Ibu memilih menjalani kehidupan baru. Suatu kenyataan yang masih tak bisa aku terima sama sekali. Setelah aku melakukan penelusuran lebih jauh. Aku ketahui, bahwa ibu menikah dengan adik kelasnya semasa SMA. Konon, suami barunya itu kaya raya karena bekerja di Kementerian. Paling-paling, kaya karena suap seperti Pak RT dalam versi lebih gila. Aku agak jijik mengucapkannya, tetapi ini nyata. Ibuku menikah dengan lelaki kementrian itu sebagai istri siri. Setiap pagi, aku memiliki kebiasaan untuk membuka profil sosial media ibu, untuk sekedar melihat apa yang ibu tulis pada hari ini. Sekaligus melihat foto ibu dan keluarga barunya yang terlihat sangat bahagia. Tiap kali melihat itu, seketika ulu hati ini terasa panas. Lalu, darah seperti enggan turun dari otak. Terlebih ketika melihat bayi itu. Mirip sekali dengan adikku manis yang meninggal di tangan ayahnya sendiri. Aku iri. Aku harap adik kecil yang aku tak tahu namanya itu hidup hingga dewasa dan penuh bahagia.
=====
Saat itu, keesokan hari setelah aku meraung sebab tau ibu masih hidup. Seperti biasa dengan menunggangi motor yang serupa bodi motor Pedrosa, aku segera masuk menuju meja operator. Aku hanya menjatuhkan beberapa lembar uang untuk menyewa selama 10 jam di bilik nomor 9, tanpa mengatakan sepatah kata, karena Tian pasti sudah tahu tujuanku. Ketika aku nyelonong menuju bilikku. Tian tiba-tiba menyindirku, “Tapi jangan dipakai buat nangis ya, Mat.”
Mendengar itu, tuas emosiku terpompa. Seketika aku balik badan dengan tangan yang sudah mengepal. Sekelebat muncul bayangan ibu beserta keluarga barunya yang nampak bahagia. Seketika, aku melesatkan bogem ke muka Tian. Namun, ia mampu menahannya. Tiba-tiba dari arah belakang tubuhku dicengkram oleh dua orang.
“Nah, udah kita pegangin bocah sok jagoan ini,” teriak salah satu dari mereka dengan mulut berbau naga. Itulah mereka abang-abangan yang suka menjual ciu bekonang. Sialan, aku dijebak ternyata.
“Sikat sekarang, Tian,” seloroh dari yang satunya.
Aku berusaha untuk melepaskan diri. Namun apa daya. Tubuh dan tenaga mereka yang serupa kuli bangunan terlalu besar. Tubuhku telah terkunci. Mau tidak mau, aku harus siap menerima tubuhku dijadikan samsak oleh Tian yang dari sorot mata dan seringainya tampak sudah siap meluapkan dendamnya. Dan, itulah yang terjadi.
“Bugh.. Bugh.. Bugh.”
Suara tangannya yang berkulit kasar dengan tulang menonjol menghantam wajahku yang berjerawat di sana sini. Jerawat tak sengaja pecah saja terasa sakit. Apalagi dengan hantaman brutal seperti itu. Rasanya luar biasa.
“Gimana pukulanku, Lumat?” pekik Tian diiringi gemuruh sorakan dari anak-anak warnet lain yang menikmati pengeroyokan ini. Aku hanya bertanya dalam hati, “Apakah setelah semua traktiran yang aku berikan pada mereka, aku layak mendapatkan perlakuan seperti ini? Apakah tidak ada satupun dari mereka yang hendak menolongku sekedar untuk membalas sedikit dari kebaikanku padanya?”
Aku mampu merasakan, nanah dan darah itu menyembur dari gumpalan-gumpalan perias wajahku. Pandanganku mulai menguning. Duniaku terasa berputar dan bergoyang. Tubuhku perlahan lemas. Seakan ada yang menyerap energiku.
“Hei Lumat, ayo menangis yang keras. Tutup wajahmu yang jelek itu dengan kaos.” timpal Tian sembari melesakan kepal tangannya ke wajahku.
Sialan, aku ingin sekali membalasnya. Tetapi, tidak bisa. Emosiku entah pergi ke mana. Aku curiga, Tian ini membayar seorang dukun santet. Mataku mulai merem melek. Bukan karena aku merasakan kenikmatan. Namun, aku merasa kesulitan untuk bernapas. Tubuhku seperti kehilangan penopang. Kakiku gemetaran seperti pilar yang terkena gempa. Tubuh ini kehilangan keseimbangan. Mataku gelap total, persis seperti tertutup tirai sirkus. Suara sorakan penghinaan, “Payah, lemah, cengeng.” perlahan menjauh hingga yang aku dengar hanya denging serupa nyamuk. Aku mampu merasakan tubuh ini ambruk. Dan, aku jatuh pingsan.
=====