Minggu pertamaku di Korem Wirasena berjalan nyaris tanpa denyut kehidupan. Tidak ada peristiwa yang bisa kutunjuk sebagai sebuah awal. Tidak ada kejadian besar yang menandai perubahan hidupku. Semua mengalir begitu saja, perlahan, nyaris seperti tidak terjadi apa-apa.
Setiap pagi aku berangkat pukul setengah tujuh. Aku tidak lagi mengecek peta wilayah sebelum keluar rumah. Tidak menerima laporan singkat dari anggota lewat pesan. Tidak ada lagi radio yang menyala di dashboard mobil, dan tidak ada daftar agenda yang harus kuselesaikan hari itu.
Aku hanya mengenakan seragam, mengambil helm, lalu menyalakan motor.
Perjalanan ke Korem memakan waktu dua puluh lima menit. Aku melewati jalan yang sama setiap hari, tetapi kini tanpa rasa terburu-buru. Lampu merah terasa lebih lama. Klakson kendaraan lain terdengar lebih jelas. Beberapa kali aku bahkan lupa membawa kartu identitas. Hal yang dulu hampir tidak pernah terjadi.
Dulu, kendaraanku selalu mendapat tempat di dekat pintu masuk. Kini di halaman Korem, aku memarkir motor di barisan belakang.
Aku masuk melalui koridor samping Gedung A, lalu menyusuri koridor di depan Gedung B hingga mentok. Dari sana aku berbelok ke kiri menuju Gedung C.
Sesekali dari sisi Gedung A aku memilih melintasi area terbuka berlapis paving block. Di sana berdiri tiga pohon trembesi yang tumbuh berjajar, jaraknya hampir sama satu dengan yang lain.
Jika dibuat denah, gedung C itu posisinya berada di pojok. Dan, di dalam gedung yang posisinya di pojok itu, ruanganku berada di ujung sebuah lorong. Jadi kalau digambarkan, ruanganku terletak di pojok, paling pojok. Sebuah area yang mungkin terlupakan oleh orang lain. Ruangan itu selalu terasa seperti ruangan yang belum selesai dibangun. Atau, dibangun tapi dibiarkan terbengkalai. Bau lembap, udara pengap, dan dinding hijau pucat, semuanya bercampur menjadi satu.
Di hari kedua, karena tahu komputer di ruang kerjaku adalah komputer jadul yang tidak menarik untuk digunakan, aku membawa laptop sendiri. Meski begitu, sesaat setelah duduk, aku tetap menyalakan komputer tua itu. Hanya semacam ritual tak tertulis yang harus kupenuhi.
Jam delapan lewat sepuluh menit, Sersan Budi muncul sebentar di ambang pintu.
“Pagi, Pak.”
“Pagi.”
“Kalau ada apa-apa, nanti saya kabari,” ujarnya.
“Siap.”
Pintu tertutup lagi. Klik.
Tidak ada lagi yang datang.
Aku membuka beberapa folder kosong di komputer. Mencoba masuk ke sistem arsip lama. Banyak file tidak bisa dibuka. Beberapa hanya berisi tabel tanpa data.
Di Kodim dulu, satu jam pertama saja sudah penuh kegiatan. Telepon berdering, laporan masuk, anggota keluar-masuk ruangan.
Aku terbiasa mengambil keputusan cepat. Mengirim personel, berkoordinasi dengan kecamatan, menenangkan warga, mengatur patroli.
Di sini, aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana.
Jam sepuluh, aku keluar sebentar ke pantry. Menyeduh kopi hitam. Menyapa Harum dan Rudi sekadarnya. Lalu kembali ke ruanganku.
Aku memilih untuk tidak terlibat obrolan terlalu banyak dengan mereka. Lebih karena aku menghindari bercerita tentang kepindahanku ke sini. Mereka juga tampak agak segan untuk terlibat obrolan panjang denganku, mungkin karena pangkatku lebih tinggi dari mereka.
Aku lebih memilih cepat-cepat kembali ke ruangan. Duduk, menikmati kopi tanpa gula yang rasanya pekat.
Kubuka laptop, lalu kututup lagi.
Tanganku refleks meraih HP dan membuka galeri foto lama: apel pasukan, kegiatan lapangan, foto bersama warga di Cibening.
Aku menggeser layar cepat-cepat, seperti takut untuk melihat terlalu lama.
Siang hari, aku makan sendirian bekalku di ruangan, atau sesekali aku makan di kantin atau di warung nasi di depan Korem. Tidak ada yang mengajakku duduk. Aku juga tidak mengajak siapa pun. Ruang makan besar itu terasa seperti ruang tunggu stasiun. Orang-orang datang, duduk, lalu pergi tanpa obrolan panjang.
Hari berikutnya, pola yang sama terulang.
Tidak ada konflik. Tidak ada perintah. Tidak ada kesibukan. Tidak ada kegiatan penting. Dan justru itulah yang membuatku lelah.
Hari-hariku di sini seolah hanya menunggu waktu pulang.
Pada hari kelima, aku mencoba berinisiatif. Menyusun ulang arsip lama. Mengelompokkan dokumen. Membuat folder baru. Menulis laporan singkat tentang potensi tumpang tindih wilayah administrasi.
Kukirimkan laporan itu ke email Letkol Surya.
Tidak ada balasan.
Dua hari kemudian, laporan itu masih belum dibuka.
Aku mulai menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan daripada hukuman. Yakni, aku tidak dibutuhkan.
Bukan karena tidak mampu. Bukan karena tidak kompeten. Tapi karena sistem memang tidak memerlukan kehadiranku. Aku hadir hanya untuk mengisi ruang kosong. Agar namaku tidak tercatat sebagai masalah. Agar secara administratif aku tetap “ada”.
Suatu sore, saat hendak pulang, aku bertemu seorang mayor di lapangan parkir.
“Kapten Arief, ya?”
“Iya, Pak.”
“Dulu di Kodim Cibara, kan?”