Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #12

Apel Pagi yang Membosankan

Senin pagi datang dengan udara yang lebih dingin dari biasanya.

Langit masih pucat ketika aku memasuki gerbang korem. Matahari belum sepenuhnya naik, hanya menyisakan semburat tipis di balik bangunan-bangunan tua yang berjajar kaku. Aspal di halaman masih sedikit basah oleh embun. Di kejauhan, lapangan apel terbentang luas, kosong, menunggu untuk diisi barisan-barisan yang sebentar lagi berdiri di atasnya.

Ini adalah minggu ketigaku di tempat ini. Tiga minggu yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan hari yang sebenarnya.

Aku memarkirkan motor di lapangan parkir, di sisi bangunan staf. Beberapa anggota lain sudah datang. Mereka berjalan dengan langkah cepat. Sebagian sambil merapikan topi, sebagian lagi menarik kerah seragamnya agar jatuh lebih rapi di bahu.

Tidak banyak yang berbicara.

Pagi di lingkungan militer selalu dimulai dengan cara yang sama. Tenang, dingin, dan penuh disiplin.

Aku berjalan menuju lapangan. Rumputnya dipotong pendek. Garis-garis pembatas barisan terlihat jelas. Di depan, tiang bendera berdiri tegak, diam, seolah menjadi pusat dari semua keteraturan ini.

“Siap-siap, apel pagi!” suara seorang anggota provos terdengar lantang.

Para anggota mulai mengambil posisi.

Aku mengambil posisi di barisan paling belakang, bersebelahan dengan Rudi. Sudah menjadi semacam budaya di militer, barisan ditentukan berdasarkan kepangkatan, kesatuan, atau urutan hierarki prestise operasional. Para staf administrasi, baik yang berlatar belakang militer maupun sipil, biasanya berbaris di barisan paling belakang.

“Harum mana?” tanyaku kepada Rudi.

“Gak tau. Mungkin langsung masuk ruangan,” jawabnya.

Aku mengangguk.

Memang ada kelonggaran untuk staf sipil. Mereka diperbolehkan tidak mengikuti apel, tetapi tetap harus hadir saat briefing di ruangan, jika ada.

Ini adalah kali keduaku mengikuti apel di tempat tugasku yang baru. Meski ini minggu ketiga, pada minggu pertama aku belum mengikuti apel. Saat itu aku datang dan langsung lapor diri.

Angin pagi menyapaku pelan. Ada perasaan yang tak biasa saat aku berdiri di barisan belakang ini. Bertahun-tahun lamanya aku selalu berada di depan. Memimpin. Menjadi instruktur upacara.

Berbicara panjang lebar. Menyampaikan hal-hal penting. Memberikan arahan, nasihat, dan motivasi kepada para prajurit.

Berdiri di depan mereka. Menyaksikan bagaimana mereka menyimak setiap kata yang keluar dari mulutku.

“Siaaap grak!” Pemimpin apel memberikan instruksi.

Barisan bergerak serentak. Sepatu menghentak tanah dengan suara pendek, kompak. Bahu-bahu menegang. Daguku terangkat sedikit, pandangan lurus ke depan.

Tubuhku masih mengingat semua ini dengan sempurna.

Otot-ototku tahu bagaimana harus berdiri. Bagaimana harus diam. Bagaimana harus menjadi bagian dari barisan.

Instruktur apel pagi itu adalah Letkol Surya. Tubuhnya tegap. Wibawanya terasa kuat di balik seragam dan berbagai lencana yang melekat di dadanya.

Pemimpin apel memberi instruksi hormat saat Letkol Surya sudah berdiri sempurna di atas mimbar.

Seperti puluhan prajurit lainnya, tangan kananku terangkat dalam satu lintasan yang sudah begitu dihafal. Siku membentuk sudut presisi. Telapak tangan lurus. Jari-jari rapat tanpa celah. Ujung jari telunjuk berhenti tepat di ujung sisi topi, menyentuhnya ringan.

Gerakan itu datang begitu saja.

Refleks.

Mengalir dari ingatan otot yang telah ditempa bertahun-tahun. Tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu diperintah dua kali.

Aku menatap lurus ke depan dari balik garis jemariku.

Ada masa ketika aku berdiri di atas mimbar serupa, di hadapan puluhan bahkan ratusan pasukan.

Sebagai orang yang menerima hormat.

Bukan yang memberikan hormat.

Masa ketika akulah titik yang menjadi pusat perhatian pasukan.

Sekarang aku hanyalah satu gerakan di antara puluhan gerakan yang sama. Tidak lebih. Tidak kurang.

“Istirahat di tempat, grak!” teriak pemimpin apel.

Dan lagi, aku bergerak refleks bersama puluhan lainnya, dalam gerakan yang sudah menjadi muscle memory tubuhku.

“Rekan-rekan sekalian,” Letkol Surya memulai.

Suaranya cukup keras dan kuat.

Ia memberikan arahan. Berbicara tentang disiplin. Tentang tanggung jawab. Tentang pentingnya menjaga nama baik satuan.

Aku mendengarkan.

Namun cara ia menyampaikannya terasa kosong.

Kalimatnya meloncat-loncat. Beberapa kali ia mengulang kata yang sama. Sesekali ia melihat ke notebook kecil di tangannya, seperti kehilangan arah di tengah ucapannya sendiri.

Aku tetap menatap lurus ke depan.

Lihat selengkapnya