Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #4

BAB 4

Hari ini aku berusia 23 tahun. Di hari itu juga lah Azka meninggal dunia. Kejadian itu terjadi 7 tahun yang lalu. Kurang lebih, setahun sebelum ayah harus cuci darah dan ibu yang pergi menyusul Azka. Tepat pukul 12 malam, aku izin kepada mas Deri untuk pulang. 

Karena, tadi sore sebelum aku pergi ke warnet. Ibu berpesan agar aku pulang pukul 12 tepat. Ada kejutan untukmu, Lumat. Kejutan itu adalah sepotong roti isi coklat yang dibeli ibu dari warung dan beberapa potong pempek yang tak laku. Lengkap dengan cuka hangat dan irisan kecil mentimun. Tersaji di atas tikar tipis, di mana kami bertiga berkumpul dan duduk penuh kehangatan. Hanya ada aku, ibu dan Azka. Ayah tak datang tepat waktu. Ia akan datang sesaat lagi. 

Bersama nyanyian selamat ulang tahun yang sendu dari ibu yang kantung matanya telah menghitam. Karena, kurang istirahat. Dipadu tawa menggemaskan dari Azka dengan gigi kecil putih berseri yang mulai tumbuh. Pipi adikku begitu bulat dan menggemaskan. Serta mata yang bersinar seolah memantulkan cahaya dari Surga. Ibu berusaha tersenyum, sambil menggoyang-goyangkan Azka yang digendongnya. Seketika, tumpah air mataku. 

Aku sangat terharu. Tuhan memberikan setetes kebahagiaan surgawi pada kami bertiga. Di tengah api Neraka yang membara. Membakar lembar rencana. Mengentaskan tangga mimpi yang hendak digapai. 

Ibu menurunkan Azka, lalu memelukku yang sedang sesenggukan. Ibu pun ikut menangis. Seolah-olah itulah pelukan terakhir. Seolah akan datang sebuah malapetaka, yang menghancurkan pesta kebahagiaan nun sederhana yang kami sedang rayakan. 

Tiba-tiba, Azka merengek. Aku baru tahu, seorang bayi sudah memiliki rasa cemburu. Mendengar rengekan itu, kami segera melepaskan pelukan. Dan, ibu dengan sigap menggendong Azka penuh rasa sayang sambil memberi adikku itu asupan asi untuk mengusir rengekannya. 

Ya Tuhan, Itu adalah momen sederhana yang sangat membahagiakan. Kejutan tengah malam itu akan selalu aku kenang. Ingin sekali aku menyerahkan seluruh sisa masa di hidupku, hanya untuk mengabadikan momen yang baru saja terjadi. Namun sayangnya, itu hanyalah sebuah halusinasi semata. Tuhan sama sekali tak menghendakinya.

Dok! Dok! Dok! Ketukan itu mengagetkan kami bertiga, termasuk Azka yang seketika melepaskan isapannya, seraya menjerit ketakutan. Ibu memintaku untuk membuka pintu tersebut. Aku dan ibu sudah tahu siapa sosok yang mengetuk di balik pintu rumah. Ya, ayah. Akhirnya, ayah datang di perayaan ulang tahunku yang serba sederhana ini.

=====

Sejak dipecat dari pabrik. Ayah menjadi orang yang sangat mudah marah. Di pagi hari, ketika belum tersedia secangkir kopi hitam dan beberapa potong tahu goreng bersama cengek yang rebahan di atas meja beralaskan pisin beling. Ia akan naik pitam tanpa aba-aba. Sambil menggebrak meja yang kosong itu.

Memaki ibu itu sudah terlampau sering. Menampar ibu juga sudah cukup sering. Mengambil paksa uang ibu tak kalah sering juga. Sialnya, uang yang diambilnya itu ternyata digunakannya untuk main togel. 

Bahkan, kemudian waktu aku baru tahu. Duit untuk daftar sekolah menengah pertama yang sudah dikumpulkan oleh ibu dengan susah payah. Dirampas ayah untuk hal yang sama. Bedebah satu ini, memang seharusnya mati! 

Andai saja, ibu memiliki rencana untuk menghabisi ayah. Aku akan dengan senang hati bergabung untuk mewujudkan rencana itu. Namun, ibu terus menerus berkata, “Tidak mengapa, Lumut. Ini ujian dari Tuhan.” 

Sekali waktu, ia akan mengatakan dengan penuh ketegaran yang dipaksakan, “Surga seorang istri ada di kaki sang suami. Jadi, ibu harus sabar menghadapi ayahmu.” 

Najis.

Sabar katanya. Disiksa kok sabar? Omong kosong. Ingin muntah aku mendengarnya. Sekali waktu, aku pernah mendengar ceramah dari Kiai Barjo. Bahwa, seorang istri dapat menuntut cerai seorang suami, yang tak memberinya nafkah selama sekian bulan. Aku lupa tepatnya berapa. 

Namun, mengapa ibu lebih memilih untuk bersabar? Apakah ibu diguna-guna oleh ayah? 

Sialan, pikiranku kelayapan terlalu jauh. Intinya. Ibu itu bebal. Sabar memang bagus, jika waktunya tepat. Misalnya, ketika dirinya masih berpacaran dengan ayah. Seharusnya, ia menolak ajakan ayah untuk melakukan senggama. Sabarlah ketika itu. Karena, itulah yang membuat ibu hamil diriku di luar pernikahan. 

Lihat selengkapnya