Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #10

Suara Syilla yang Menyadarkan

Siang harinya, di sela-sela menemani Syilla bermain, aku menyempatkan membuka laptop. Kubuka file cerita yang sedang kutulis.

Baru tiga bab.

Kubaca bab satu sampai bab tiga berulang-ulang. Mataku menatap layar lekat-lekat, jemariku menggantung di atas keyboard, sementara pikiranku melayang ke mana-mana.

Di kepalaku muncul sebuah bayangan.

Suatu hari nanti, di sebuah toko buku besar, buku karyaku terpajang di rak depan. Dengan bangga kutunjukkan itu kepada anak-anakku.

Raka, anak pertamaku yang sudah bisa membaca, mengeja nama di sampul buku itu dengan hati-hati.

“Ini… Arief Pra…ta…ma. Yah, ini nama ayah kan?” katanya sambil memegang buku itu.

“Serius ini ayah yang nulis? Bukan orang lain?” tanyanya lagi dan lagi, wajahnya berbinar.

Aku mengangguk bangga.

“Wow, keren banget, Yah!”

“Dek, lihat ini buku ayah, Dek!” serunya pada adiknya.

“Yeee…, ayahku seorang penulis!”

Dadaku mengembang. Kulirik Rani di sampingku. Ia tersenyum bangga.

Tiba-tiba saja…

“Bunda… ada ciken nggak?”

Suara Syilla dari ruang TV. Lugu. Cadelnya masih kental.

Lamunanku seketika retak.

Hening sebentar.

Lalu suara Rani menjawab, lembut, biasa saja, tanpa nada dramatis sedikit pun.

“Nggak ada, Dek. Siang ini adek makan telur dulu ya.”

Aku terkesiap.

Layar laptop di hadapanku masih berupa dokumen putih dengan tulisan hitam. Tidak ada rak buku. Tidak ada sampul mengilap. Tidak ada tepuk tangan anak-anak.

Yang ada hanya file sederhana.

Bab satu.

Bab dua.

Bab tiga.

Kursor di ujung kalimat terakhir berkedip pelan. Seolah mengolok-olok lamunanku sendiri.

Dari dapur terdengar lagi suara Syilla, kali ini lebih pelan.

“Besok beli ciken ya, Bun?”

Rani tidak langsung menjawab. Hanya terdengar bunyi wajan dan sendok.

“Iya… nanti kita lihat ya.”

Kalimat yang terdengar ringan. Tapi justru itu yang terasa berat di telingaku.

Dadaku seperti ditekan sesuatu dari dalam.

Tadi, di kepalaku, aku membayangkan berdiri bersama anak-anak dan istriku di sebuah toko buku besar, menatap deretan buku dengan namaku di sampulnya.

Di dunia nyata, anakku hanya menanyakan ayam goreng untuk makan siang.

Dan jawabannya: telur dulu.

Aku menyandarkan punggung ke kursi. Napasku pelan, tapi terasa berat. Pandanganku kembali ke layar.

Tiga bab.

Masih jauh panggang dari api.

Lihat selengkapnya