari mulut Mahmud. Lumat Papatong dan Budi Suap. 

Mendengar dua nama yang mengajari anaknya maksiat. Ditambah, ia mendengar anaknya menyebut nama warnet Connect sebagai tempat kegiatan keji itu terjadi. Membuat Kiai Barjo sangat marah. Didatanginya satu persatu rumah kami, aku dan Budi. Marah-marahlah kiai pada kedua ayah kami masing-masing. “Anakmu itu titisan setan.” kelakar sang kiai yang sudah naik pitam.

Para ayah itu serentak menyampaikan emosi dari ayah Mahmud kepada kami masing-masing. Dua kali lipat dari yang Kiai Barjo luapkan pada mereka. “Lumat, kamu itu sudah jadi setan yang terkutuk.” Murka ayah sembari asyik memukuliku dengan raket rotan yang biasa digunakan memukul kasur kapuk.

Lihat selengkapnya