Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #3

Hukdis

Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan berat di kepala. Aku tidak benar-benar tidur malam tadi. Setiap kali mataku terpejam, suara itu kembali. Mengisi ruang-ruang di kepalaku.

“Kalau bukitnya digali, hutan jadi tambang, kami tinggal di mana?”

Suara anak kecil itu. Jernih. Lurus. Tidak menuduh, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.

Dan aku spontan membuka mata. Langit-langit kamar gelap. AC di atas jendela sudah disetting di angka 25, seperti biasanya. Tapi aku masih merasakan keringat keluar dari tubuhku. Di sampingku, Rani tertidur miring membelakangiku. Napasnya teratur. Tenang. Berbanding terbalik dengan pikiranku yang masih terjebak di Cibening.

Aku menoleh ke arah jendela. Tidak ada cahaya. Masih terlalu jauh menuju pagi. Waktu-waktu kosong, ketika semua orang seharusnya terlelap, tapi pikiranku justru bising.

Kutatap seragam hijauku yang menggantung di balik pintu kamar.

Aku bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Telapak kakiku menyentuh lantai yang dingin. Setelah beberapa saat aku hanya diam, menatap kosong ke depan, lalu kurebahkan lagi tubuhku, mencoba terpejam, dan gagal lagi.

“Tugasmu mengamankan proyek tambang, bukan menghambat.”

Kali ini suara atasanku yang kembali muncul di ingatan. Nada suaranya yang meninggi, hingga cara dia menutup panggilan itu, menyadarkanku bahwa hidupku esok mungkin tidak akan sama lagi.

Namun keputusan itu sudah kuambil. Dan setiap resikonya harus kuhadapi.

Aku tengah menyantap roti isi telur orak-arik buatan istriku, ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada kata darurat. Hanya satu kalimat pendek dari satu nomor yang sudah kuhafal di luar kepala.

Kapten Arief Pratama, menghadap ke Markas Komando pukul 09.00 WIB.

Kubaca pesan itu dua kali. Lalu kuletakkan ponsel di meja.

Aku tidak langsung bergerak. Kutatap dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas dan retak retak di beberapa bagian. Jam dinding berdetak pelan. Tatapanku kosong.

Anak pertamaku, Raka, sudah berangkat sekolah. Anak keduaku, Syilla, yang baru empat tahun, sedang rebahan di sofa menonton kartun. Di dapur, istriku menggoreng telur untuk sarapan Syilla. Suara minyak berdesis seperti hujan kecil.

Aku tahu hal ini akan datang. Namun tidak pernah mengira waktunya akan secepat ini. Hanya satu hari berselang. Dan, ketika saatnya benar-benar tiba, tetap saja terasa beda di hatiku.

Di perjalanan menuju markas, aku menyetir lebih pelan dari biasanya. Pikiranku bergerak lebih cepat, mendahului takdir yang akan segera kuhadapi di Markas Komando nanti. Otakku meraba-raba hukuman apa yang akan kuterima. Teguran lisan kah? Pencopotan dari jabatan kah? Atau pemberhentian secara tidak hormat? Atau yang paling buruk, aku dijebloskan ke dalam sel. Meski untuk itu rasa-rasanya kecil kemungkinan. Yang aku lakukan kemarin bukan tindakan kriminal. Hanya berdiri di sisi rakyat dan membela hajat mereka. 

Yang jelas, apa pun itu, harus kuterima dengan jiwa besar. Begitulah hidup di dalam garis komando. Hanya ada satu kata: Siap, laksanakan.

Aku melihat bayanganku sendiri di kaca spion. Seragam rapi. Rambut disisir ke belakang. Wajah tenang. Meski tahu hidupku sedang berada di ujung tanduk.

Markas Komando berdiri gagah meski nampak usang. Bangunan hijau tua berpadu hijau muda itu catnya kusam dimakan usia. Halamannya luas. Bendera merah putih berkibar di tiang tinggi.

Tidak ada yang berubah.

Yang berubah hanya perasaanku saat melangkah masuk.

Di pos jaga, prajurit yang bertugas memberi hormat.

“Pagi, Pak.”

“Pagi,” jawabku singkat.

Suara sepatuku menggema di lorong panjang. Bau karbol bercampur kertas tua sangat terasa di sepanjang lorong itu. Di dinding masih tergantung foto-foto kegiatan lama. Apel pasukan, upacara kenaikan pangkat, kunjungan pejabat, dan beberapa foto lainnya.

Aku berhenti sebentar di depan salah satu foto.

Foto apel pasukan di daerah konflik, saat aku ditunjuk menjadi komandan lapangan. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri di foto itu.

Dalam foto itu aku berdiri di depan barisan prajurit, memegang mikrofon, wajah tegas, tubuh tegap. Aku sedang memberi pengarahan terakhir sebelum operasi penyisiran. Satu momen yang kemudian menjadi titik penting dalam karierku. Pertama kalinya aku memimpin ratusan prajurit di medan nyata. Sejak saat itu namaku mulai disebut-sebut sebagai perwira yang tegas dan selalu berhasil dalam berbagai tugas operasi.

Ruang tunggu di depan kantor komandan sepi. Hanya ada dua kursi plastik dan meja kecil dengan beberapa majalah lama.

Aku duduk. Menunggu.

Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada yang menyapaku. Tidak ada yang menanyakan kabar. Aku duduk saja seperti tamu di rumahku sendiri.

Akhirnya pintu terbuka.

“Kapten Arief, silakan masuk.”

Aku berdiri. Merapikan sedikit kerah seragamku. Lalu melangkah.

Ruangan itu lebih dingin dari lorong. AC menyala terlalu kuat.

Di balik meja besar duduk Kolonel Ruslan, atasanku langsung. Kulitnya gelap. Wajahnya datar seperti biasa. Rahangnya tegas, nyaris kaku, seolah jarang dipakai tersenyum. Kumisnya tipis dan lurus seperti garis yang ditarik penggaris. Rambutnya lebih banyak uban daripada hitam, tapi disisir rapi ke samping, tidak satu helai pun berani keluar barisan.

Di atas meja terletak sebuah map cokelat tebal. Tertutup rapi.

Di sudut ruangan berdiri seorang perwira staf yang tidak kukenal. Ia diam saja, mencatat sesuatu di buku kecil.

“Duduk,” kata Kolonel Ruslan.

Lihat selengkapnya