Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #7

BAB 7

“Dok! Dok! Dok!”

Suara ketukan itu begitu mengagetkanku yang sedang berusaha untuk tidur di siang hari. Aku sangat keletihan sekali siang hari itu. Sebelum aku buka pintu dan mempersilahkan pelakunya menyampaikan maksud kedatangan. Aku mengintip dulu melalui jendela yang tepiannya kotor. Walaupun tak terlihat jelas. Namun, setidaknya aku bisa mengira-ngira siapa orang di luar sana.

Betapa kagetnya aku, yang terlihat adalah Mahmud yang mengenakan batik tradisional, lengkap dengan sarung bermotif senada dan peci hitamnya. Aku tak percaya ia orangnya. Tiga kali aku mengusap-ngusap jendela kotor itu untuk memastikannya. Namun, mataku melihat orang yang sama.

“Mau apa dia ke sini?” Begitulah tanya otakku. Apakah dia rindu kenangan pada masa kecil? Atau apakah mendiang Budi Suap mengunjunginya lalu memaksanya untuk meminta maaf padaku? Entahlah. Namun yang jelas, aku sangat bahagia dengan kedatangannya. Aku tak bisa berdusta, aku pun rindu. Barangkali akan sulit untuk mengulang kisah pada masa lalu itu. Tetapi, tidak begitu sulit untuk memutar kaset memori tersebut. 

Bergegas aku buka pintu itu bersama dengan senyum hangat merekah spesial untuk sahabat kecilku.

Ketika Mahmud melihatku muncul di balik pintu. Bukan senyum balasan yang diberikan. Melainkan, muka marah yang sangat tidak aku harapkan. Dan, ia pun langsung mendorong aku masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke sana ke mari. Lalu menarik parang yang ternyata bersembunyi di balik sarung dan batiknya. 

“Lumat, jangan kamu kira aku gak tahu ya dari mana kamu bisa membiayai pengobatan ayahmu!” seru Ceng Mahmud sembari mengarahkan parang berkilauan yang sudah tak berbusana tepat ke bawah daguku. 

Mendengar itu sejenak aku gelagapan. Pikirku, dari mana orang ini tahu. Belum tuntas aku berpikir. Mahmud langsung menghujaniku dengan kalimat-kalimat yang membuat bulu kuduku berdiri. 

“Aku tak segan untuk melaporkanmu ke polisi.”

“Hei, maksudmu apa?” timpalku dengan sedikit menarik emosi. 

“Alah Lumat, belagak bodoh kamu ini.” ucapnya dengan bersungut-sungut sembari ia melangkahkan kaki menuju komputerku. Tak lupa parang itu dimasukkan lagi ke sangkarnya.

Melihat itu, pikiranku langsung goncang, “Sialan, apa yang akan Mahmud lakukan? Memangnya dia mampu mengoperasikan komputer? Nanti ketika mendengar deru komputerku ia malah lari dan merapalkan mantra pengusir setan.”

Pikiran itu sejenak mampu menurunkan tensi ketegangan dalam batinku.

Mahmud duduk di kursi biasa aku tempati. Dilihatnya ke kolong meja itu. Dan, ia meludah tak tahu diri. Sialan! Benar-benar bocah ini sudah serupa bapaknya. Tak perlu lagi tes DNA. 

Lalu, Mahmud bangkit dari kursi ke tepian meja. Selanjutnya, ia menarik tisu yang bertengger di tepi meja untuk mengusap kakinya. Jujur saja aku bingung ada apa dengan dia. Aku perlahan menghampirinya. Dan, aku paham mengapa ia bertingkah seperti itu.

“Astaghfirullah Lumat, kamu ini sudah jadi admin judol. Ternyata doyan ngocok.”

Mendengar itu aku seketika malu. Ucapan itu berhasil membuatku terdiam. Walaupun rasa emosi di dalam diri mulai memercikan apinya.

“Jijik banget, nginjek mani orang yang berlumur dosa,” ucap Mahmud yang asyik mengelapi cairan kenikmatan yang ternyata berceceran ke bawah meja. 

Mendengar itu, api yang tadi hanya percikan berubah menjadi kobaran. Aku langsung emosi. Karena, seolah aku ini adalah seorang pendosa ulung. Namun, aku masih sekuat tenaga menahan diri. Aku lebih berhati-hati akibat kejadian dengan Tian tempo waktu lalu. 

Aku mengakui, profesi yang aku kerjakan ini memanglah perbuatan dosa. Entah, sudah berapa banyak kehidupan orang hancur akibat dari judi. Namun, aku tak memiliki pilihan lain. Aku rasa jika manusia sok suci ini ada di posisi yang sama dengan aku. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Mencari solusi, meskipun melalui jalan dosa. 

Lagipula, Mahmud ini seolah tak pernah berbuat dosa. Toh waktu dulu, seperti yang aku ceritakan sebelumnya dia adalah pecandu masturbasi. Cuih! Sok-sokan merasa suci. Jika ada yang sudi menjadi biniku pun pasti kejadian dia yang menginjak mani itu tidak akan terjadi. Masalahnya tidak ada. Tidak ada juga yang menjodohkanku. Ayahku tak memiliki kemampuan mak comblang seperti ayah Mahmud yang seorang kiai kesohor. Sekalipun, ayahku mampu menjodohkanku. Paling-paling ia menjodohkan aku dengan sundal di kampung ia biasa bermaksiat. Atau, ia memintaku meniru caranya menikahi ibu, “Hamili perempuan yang kamu suka, maka ia akan menjadi milikmu.” 

Menyebalkan, sungguh sangat menyebalkan ketika aku membayangkan ayah berbicara seperti itu langsung padaku.

=====

“Lumat, kau harus tahu yang kamu lakukan itu sangat merugikan orang lain,” Mahmud mulai berkelakar setelah selesai mengelap-ngelap kakinya yang biasanya suci dengan air wudhu.

“Emang aku ini melakukan apa sih? Perasaan aku tidak melakukan apa-apa,” aku mencoba mengelak, karena Mahmud juga tak datang dengan barang bukti.

“Masih saja berkilah. Cepat masukkan kata sandi komputermu ini!” seru Mahmud padaku.

Aku bingung sekali. Kalau aku mengikuti keinginannya. Maka, otomatis ia akan mengetahui semua kegiatanku. Namun, aku bingung bagaimana cara menolaknya. Teramat tidak mungkin aku berkata padanya lupa kata sandi. Jika itu yang aku lakukan, pasti manusia satu ini akan melakukan tindakan selanjutnya. Boleh jadi segera menebas leherku dengan parang yang ia bawa.

“Duh cepatlah! Aku sesaat lagi ada jadwal ceramah.” paksanya sembari mendorong tubuhku ke arah meja kerjaku.

Lihat selengkapnya