Rumah sudah tenggelam dalam sunyi. Lampu-lampu utama dimatikan sejak lama. Hanya satu cahaya yang masih bertahan, lampu baca di sudut meja kerja yang menyala redup dengan warna kekuningan. Cahayanya sempit, jatuh tepat di atas laptop, tumpukan kertas, dan secangkir kopi hitam yang entah sejak kapan sudah dingin.
Di luar, malam berjalan pelan. Di dalam rumah, waktu seolah berhenti di kursi yang kududuki.
Jam dinding menunjukkan lewat tengah malam.
Aku masih di sana.
Punggungku sedikit membungkuk. Jemariku berada di atas keyboard, mengetik pelan. Tidak cepat. Tidak juga benar-benar lancar. Lebih seperti dipaksa bergerak daripada mengalir.
Tik. Tik.
Hening.
Lalu tik lagi.
Layar laptop menampilkan dokumen naskah yang sama sejak siang. Bab yang belum juga bertambah jauh. Kalimat demi kalimat lahir dengan ragu, lalu berhenti, lalu dihapus, lalu diketik ulang dengan kata-kata lain, kadang bahkan dengan kata yang hampir sama.
Kubaca satu paragraf.
Aku menghela napas.
Mengetik dua baris.
Lalu diam lagi.
Berpikir. Menerawang. Mengkhayalkan sesuatu.
Mengetik lagi.
Lalu diam lagi.
Kursor di ujung kalimat terus berkedip. Setia. Sabar menunggu aku bergelut dengan pikiranku.
Malam itu fokusku terbagi.
Setengah pikiranku berusaha bertahan pada cerita yang sedang kutulis. Tentang tokoh yang sedang kubangun pelan-pelan, tentang alur yang masih coba kumatangkan, tentang mimpi kecil yang diam-diam kupertahankan tetap menyala. Mimpi bahwa suatu hari naskah ini benar-benar bisa menjadi buku.
Namun setengah pikiranku yang lain terus kembali pada satu hal yang sama.
Postingan itu.
Postingan tentang pekerjaan remote. Tentang penghasilan dari rumah. Tentang peluang yang katanya bisa dimulai hanya dengan laptop dan HP.
Tanpa sadar jemariku berhenti mengetik.
Tatapanku tidak lagi benar-benar membaca kalimat di layar. Huruf-huruf itu ada, tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana.