Mobil dinas Toyota Hilux Double Cabin yang kutumpangi berhenti dengan hentakan pendek. Debu cokelat dari jalan tanah terangkat, melayang sesaat di udara, lalu perlahan turun kembali, menempel di kaca seperti tirai tipis. Dari balik lapisan debu itu, kulihat siluet puluhan orang berdiri di kejauhan. Diam. Rapat. Tak bergerak. Seperti barisan patung Terakota di Cina.
Aku belum sempat membuka pintu ketika teriakan pertama menyeruak di udara. Suaranya serak. Galak. Terdengar jelas meski di kejauhan.
“Jangan masuk! Jangan injak tanah kami!”
Suara itu datang dari seorang perempuan berkerudung lusuh. Wajahnya tirus, matanya merah, entah karena marah atau karena kurang tidur. Tangannya terangkat setengah, telapak tangan menghadap ke depan, seolah sedang menahan sesuatu yang tak terlihat.
Aku membuka pintu.
Begitu kakiku menginjak tanah, bau solar segera menyergap, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk. Udara terasa lembap dan menekan, sementara matahari sedang terik-teriknya di atas ubun-ubun. Desa Cibening bak dikurung di bawah kubah kaca raksasa yang memerangkap panas dan kegelisahan di dalamnya.
Di hadapanku, tak kurang dari delapan puluh warga berdiri dalam formasi yang tak benar-benar rapi, namun cukup untuk menyampaikan satu hal: mereka tidak akan mundur.
Spanduk kain bekas terbentang di beberapa titik. Tulisannya besar-besar dengann cat berwarna merah, ditulis menggunakan koas, bukan pilox. Miring, memudar, namun pesannya tetap jelas.
Tanah ini warisan anak cucu kami!
Jangan tukar nyawa kami dengan tambang!
Sebagian dari mereka menggenggam botol air kosong. Memukul-mukulkan botol itu ke tanah, seperti orang sedang menonton tim sepak bola kesayangan bertanding. Berisik.
Namun aku bersyukur. Sejauh pengamatan singkatku, tak kulihat senjata tajam satu pun. Tak kulihat golok, parang, atau balok kayu yang siap digunakan untuk menyerang. Mereka hanya datang dengan tangan-tangan kosong yang dipenuhi tekad dan amarah.
Di belakang barisan warga itu, Bukit Tunggul berdiri menjulang. Warnanya hijau tua, dipenuhi pohon besar dengan batang-batang yang tertutup lumut. Kabut tipis menggantung di puncaknya, membuat bukit itu tampak seperti makhluk raksasa yang sedang bernapas pelan.
Dan tepat di kaki-kakinya, lima alat berat berderet rapi. Kuning terang. Catnya masih mengilap. Tulisan CAT dengan segitiga kuning di bawah huruf A-nya terlihat mencolok. Mesin-mesin mahal itu berdiri bak makhluk asing yang tersesat di tanah yang bukan miliknya.
Sebuah kontras yang menyakitkan.
Sungai Cibening mengalir deras di sisi kiri lokasi massa berkumpul. Lebar sungainya sendiri sekitar enam meter. Mungkin lebih. Namun hanya sepertiga badannya saja yang dialiri air. Menyisakan area tanah kering bebatuan di kiri dan kanannya.
Di tahun ini, kemarau memang sangat betah bercokol. Sudah beberapa bulan tak turun hujan. Mungkin karena itu pula yang membuat sungai itu berair bening, sebening namanya.
Jika musim penghujan tiba, air di sungai itu meluap. Mengalir penuh di seluruh badan sungai. Bahkan meluber hingga ke tepiannya. Alirannya deras berwana coklat pekat.
Aku melangkah maju, sambil tetap berusaha tidak menunjukkan gesture tubuh yang bisa dimaknai salah oleh mereka. Aku sadar betul, dalam kondisi seperti ini orang-orang akan mudah sekali dipengaruhi oleh emosi kolektif.
“Pak Kapten…”
Seorang pria paruh baya keluar dari barisan warga. Ia merangsek maju, begitu melihat aku mendekat. Tubuhnya kurus, bahunya agak bungkuk. Ia mengenakan kemeja batik yang warnanya sudah memudar. Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada yang penuh bercak hitam bekas kerja keras di ladang.
“Nama saya Jaya,” katanya. Suaranya serak, tetapi terkontrol.
“Kami sudah ke mana-mana. Tidak ada yang mau mendengar. Tolong, Pak… jangan hari ini,” kata-katanya baku, tapi logatnya sangat Sunda.
Kulepas kacamata hitamku. Kutatap wajah pria itu. Garis-garis keriput di sekitar matanya bukan karena usia, melainkan garis yang muncul karena kelelahan panjang. Mata itu tidak menunjukkan mata orang yang marah, melainkan mata orang yang sudah kehabisan pilihan.
“Saya di sini untuk menjaga agar situasi kondusif. Agar tidak terjadi kekerasan,” kataku.
Pak Jaya tersenyum tipis. Senyum getir.
“Justru itu yang kami takutkan. Kalau alat itu terus bergerak…” ia menunjuk alat-alat berat yang siap menggerus tanah kapanpun.
“Anak-anak kami pasti maju. Kami tidak bisa menahan mereka lagi,” ujarnya.
Di belakangku, Letnan Fikri, ajudan yang selalu menemaniku sejak aku mutasi ke Cibara, berdiri kaku. Keringat menetes di pelipisnya, membasahi garis rambut.