Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #4

Ruang yang Berdebu

Pagi keesokan harinya, sepeda motorku berhenti di parkiran Korem Wirasena tepat pukul delapan pagi. Kumatikan mesin, kuturunkan standar, lalu turun. Helm kulepas perlahan dan kukaitkan di spion.

Halaman itu luas, tetapi terasa kosong. Beberapa prajurit lalu-lalang tanpa benar-benar memerhatikan kehadiranku. Tidak ada yang menoleh lebih dari sekadar lirikan singkat.

Tidak ada upacara penyambutan. Tidak ada barisan pasukan. Tidak pula ucapan selamat datang.

Dulu aku selalu datang dengan mobil dinas. Sekarang tidak lagi. Kunci motor di tanganku terasa ringan, tetapi entah kenapa justru memberatkan dada.

Aku merapikan topi, membetulkan kerah seragam, lalu melangkah masuk.

Gedung Korem lebih besar dari Kodim, tetapi anehnya terasa lebih dingin. Bukan dingin karena AC, melainkan karena suasananya. Lorong-lorong panjang, dinding hijau pucat, lantai mengilap seperti baru dipel setiap jam. Bau disinfektan bercampur dengan aroma kertas lama menyengat.

Di meja resepsionis, seorang prajurit muda menatapku.

“Selamat pagi, Pak.”

“Selamat pagi. Saya Kapten Arief. Lapor diri.”

Prajurit itu membuka buku tamu, mencatat sesuatu, lalu menunjuk ke arah lorong kanan.

“Ruang Letkol Surya, di lantai dua.”

Aku mengangguk.

Ruang Letkol Surya cukup besar. Dindingnya dihiasi foto-foto kegiatan militer. Apel besar, penyerahan bantuan, kunjungan pejabat.

Di balik meja kayu lebar, duduk seorang pria sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya masih tegap, tetapi perutnya sedikit maju. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Kulit wajahnya gelap terbakar matahari. Seragamnya rapi tanpa cela. Pangkat di pundaknya bersih berkilau.

Aku berdiri tegak.

“Lapor, Kapten Arief Pratama siap bertugas.”

Letkol Surya menatapku sebentar, lalu mengangguk kecil.

“Silakan duduk.”

Nada suaranya tenang. Hampir tanpa emosi.

“Mulai hari ini Anda ditempatkan di Staf Administrasi Wilayah.”

“Siap.”

“Ruang kerja di lantai satu, pojok timur. Nanti Sersan Budi antar.”

Ia menutup map tipis di mejanya.

“Tidak ada arahan khusus. Kerja saja sesuai tugas,” ucapnya, menutup.

Pertemuan itu sangat singkat. Selesai sebelum benar-benar terasa dimulai.

Sersan Budi menungguku di luar. Tubuhnya kurus, bahunya agak turun, wajahnya seperti orang kurang tidur. Seragamnya kusam, tapi rapih. Sepatu botnya mengilap, seperti KTP yang dilaminating.

“Silahkan, Pak,” ucapnya.

Aku balik mempersilakan dia untuk berjalan duluan. Aku membuntut di belakangnya. Kami melewati satu lorong Panjang menuju pintu belakang.

Belakangan aku tahu dari Sersan Budi bahwa gedung ini disebut gedung A. Tempat komandan dan beberapa staf berkantor. Dari gedung A, melalui pintu belakang, kami berjalan menyusuri satu koridor. Di ujung koridor, kami berbelok ke kiri meunju gedung C, Gedung Teritorial.

Tiba di gedung C, aku terus mengikuti Sersan Budi masuk, melewati pintu kayu yang terbuka lebar. Tidak ada petugas piket di situ. Kami langsung berbelok ke kanan, menyusuri sebuah lorong yang di kanan kirinya terdapat ruangan-ruangan kosong.

“Ini ruangannya, Pak,” ucap Sersan Budi, setibanya kami di ujung lorong.

Dia mendorong pintu itu. Pintu terbuka dengan suara berdecit panjang.

Lihat selengkapnya