Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #8

Sumbangan

Sabtu sore hujan baru saja reda. Tanah di halaman rumah masih basah, menguarkan aroma lembap yang khas. Bau tanah yang membuat sore terasa sedikit lebih sunyi.

Aku duduk di teras, membersihkan helm motor dengan lap kain. Pekerjaan sepele, tapi cukup untuk menunda masuk ke dalam rumah dan menghadapi pikiranku sendiri.

Dari dalam terdengar suara Rani menidurkan Syilla. Nadanya pelan, seperti biasanya setiap sore. Kakaknya sedang di kamar, mengerjakan PR.

Ketika aku sedang mengelap visor helm, dua pemuda muncul dari tikungan di ujung kompleks. Mereka berjalan beriringan, mengenakan kaos lusuh dan sandal jepit. Yang satu membawa map plastik, yang satu lagi memegang pulpen.

Aku mengenal mereka. Pemuda-pemuda yang sering aktif di kampung.

“Assalamualaikum, Pak!” sapa yang lebih tinggi sambil tersenyum lebar.

“Waalaikumsalam,” jawabku.

Mereka berhenti di depan pagar.

“Kami dari RT, Pak,” kata yang lebih pendek. “Besok mau ada kerja bakti, sekalian persiapan acara maulid minggu depan.”

Aku mengangguk. Aku sudah bisa menebak lanjutan kalimat itu.

“Ayo masuk dulu,” ujarku.

Mereka pun masuk melalui pintu pagar yang sedari tadi memang sudah terbuka.

“Kami lagi keliling minta sumbangan dari warga. Buat konsumsi sama beli cat tembok mushola.”

“Berapa yang sudah terkumpul?” tanyaku.

“Baru sekitar satu jutaan, Pak. Masih kurang lumayan banyak.”

Salah satu dari mereka menyerahkan map berisi rincian sumbangan. Aku melihat sekilas lalu mengangguk pelan. Mereka sebenarnya tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Biasanya akulah yang menutup sebagian besar kekurangan dana itu.

Aku kembali mengangguk, sekadar mengulur waktu.

Di kepalaku angka-angka lain bermunculan. Sisa saldo di rekening. Token listrik yang sudah berisik. Uang sekolah. Biaya dapur sampai akhir bulan. Cicilan motor. Jajan anak-anak.

Biasanya aku tinggal masuk ke dalam, mengambil dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan. Selesai. Tidak pernah berpikir panjang.

Hari itu dompetku terasa seperti benda asing di saku celanaku sendiri.

“Sebentar ya,” kataku.

Aku berdiri, masuk ke ruang tamu, lalu membuka dompet perlahan. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar lima puluh ribuan.

Aku memejamkan mata sebentar. Menarik napas tanpa suara.

Lalu kuambil dua lembar.

Kutatap beberapa detik. Tanganku terasa berat.

Aku keluar lagi ke teras.

“Ini dulu ya,” kataku sambil menyerahkan uang itu.

Dua pemuda itu terdiam sejenak.

“Oh… iya, Pak. Terima kasih banyak,” kata yang pendek, meski jelas ia berharap lebih.

Yang tinggi tetap tersenyum, tapi matanya sempat melirik map di tangannya, lalu kembali ke wajahku.

“Lagi banyak kebutuhan,” ucapku singkat.

Lihat selengkapnya