Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #14

Investasi Online

Suara motorku baru saja mati ketika pintu rumah terbuka dari dalam.

“Ayah!”

Suara itu meluncur lebih dulu daripada tubuh kecil yang mengikutinya. Syilla berlari tanpa alas kaki, rambutnya sedikit berantakan, matanya langsung tertuju ke kantong plastik di tanganku.

“Ayah bawa ciken?” tanyanya, napasnya sedikit terengah.

Aku belum sempat menjawab ketika ia sudah memeluk pahaku, kedua tangannya melingkar erat, wajahnya menengadah penuh harap.

“Iya,” jawabku, tersenyum.

Wajahnya langsung berubah. Mata itu membesar. Senyumna merekah. Polos, utuh, tanpa beban apa pun.

“Yeaaay! Ciken!”

Ia berbalik ke dalam rumah sambil berteriak.

“Kak! Ayah bawa ciken!”

Suara langkah kaki lain menyusul. Raka muncul dari ruang TV, lebih tenang, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan yang sama.

“Bener, Yah?” tanyanya, mencoba terdengar biasa saja.

Aku mengangkat kantong plastik itu sedikit.

“Iya. Buat kalian.”

Ia tersenyum. Tidak selebar adiknya, tapi cukup untuk membuat wajahnya yang biasanya datar itu tampak hidup.

“Makasih, Yah.”

Rani muncul dari dapur, mengeringkan tangan dengan lap kecil.

“Hujannya deres banget?” tanyanya.

“Iya. Tadi sempet neduh.”

Ia mengangguk, lalu melirik kantong di tanganku.

“Beli berapa?”

“Dua.”

“Oh.”

“Buat Bunda, ini!” aku mengangkat kantong plastik satu lagi, berisi satu cup es kopi latte ukuran small.

“Favorit Bunda kan?”

Ia tersenyum kecil. Senyum yang mengandung banyak hal. Terima kasih, pengertian, dan mungkin juga sesuatu yang tidak diucapkan.

Syilla sudah menarik-narik kantong itu sekarang.

“Ayah, buka… buka…”

“Iya, iya. Sabar.”

Aku menyerahkannya kepada Rani, lalu melepas sepatu.

“Ayah udah makan?” tanya Rani.

“Belum,” jawabku.

Lihat selengkapnya