Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #7

Semua Angka Harus Dipenuhi

Malam turun pelan-pelan di rumahku. Lampu ruang tengah menyala setengah terang. Aku duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, tetapi sejak sepuluh menit lalu tidak ada satu kata pun yang kuketik. Layar hanya menampilkan satu paragraf yang belum selesai.

Di dapur, Rani masih merapikan sisa piring makan malam. Bunyi air dari keran terdengar pelan.

Raka, anak pertamaku, sudah tidur. Sementara Syilla masih bermain masak-masakan. Entah kenapa, sejak masuk SD dan ikut latihan karate di sekolah, kakaknya selalu lebih dulu terlelap. Buku pelajarannya masih terbuka di samping bantal, entah sempat dibaca sebelum tidur, entah tidak.

Rani masuk ke ruang tengah sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan satu di meja kecil di depanku.

“Mas,” katanya pelan.

Aku menutup laptop.

“Kenapa?”

Rani duduk di ujung sofa. Tangannya memegang buku catatan kecil. Sampulnya sudah lusuh, penuh lipatan di sudut-sudutnya.

“Aku tadi iseng buka catatan bulanan,” katanya.

Aku tidak langsung menjawab. Aku sudah bisa menebak arah kalimatnya.

“Tunjangan lapangan sudah pasti hilang, kan?” tanya Rani.

“Iya.”

“Tunjangan komando juga?”

“Iya.”

Rani mengangguk pelan. Ia membuka halaman buku catatan itu. Di dalamnya ada deretan angka yang ditulis rapi, tetapi penuh coretan.

“Berarti pendapatan kita turun hampir sepertiganya.”

Aku menatap gelas teh di meja. Uap tipis naik, lalu menghilang.

Lihat selengkapnya