Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #5

BAB 5

Sesuai yang aku katakan sebelumnya, aku sangat terobsesi untuk dapat melakukan tindakan serupa kelompok peretas yang menyabotase data perusahaan bank. Selama tiga bulan terakhir ini, aku berusaha keras untuk dapat mempelajari ilmu peretasan secara lebih menyeluruh. Sesuai dengan yang disarankan oleh Mict. Aku menyadari di usia ke 23 tahun ini, aku belum memperlihatkan pada sekitarku tentang siapa aku sebenarnya. 

Sehingga, aku berniat untuk membuat seluruh dunia terpukau, ketika membaca berita berjudul, “Menggegerkan, Data Milik Perusahaan X Berhasil Disabotase.” Memang, aku tak akan mencantumkan “Lumut Papatong” sebagai peretasnya. Jelas saja, jika aku melakukan itu namanya bunuh diri. Aku hanya mencantumkan pseudonimku. Rahasia. Aku belum berniat membocorkannya. Setidaknya, aku ingin memiliki suatu pencapaian.

Sebetulnya, beberapa orang warnet sudah tahu, bahwa sekarang ini aku kaya raya karena bekerja untuk perusahaan judi. Mereka mengatakan aku hebat, walau mereka mengucapkan itu dengan nada penuh iri. Tetapi, aku tak bangga sama sekali dengan hal tersebut. Malahan, aku sering ketakutan. Terutama ketika di desaku, terdapat beberapa pasangan yang bercerai karena sang suami kecanduan judi online hingga segalanya digadaikan demi modal berjudi yang tak kunjung JP. Mulai dari setrikaan. Tv. Kulkas. Sepeda anak. Motor. Hingga, rumah warisan almarhum mertua. Semuanya digadaikan tanpa sempat ditebus. Ludes.

Pada saat kasus itu sedang panas-panasnya, bahkan Kiai Barjo sampai memperingatkan di atas mimbar mushola untuk menjauhi yang namanya judi. Baik online ataupun yang secara langsung. Ia memperingatkan dengan nada berapi-api, “Saudaraku sekalian, judi itu dibenci Allah karena merupakan perbuatan setan. Siapa saja yang melakukan judi, berarti ia telah dengan sukarela menyerahkan hidupnya pada setan. Dan, siapa saja yang mengajak orang lain untuk berjudi. Ia telah menjadi agen setan.” 

Mendengar itu membuatku ketakutan bukan main. Pasti jika aku ketahuan, bukan hanya ceramah Kiai Barjo yang menjejali telingaku. Tapi, tangan-tangan warga desa yang akan menghantam tubuhku hingga babak belur. Sebelum kemudian diserahkan ke kepolisian untuk dipenjara.

Mengetahui aku sedang ketakutan, beberapa teman warnet yang mengetahui kegiatan haramku akan meminta traktiran. Mulai dari kopi, mi instan, rokok hingga ciu bekonang. Termasuk di antaranya Tian. Uang tutup mulut, ucap mereka. Aku tak pernah keberatan. Toh, uangku sudah banyak. Hitung-hitung sedekah juga. Sekaligus, buang sial. 

Sejujurnya, seandainya aku harus dipenjara. Aku akan lebih bangga dipenjara karena terlibat peretasan dibandingkan terlibat bisnis judi.

Malu sekali rasanya jika digelandang ke kantor polisi akibat terlibat bisnis perjudian. Terlebih jika aku digelandang dengan wajah babak belur. Aku tak mampu membayangkan seandainya ayah tahu. Bahwa, aku membiayai pengobatannya selama ini dengan uang haram. Sebetulnya, ayah pun lumayan sering menanyakan terkait asal muasal uang yang aku dapatkan.

Pada mulanya aku menjawab, “Aku menjadi sales rokok cengkeh dari desa seberang.” 

Selanjutnya, aku selalu mengatakan, “Alhamdulillah, aku berhasil menjual banyak rokok. Jadinya dapat bonus deh.”

Ketika mendengar penjelasan itu, ayah sama sekali tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk seolah tahu, aku tak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu hanya dari menjual batangan rokok cengkeh dari desa seberang.

Jujur saja, desa seberang yang mayoritas masyarakatnya hidup dari pengolahan tembakau itu tidak memiliki pasar pembeli yang besar. Karena, kalah telak oleh pabrik-pabrik di perkotaan yang mampu membuat batangan rokok dengan cepat disertai kualitas yang jauh lebih baik. Di desa itu, rokok-rokok dibuat secara manual. Menggunakan tangan-tangan pengrajin yang sudah rabun dan tak bergairah sebab usia. 

Hasilnya, dari 10 batang perbungkus. Hampir pasti separtuhnya itu susunan tembakaunya tidak padat. Malahan, pernah sekali waktu aku mencoba rokok dari desa sana. Komposisi rasanya lebih mirip seperti lilitan kertas yang dibakar. Sama sekali tidak ada kenikmatan. Aku merasa aneh ada orang yang sudi membelinya. Entahlah, hanya orang yang seleranya aneh yang secara sukarela mau membelinya.

Seharusnya, para lansia itu menyingkir segera. Diganti oleh para pemuda yang lebih bertenaga untuk menjadi pengrajinnya. Bukannya demikian, para pemuda malah ditempatkan sebagai para penjajak rokok itu ke warung-warung kota. Semua atasnama budaya leluhur. Dari dulu yang menjadi pengrajin adalah para tetua. Najis. 

Dan, aku rasa ayah tahu betul tentang itu semua. Terutama kemustahilan aku yang berhasil melariskan rokok dari desa itu. Sebab, ayah sering sekali berkunjung ke sana. Untuk mabuk dan berjudi. Barangkali, ia pun sempat mampir ke rumah bordil milik Nona Koitum yang kesohor itu. Bahkan, ayah juga dilarikan ke RS setelah tumbang di desa nista itu. Sialan, aku jadi teringat lagi peristiwa-peristiwa tragis yang sudah terjadi sebelumnya. Ketika trauma-trauma itu terhampar di depanku, selalu saja seketika emosiku bangkit penuh kegagahan.

Alah, aku tak seharusnya peduli. Apakah pada akhirnya ayah akan mengetahui sumber dana pengobatannya dari mana. Lagi pula dia juga yang mendapatkan manfaatnya. Rumah reot yang menjadi saksi matinya adikku dengan tangan kejinya itu, akhirnya bisa aku beli dengan atasnama dirinya. Pun juga, tak diragukan lagi jika bukan karena kegiatan haram yang aku lakukan, dia mungkin sekarang sudah menjadi santapan binatang melata di tanah penguburan. Toh, dia pun sangat hobi berjudi. Berjudi dengan uang, dengan menghamili ibu sebelum menikah kemudian melahirkan aku. Berjudi dengan.. Ah, sudahlah. Cukup.

Seandainya ayah memang mengancamku, lalu melaporkanku. Itu berarti saat-saat dia sudah lelah hidup dengan selang. Bosan dengan semerbak obat di ruang bertembok gading lusuh. Putus asa karena tak mampu lagi pergi ke desa seberang untuk berjudi, bermabuk-mabukkan dan bersenggama di rumah bordil Nona Koitum. Untuk yang terakhir memang aku tak tahu kebenarannya. Tapi aku menganggap itu suatu fakta. Hal itu berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Ceng Mahmud, yang dengan lantang melalui toak masjid pada sebuah pengajian malam hari, “Sesungguhnya, khamr itu adalah induk dari segala kejahatan. Seseorang yang mabuk nalarnya akan hilang,” untuk pertama kalinya aku mendengarkan ocehan mantan temanku itu tanpa memaki. Karena, memang benar seperti apa yang sudah dikisahkan sebelumnya. 

Lihat selengkapnya