Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #8

BAB 8

Siang hari ini aku memantapkan diri untuk pergi ke rumah ibu. Dengan hoodie hitam dan masker, aku mengendarai sepeda motor yang bodinya serupa motor Pedrosa. Walaupun saat ini kondisi motor ini lumayan memprihatinkan. Rem, aki, karbu. Ah, sudahlah. Aku teramat malas untuk memperbaiki motor ini. Biarlah apa adanya. Aku mengendarai dengan pikiran berkecamuk. Emosi yang aku gendong teramat sangat berapi-api. Tak jarang aku memaki pengendara lain. Angkutan kota yang tiba-tiba mengambil jalur kiri tanpa sen. Ibu-ibu yang ada di jalur kanan namun dengan kecepatan serupa siput. 

Aku ingin menghabisi ibu. Sebilah pisau yang menjadi kawannya selama berjualan pempek beberapa tahun lalu aku kantongi. Sebenarnya, pisau itu sudah teramat mintul dan karatan. Karena, semenjak ibu pergi tak ada yang memakainya. Namun, kemarin aku menyempatkan diri pergi ke tempat reparasi pisau keliling yang selalu mangkal di sekitar lapangan. Bapak itu menyarankan aku untuk mengganti dengan pisau baru. Karena, biaya pembersihan dan penajaman pisau itu seharga pisau baru yang didagangkannya. 

Namun, aku dengan tegas menolak. Aku ingin pisau itu kembali tajam. Titik.

Rumah ibu berada di kota. Jaraknya lumayan jauh. Tetapi, karena kesemprulanku dalam mengendarai motor. Aku dapat tiba dengan cepat. Di hadapanku terbentang rumah milik ibu dan keluarga kecilnya. Memiliki pagar besi yang jarak antarpilarnya berdekatan, serta berukuran sedang. Aku kira cukup ampuh untuk menghalau maling yang hendak menerobos. Mengintip lurus ke dalam dapat aku lihat pintu rumahnya beserta tembok yang menjadi latar foto keluarga yang aku lihat di akun sosmed ibu. 

Terlintas senyuman ibu bersama keluarganya. Begitu bahagia dan hangat, sekalipun ibu hanyalah istri gelap yang dinikahi secara siri. Aku sangat iri. Air mataku tempias perlahan. Pikiranku berkelindan di antara kalimat berawalkan seandainya dan coba saja. Seaindanya, ayah tidak dipecat dari pekerjaannya. Coba saja, ayah tidak bertindak bodoh dengan membunuh Azka. Seandainya, ibu tidak nekad untuk sudi dihamili ayah. Coba saja, ibu tetap bersamaku merawat ayah. Memang pahit, setidaknya pahit itu tidak akan terlalu getir karena aku tidak menghadapi sendiri. Seandainya, aku berani melawan ayah agar tidak semena-mena pada keluarganya. Coba saja, aku tidak lahir di keluarga sialan ini.

Aku merindukan momen kebersamaan yang hangat. Sekalipun momennya sesederhana perayaan ulang tahunku beberapa saat sebelum Azka dibunuh oleh ayah. Momen tiup lilin itu secercah kenikmatan Surga dari Tuhan yang ingin aku abadikan. Tetapi, sama sekali tak bisa. Sekalipun tidak bisa. Coba saja bisa diulang. Aku rela menukar diriku sendiri demi merasakan kehangatan itu selamanya.

Namun, semua bentuk penolakan pada takdir itu berhenti tepat ketika ibu membuka pintu rumahnya. Dan, segera menghampiriku. Ibu mengira aku tamu. Dibukanya gerbang itu. Ibu mengucapkan suatu kata, namun aku tak mampu menangkap suaranya.

Aku fokus menatap perempuan yang ada di depanku ini rekat-rekat. Ibu nampak begitu cantik sekalipun sudah semakin menua. Daster hijau dengan motif bunga membungkus tubuh ibu yang terlihat subur. Aku mampu pastikan, saat ini nafsu makan ibu sudah kembali. Lenyap juga tampang serupa orang gila yang dulu selalu merias wajahnya, sesaat setelah perginya Azka. Kini, ibu sudah mampu bersolek lagi. Kegemaran ibu yang hilang ketika ayah telah dipecat dari pabrik. Ingin sekali aku mendekap ibu. Melepaskan kerinduan seorang anak pada ibu kandungnya. 

Fokusku buyar ketika ibu mengatakan, “Mas, jika hendak bertemu mas Aji tunggu saja di dalam. Bentar lagi mas Aji pulang.”

Aji. Aji Sambat Menungso. Itulah nama suami ibu. Memang hari sudah beranjak sore. Sudah sepatutnya pegawai kantoran pulang.

Mendengar perintah ibu, aku pun masuk sembari mendorong motorku. Ibu tak mengenal anaknya ini, mungkin karena aku mengenakan masker. Dan, sudah begitu lama juga kita tak bersua. Sesaat setelah menurunkan standar, ibu melempar tanya padaku, hendak minum apa. Namun, aku tak menjawabnya. Entah mengapa aku membisu. Kemudian, ibu menawarkan secangkir kopi hitam. Dan, aku hanya menganggukan kepala. Ibu pun dengan garis senyumnya mempersilakanku duduk di kursi plastik yang ada di pekarangan rumahnya. Dan, ia pun pergi ke dalam.

Sayup-sayup aku mendengar suara rengekan bayi. Itulah anaknya ibu. Adik tiriku. Mendengar itu aku teringat dengan Azka. Rengekan itu perlahan berubah menjadi jeritan. Persis ketika beberapa saat sebelum Azka terbunuh malam itu. Semakin lama aku terhanyut dalam kenangan buruk ketika ayah menghantam kepala Azka dengan botol minumannya secara brutal. Menghadirkan lagi di kepala tujuanku datang ke rumah ini. Ya, aku harus menghabisi ibu. 

“Mas, ini kopinya,” ucap ibu memecah lamunanku. “Bentar ya mas, saya mau ke kamar dulu. Anak saya menangis. Mas Aji bentar lagi pulang kok,” tambahnya yang aku balas lagi-lagi dengan anggukan. 

Melihat ibu yang melesat masuk ke dalam rumah. Pikiranku berkata inilah saatnya menuntaskan dendam kesumat yang menggentayangi diriku selama ini. Ibu harus merasakan penderitaan. Spontan aku berdiri dan melangkah perlahan ke dalam rumahnya. 

Aku pandangi perabotan di dalam rumah ini. Semuanya tertata rapi dan tampak pas. Menatap lurus. Terdapat karpet menghampar dengan pengeras suara di tepiannya. Menghimpit sebuah meja panjang putih berlaci yang di atasnya berdiri gagah tv berukuran lebar. Di karpet yang menghampar itu, ada bantal-bantal kecil yang sudah pasti menjadi tempat kumpul keluarga sederhana itu. 

Bayangan ketika aku, ibu dan ayah menyaksikan sinetron sembari asik memakan potongan martabak coklat hadir seketika. Gelak tawa, aku yang mengantuk lalu tertidur, dibopong ke kamar dan diucapkan selamat tidur oleh mereka berdua. Tergambar dengan jelas. Di sampingku berdiri, di belakang jendela yang bersebelahan dengan pekarangan tempatku tadi duduk. Terdapat sofa coklat muda dengan meja kaca kecil di tengahnya. Figura-figura berisi foto keluarga berjejer di dinding dengan penuh kecongkakan padaku. Membuat emosiku semakin membara.

Segera aku melangkahkan kaki, tiba-tiba aku terkaget. Ibu yang yang muncul dari kamarnya di sisi kiri terkaget. Ibu muncul sembari membopong anaknya. Ibu kini menatapku penuh ketakutan. Belum sempat ibu melakukan suatu tindakan. Aku sudah menyekap mulutnya dengan tanganku. Ibu berusaha memberontak. Namun, aku lebih kuat tenaganya. Ibu aku dorong ke tembok yang menjadi penghubung dengan kamarnya. Tanganku mencekik lehernya. Bayi yang perlahan tertidur itu masih digendong ibu dengan kuat. 

Ketika aku sedang merogoh kantongku untuk mengambil pisau untuk segera menebas lehernya. Dalam kondisi kalut, seakan ibu tahu nasib yang akan menerpanya. Meminta izin padaku untuk menyimpan dulu anaknya di kamar. Aku pun mengizinkan namun dengan satu tanganku melingkar lehernya. Dan, satu tangan lagi menggenggam bilah pisau di depan lehernya. Jaga-jaga jika dia melakukan suatu tindakan, aku dapat dengan segera menyerangnya.

Namun, ibu tidak melakukan tindakan apapun. Ia menaruh adik tiriku di kasur. Lalu, berjalan ke luar kamar dan duduk di karpet depan tv. Aku melihat ia yang tadi kalut. Saat ini, ia mampu lebih mengontrol diri. Aku bingung kok bisa ia begitu tenang. 

“Lumat, jika kamu mau membunuh ibu silahkan. Ibu tidak akan melawan.”

Betapa terkejutnya aku ketika ibu tahu, bahwa lelaki yang menodongnya ini adalah anaknya. Padahal, aku sudah mengenakan hoodie dan masker. Karena tertangkap basah, pikiranku menjadi tak karuan. Seketika aku menyadari ibu mengetahui itu aku karena pisau yang aku gunakan. Aku menarik dua tanganku. Menggeletakkan pisauku. Lalu, membuka masker dan hoodie yang menutupi kepalaku. 

Kami berdua saling menatap. Ibu meneteskan air mata. Entah air mata rindu, entah air mata kaget karena selama ini persembunyian tersingkap jua. Aku sebetulnya ingin menangis. Namun, aku berusaha tegar. Jika aku menangis, misiku akan berantakan. Seutuhnya.

“Kamu kini sudah besar, Lumat,” ucap ibu memecah kebisuan di antara kami.

Mendengar itu, hatiku seakan meradang. “Ibu ke mana saja? Mengapa ibu pergi meninggalkanku untuk mengurus ayah sendirian? Ibu tidak pamit juga padaku, hanya meninggalkan selembar surat,” cercaku pada ibu.

Mendengar apa yang aku ucapkan, ibu hanya terdiam. Menundu dan menangis. Aku harus melawan diri agar tak hanyut dalam empati. “Aku sangat benci ibu. Aku tak pernah menyangka memiliki ibu yang tega meninggalkan anaknya bersusah payah mengurus ayahnya sendiri,” lanjutku yang membuat ibu semakin mengeraskan suara tangisannya. 

“Apa gunanya menangis bu?” tanyaku dengan keras. “Tak ada!” bentakku sembari menjenggut rambutnya dengan kasar. Entah setan mana yang merasukiku untuk melakukan hal itu.

Ibu hanya mengaduh kesakitan. Sebelum kemudian membuka mulutnya, “Lumat dengarkan ibu.”

“Ibu tahu ibu salah meninggalkan kamu,” tambah ibu.

“Tapi, ibu sudah tak tahan dengan perbuatan ayahmu,” teriak ibu.

“Ayahmu itu tak hanya memiliki satu anak. Ia memiliki anak lain di tempat ia biasa mabuk dan berjudi. Belum dengan selingkuhannya yang ada di mana-mana,” tegasnya.

Mendengar itu aku hanya mampu mengernyitkan dahi. Andai yang diucapkan ibu benar. Keluargaku ini benar-benar bermasalah. Aku harus segera menuntaskan ini semua.

Aku mengambil bilah pisau di sampingku. Ibu aku jatuhkan paksa dengan posisi aku mengunci di atasnya. Pisau itu menempel di lehernya. “Ibu dan ayah sama jahatnya.”

“Ibu..” ucapku datar dengan tatapan tajam padanya yang nampak sedang menghitung waktu, karena sesaat lagi akan meninggal dunia menyusul Azka.

“Mengapa ibu sungkan untuk menggugurkanku ketika masih jabang bayi?” mendengar itu ibu nampak syok seperti tersamber petir. Ketika ia hendak mengucapkan sesuatu. Aku semakin menekan lenganku ke arah lehernya yang membuatnya kian sesak dan urung berkata-kata.

“Dengan ibu menggugurkanku. Aku akan terselamatkan dari takdir nista ini.”

“Ibu tau ayah masih hidup? Lumat berhasil merawat ayah sepeninggal ibu. Ibu tau duitnya dari mana?”

Ibu hanya menggelengkan kepala dengan mata membelalak. Melihat ibu yang terengah-engah itu tak membuatku merasa kasihan sama sekali. 

“Aku jadi admin judol bu. Aku jadi peretas.”

“Dalam rangka berbakti pada ayah, sesuai isi surat yang ibu berikan. Aku harus melawan hukum. Aku harus siap jika sewaktu-waktu masuk bui,” ucapku berapi-api ditutup dengan tawa yang penuh pendurhakaan.

“Hidupku menderita. Tiap hari aku harus berlari dari satu ketakutan menuju ketakutan lain. Berlari dari satu kenangan buruk menuju kenangan buruk lainnya,” nada tinggi itu menggelegar melingkupi ruangan.

“Ibu, aku tak pernah merasa bahagia,” kini suaraku perlahan menurun. Aku gagal mempertahankan ketegaranku. Aku perlahan menangis. Air mata itu berjatuhan ke wajah ibu yang sedang sesak napas. “Aku iri pada ibu yang mampu tersenyum bersama keluarga baru ibu.”

“Sekalipun ibu hanya seorang istri siri,” tambahku yang perlahan mengenderukan tekanan ke leher ibu. Sehingga, ibu mampu mengontrol napas dan pita suaranya. Aku terus merengek. Aku tak dapat mengendalikan rasa yang membuncah dalam diriku.

“Ibu minta maaf, Lumat. Maaf ibu egois. Maaf ibu mengutamakan diri sendiri,” ucap ibu dengan suara yang gemetar.

“Memang maaf tidak mampu mengubah apapun. Tetapi, hanya itu yang ibu bisa lakukan,” aku mendengarkan ucapan ibu dengan memejamkan mata. Aku tak sanggup kontak mata dengan ibu. Keberanianku sudah lenyap.

“Lumat, lihat ibu. Jika kamu mau membunuh ibu silahkan. Selama itu sanggup untuk menebus kesalahan ibu selama ini,” mendengar ucapan ibu, aku terhenyak. “Ibu tak akan melawan,” tambah ibu yang kian membuatku terhenyak.

Aku berusaha memerintahkan pikiranku untuk berkelana menuju kenangan buruk yang mampu membangkitkan emosi dan amarah. Namun, ternyata tetap tak bisa. Sangat aneh. Padahal biasanya, hanya dengan mengingat sekelibat saja. Emosiku akan langsung tersulut dengan cepat. Aku teramat kecewa dengan diriku. Mengapa di saat yang diperlukan, emosi itu lenyap begitu saja.

Padahal, beberapa menit sebelumnya. Api emosi begitu gagah menguasai tubuhku. Ke mana perginya emosi itu? Alah, setan. Tubuhku malah kian melemah. 

Namun, aku melawan diriku sendiri. Aku angkat bilah pisau itu. Aku tatap wajah ibu mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali. Segera aku lesatkan pisau itu. Jantung ibu berdegup kencang, bersamaan dengan kulit-kulitnya yang menegang seketika.

Sleb! pisau menghujam dengan cepat. Namun, bukan ke leher ibu yang nampak guratan merah akibat cekikanku sebelumnya. Melainkan menyobek bantal merah muda yang ada di sebelahnya. Kini tubuhku melemah. Aku memejamkan mata. Aku kecewa sekali mengapa aku tak sanggup menuntaskan dendam pada ibu.

“Ibu tak menyangka, pisau pempek itu masih kamu rawat,” buka ibu seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Ibu lebih tak menyangka. Ternyata kamu merawat pisau itu hanya untuk membunuh ibu.”

Lihat selengkapnya