Selepas zuhur aku sudah sampai di rumah dengan menumpang taksi online. Mobil dinas yang selama beberapa tahun terakhir kupakai harus kutanggalkan di kantor. Aku sempat berpikir untuk naik ojek saja, tapi urung. Satu tas besar berisi buku-buku koleksiku, juga harus ikut pulang.
Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika aku turun dari taksi.
Di dalam rumah, televisi menyala pelan. Acara siang hari. Tidak ada yang benar-benar menontonnya. Hanya Syilla bersama Bi Yanti, pengasuhnya, di ruang TV.
“Ayaaah!” teriak Syilla begitu melihatku. Ia langsung berlari dan menghambur ke pelukanku.
Rani muncul dari dapur dengan celemek masih terikat di pinggang. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi.
“Kok pulang cepat, Mas?”
Aku hanya mengangguk singkat.
“Ada urusan,” ujarku sambil menurunkan Syilla dari pangkuanku.
Biasanya Rani akan bertanya lebih jauh. Tapi kali ini tidak. Dari caraku berdiri di ambang pintu—seragam masih rapi, tapi wajahku kusam—ia tahu ini bukan urusan biasa.
Aku langsung masuk kamar. Melepas seragam. Berganti kaos oblong putih.
Ketika keluar, Rani sudah menyiapkan makan siang di meja.
Kami makan tanpa banyak bicara.
Sayur asem, ikan goreng, sambal terasi dan kerupuk. Menu sederhana yang hampir selalu ada di rumah ini. Aku makan pelan. Terlalu pelan untuk orang yang biasanya menghabiskan sepiring nasi dalam lima menit.
“Mas sakit?” tanya Rani akhirnya.
Aku menggeleng.
“Capek?”
Aku diam sebentar. Lalu menarik napas panjang.
“Aku dipanggil ke markas hari ini.”
Rani berhenti mengunyah.
“Ada… apa?”
Aku menatap piringku.