Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #6

Mulai Menulis

Pagi itu aku memasuki ruangan setengah terburu-buru. Bukan karena terlambat, bukan pula karena ada perintah penting mendadak. Melainkan ada sesuatu di dalam kepalaku yang ingin segera kutuntaskan.

Aku hanya menyapa Rudi dan Harum sekadarnya saat berpapasan di lorong.

“Pagi, Pak,” sapa Rudi agak canggung.

Aku membalas dengan anggukan kecil. Senyum tipis. Senyum yang lebih karena refleks daripada respect.

Sesampainya di meja kerjaku yang sempit, aku langsung menaruh tas di lantai. Meja itu masih sama. Kayu kusam, sudutnya sedikit terkelupas, permukaannya dingin. Debu tipis kembali muncul meski kemarin sudah kulap. Ruang ini sepertinya memang menolak untuk benar-benar hidup.

Aku menyalakan laptop.

Sementara layar masih gelap dan kipas mesin mulai berdengung pelan, aku berdiri, membuka jendela lebar-lebar. Udara dari luar masuk, bercampur bau kertas tua, map arsip, dan tembok lembap. Cahaya matahari tetap tidak benar-benar sampai ke mejaku, terhalang bangunan lain.

Yang masuk hanya sedikit sisa-sisa terang.

Aku duduk. Jemariku langsung berlompatan di papan keyboard.

Pada suatu masa, hiduplah seorang Ksatria yang tampan dan gagah berani. Ia mengabdikan hidupnya di sebuah kerajaan yang sangat besar.

Kalimat itu muncul begitu saja. Tidak sempurna. Bahkan agak klise. Tapi aku tidak menghapusnya.

Kubaca ulang.

Perlahan.

Tidak kuubah.

Lalu aku lanjut mengetik.

Kerajaan itu berdiri di atas tanah yang luas dan makmur. Istananya tinggi menjulang, terlihat dari hampir seluruh penjuru negeri. Menara-menara batu putih berdiri seperti barisan tombak yang mengarah ke langit.

Lihat selengkapnya