Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #15

Pinjam Uang Dulu, Fik!

Selesai makan, aku langsung masuk kamar lagi. Rani menoleh saat aku berlalu begitu saja dari ruang makan ke kamar. Sedikit heran, mungkin. Tapi ia tidak bertanya.

Di kamar, aku langsung menghempaskan tubuhku di kursi kerja. Pikiranku tenggelam dalam satu hal: uang satu juta. Dari mana aku bisa mendapatkan uang itu dalam waktu cepat.

Andai aku berada di posisiku yang lama, uang sebesar itu bukanlah perkara sulit. Tapi sekarang, dengan kondisi gajiku saja masih sempoyongan setelah dipotong cicilan ini itu, uang satu juta terlalu berasa.

Pinjam dulu. Tiba-tiba saja ide itu singgah di kepalaku. Toh pasti akan diganti dalam waktu cepat.

Meski kata meminjam terasa asing untukku, karena seumur hidupku aku lebih sering memberi perintah daripada meminta bantuan, tetap saja otakku langsung menyisir nama orang-orang yang mungkin bisa aku pinjami uang.

Fikri. Letnan Fikri. Mantan ajudanku di Cibening.

Nama itu mencuat begitu saja.

Seketika, langsung kuburu nomornya di HP.

Nomor itu masih tersimpan. Aku menatapnya cukup lama di layar HP.

“Letnan Fikri.”

Namanya tetap sama seperti dulu. Tidak kuubah. Jempolku melayang di atas layar, tidak menyentuh apa-apa. Hanya menggantung. Seperti ada sesuatu yang menahannya.

Di luar, malam sudah turun sepenuhnya. Dari jendela kamar, cahaya lampu jalan masuk dalam warna kuning pucat, jatuh miring di lantai. Terdengar suara motor lewat sesekali, lalu menjauh. Di ruang tengah, televisi menyala pelan. Suara iklan bercampur dengan suara sendok beradu dengan piring. Rani mungkin sedang merapikan sisa makan malam.

Aku menarik napas panjang.

Meminjam uang. Kata itu terasa aneh. Tidak nyaman. Seperti mengenakan seragam yang bukan milikku.

Dulu, Fikri berdiri tegak di depanku. Menunggu instruksi. Tidak pernah sekalipun aku membayangkan suatu hari aku akan duduk seperti ini, menatap namanya, dengan maksud meminta bantuan.

Bagaimana kalau dia berpikir aku sudah jatuh sejauh ini?

Aku mengusap wajahku pelan. Telapak tanganku terasa dingin.

“Tapi ini bukan soal gengsi. Ini soal kebutuhan,” batinku.

Syilla. Wajah itu muncul begitu saja, dan keraguan yang tadi menahanku mulai kehilangan tajinya.

Jempolku bergerak. Menekan nama itu. Lalu tombol panggil. HP kutempelkan ke telinga. Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Setiap bunyi terasa lebih panjang dari seharusnya.

Aku hampir saja menekan tombol akhiri panggilan…

“Assalamu’alaikum.”

Suara itu muncul. Tegap, tapi hangat. Sama seperti yang kuingat.

Lihat selengkapnya