Ada jenis kelelahan yang tidak datang dari banyaknya pekerjaan, melainkan justru dari ketiadaan pekerjaan itu sendiri.
Ketika seseorang dibutuhkan, waktu berlari tanpa suara. Ia melompati jam demi jam tanpa sempat disadari. Pagi berubah menjadi siang. Siang menjelma sore tanpa permisi.
Namun ketika seseorang tidak lagi ditarik oleh tuntutan apa pun, waktu kehilangan bentuknya yang biasa. Ia tidak lagi berlari. Ia berjalan lambat, menyeret dirinya sendiri dari satu detik ke detik berikutnya. Tidak ada yang mengaburkannya. Sejam serasa sehari. Sehari serasa seminggu.
Itu pula yang kurasakan seharian ini.
Bukan jamnya yang memuai, melainkan diriku yang seperti berhenti bergerak di dalamnya. Tidak ada yang benar-benar kulakukan. Tidak ada yang perlu kuselesaikan.
Dan entah bagaimana, justru itulah yang membuat hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan.
Pun demikian, sore akhirnya datang juga.
Aku langsung bergegas saat jarum jam menunjuk angka empat. Setelah mengisi absen pulang, aku menuju parkiran, menyalakan motor, lalu menyatu dengan arus kendaraan di jalanan yang mulai padat.
Dari kejauhan kulihat langit di arah rumahku mulai menghitam. Awan menggantung rendah dan tebal, seperti menahan sesuatu yang sewaktu-waktu bisa jatuh.
Aku menarik gas sedikit lebih dalam.
Kini sepeda motorku beradu cepat dengan tetesan air dari langit itu. Perhitunganku sederhana, kalau cukup cepat, mungkin aku bisa sampai sebelum hujan benar-benar turun.
Namun nasib berkata lain.
Jarak masih menyisakan setengah perjalanan menuju rumahku ketika butiran air itu mulai jatuh.
Mula-mula jarang. Lalu semakin rapat.
Hingga akhirnya langit seperti menyerah, memuntahkan air tanpa keraguan.
Hujan turun sangat deras.
Tanpa berpikir panjang, aku menepi di sebuah minimarket dan berhenti di bawah kanopinya. Mesin kumatikan. Aku berdiri di teras minimarket itu tidak jauh dari motorku, berdempetan dengan puluhan orang lain yang bernasib sama, perjalanannya terhenti oleh hujan.
Tidak banyak percakapan.
Hanya satu dua orang yang berbicara pelan. Selebihnya berdiri mematung dalam pikirannya masing-masing, mendengarkan suara butiran air yang jatuh beruntun di atas kanopi, memandangi air yang memercik setiap kali kendaraan melintas.
Bau khas hujan tercium, bercampur dengan aroma kopi mahal dari dalam toko.
Ya, di kondisiku saat ini, kopi seharga dua puluh atau dua puluh lima ribu rupiah secangkir itu terasa mahal.
Kukeluarkan HP dari saku jaket, lalu kuketikkan pesan WhatsApp untuk Rani, istriku.
Yank, Mas masih di jalan. Hujan gede. Neduh dulu ya.
Tidak lama Rani membalas.
Ya. Hati-hati.
Baru saja akan kumasukkan kembali ke saku jaket, HP-ku bergetar lagi.
Emang mobilnya ke mana, Pak? Hehehe…
Kutahu itu bercanda.
Kutulis pesan balasan, namun urung. Kuhapus lagi pesan yang sudah kutulis panjang, lalu menggantinya dengan sebuah emot menangis.
Saat aku kembali tenggelam dalam lamunan, mendengarkan suara hujan beradu dengan permukaan kanopi dan memandangi gemericik air di jalan aspal, tiba-tiba:
“Maaf, Pak… Kapten Arief?”
Suara itu datang dari samping kiriku.
Aku menoleh.
Seorang pria berdiri setengah ragu. Kemeja putih lengan panjangnya digulung sampai siku, dipadu celana jeans dan sepatu sport cokelat dengan motif tiga garis yang tampak elegan.
Wajahnya terasa familiar, tetapi waktu telah menambahkan garis-garis halus di sudut matanya.
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya aku mengenalinya.
“Anton?”
Wajahnya langsung terbuka oleh senyum lebar.
“Ya ampun. Aku pikir salah orang,” ucapnya.
Kami berjabat tangan. Genggamannya hangat dan mantap.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami bertemu. Mungkin sepuluh tahun, atau lebih. Terakhir kali, kuingat ia masih kurus.
“Di sini? Ngapain?” tanyaku.
“Abis ketemu teman, di kafe samping. Ke sini bentar, ambil uang di ATM,” jelasnya sambil menunjuk bangunan di sebelah toko.
“Maklum, generasi old. Kalau nggak pegang cash, nggak tenang,” sambungnya sambil tertawa.
“Komandan sendiri? Kok di sini?” tanyanya.
“Mau pulang. Tiba-tiba hujan. Neduh dulu bentar,” jawabku ringan.
“Oh. Nggak bawa mobil?”
“Nggak. Kebetulan pakai motor.”
“Oh, alah. Rendah hati sekali komandan yang satu ini. Sudah jadi pejabat militer masih mau pakai motor.”
“Bisa aja, lo,” aku mengelak. “Yah, sekali-sekali lah. Menghemat bensin.”