Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #2

Hukdis

Keesokan paginya, ketika aku sedang menyantap roti isi telur orak-arik buatan istriku, sebuah pesan singkat masuk ke HP-ku.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada kata darurat. Hanya satu kalimat pendek dari satu nomor yang sudah kuhafal di luar kepala.

Kapten Arief Pratama, menghadap ke Markas Komando pukul 09.00 WIB.

Kubaca pesan itu dua kali. Lalu kuletakkan HP di meja.

Aku tidak langsung bergerak. Kutatap dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas di sudut. Jam dinding berdetak pelan.

Anak pertamaku, Raka, sudah berangkat sekolah. Anak keduaku, Syilla, yang baru empat tahun, sedang rebahan di sofa menonton kartun. Di dapur, istriku menggoreng telur untuk sarapan Syilla. Suara minyak berdesis seperti hujan kecil.

Aku tahu hal ini akan datang. Namun tidak pernah mengira waktunya akan secepat ini. Dan, ketika saatnya benar-benar tiba, tetap saja terasa beda di hatiku.

Di perjalanan menuju markas, aku menyetir lebih pelan dari biasanya. Pikiranku bergerak lebih cepat, mendahului takdir yang akan segera kuhadapi di Markas Komando nanti. Otakku menerka-nerka hukuman apa yang akan kuterima. Teguran lisan kah? Pencopotan dari jabatan kah? Atau pemberhentian secara tidak hormat?

Yang jelas, apa pun itu, harus kuterima dengan jiwa besar. Begitulah hidup di dalam garis komando. Hanya ada satu kata: Siap, laksanakan.

Aku melihat bayanganku sendiri di kaca spion. Seragam rapi. Rambut disisir ke belakang. Wajah tenang. Meski tahu hidupku sedang berada di ujung tanduk.

Markas Komando berdiri gagah meski nampak usang. Bangunan hijau tua berpadu hijau muda itu catnya kusam dimakan usia. Halamannya luas. Bendera merah putih berkibar di tiang tinggi.

Tidak ada yang berubah.

Yang berubah hanya perasaanku saat melangkah masuk.

Di pos jaga, prajurit yang bertugas memberi hormat.

“Pagi, Pak.”

“Pagi,” jawabku singkat.

Suara sepatuku menggema di lorong panjang. Bau karbol bercampur kertas tua sangat terasa di sepanjang lorong itu. Di dinding masih tergantung foto-foto kegiatan lama. Apel pasukan, upacara kenaikan pangkat, kunjungan pejabat, dan beberapa foto lainnya.

Aku berhenti sebentar di depan salah satu foto.

Foto apel pasukan di daerah konflik, saat aku ditunjuk menjadi komandan lapangan. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri di foto itu.

Dalam foto itu aku berdiri di depan barisan prajurit, memegang mikrofon, wajah tegas, tubuh tegap. Aku sedang memberi pengarahan terakhir sebelum operasi penyisiran. Satu momen yang kemudian menjadi titik penting dalam karierku. Pertama kalinya aku memimpin ratusan prajurit di medan nyata. Sejak saat itu namaku mulai disebut-sebut sebagai perwira yang tegas dan selalu berhasil dalam berbagai tugas operasi.

Ruang tunggu di depan kantor komandan sepi. Hanya ada dua kursi plastik dan meja kecil dengan beberapa majalah lama.

Aku duduk. Menunggu.

Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada yang menyapaku. Tidak ada yang menanyakan kabar. Aku duduk saja seperti tamu di rumahku sendiri.

Akhirnya pintu terbuka.

“Kapten Arief, silakan masuk.”

Aku berdiri. Merapikan sedikit kerah seragamku. Lalu melangkah.

Ruangan itu lebih dingin dari lorong. AC menyala terlalu kuat.

Di balik meja besar duduk Kolonel Ruslan, atasanku langsung. Kulitnya gelap. Wajahnya datar seperti biasa. Rahangnya tegas, nyaris kaku, seolah jarang dipakai tersenyum. Kumisnya tipis dan lurus seperti garis yang ditarik penggaris. Rambutnya lebih banyak uban daripada hitam, tapi disisir rapi ke samping, tidak satu helai pun berani keluar barisan.

Di atas meja terletak sebuah map cokelat tebal. Tertutup rapi.

Di sudut ruangan berdiri seorang perwira staf yang tidak kukenal. Ia diam saja, mencatat sesuatu di buku kecil.

“Duduk,” kata Kolonel Ruslan.

Aku duduk.

Punggungku tegak. Tanganku di atas paha.

Tidak ada basa-basi.

Kolonel membuka map itu. Mengeluarkan selembar surat. Lalu membacanya dengan suara formal.

“Berdasarkan hasil evaluasi komando dan laporan kegiatan lapangan di Desa Cibening, Kabupaten Cibara, maka dengan ini diputuskan bahwa Kapten Arief Pratama dipindahkan dari jabatan Komandan Lapangan ke posisi Staf Administrasi di Markas Wilayah Barat, Korem Wirasena.”

Ia berhenti sebentar.

Lihat selengkapnya