Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #9

Uang Tambahan

Keesokan harinya, hari Minggu, aku tetap memaksakan diri untuk lari pagi. Untuk pertama kalinya aku melakukannya bukan karena ingin sehat, melainkan karena tidak tahu harus melakukan apa selain bergerak.

Sesampainya di rumah, aku mendapati Rani di dapur. Lemari terbuka. Meja dipenuhi loyang dan cetakan kue yang sudah lama tak tersentuh.

“Jadi terima pesanan lagi?” tanyaku.

“Eh, udah pulang?” Rani menoleh kaget. “Iya. Dibersihin dulu. Siapa tahu nanti ada yang pesan.”

Aku menghela napas. Bukan karena tidak setuju. Aku hanya tahu kalimat itu sebenarnya bukan rencana.

Itu lebih seperti persiapan darurat.

Terlebih lagi semua itu harus ia lakukan karena keadaan yang—sedikit banyak—berawal dariku.

Lihat selengkapnya