Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #16

Join

Aku sudah duduk di kursi sejak dua puluh menit lalu. Laptop di depanku menyala, tapi masih belum beranjak juga dari tampilan desktop. Pikiranku tidak ada di situ. Pikiranku hanya tertuju pada satu benda yang tergeletak di sisi kanan keyboard. HP-ku.

Layar gelap. Diam.

Tanganku menyentuh mouse, menggeser kursor, membuka File Explorer, lalu menutupnya lagi. Tidak ada folder yang benar-benar kupilih. Tidak ada yang benar-benar kulihat.

Aku melirik HP lagi. Masih belum ada apa-apa.

Pintu diketuk tiga kali, Rudi melongok ke dalam ruanganku.

“Pak, sarapan bareng. Ada gorengan,” ujarnya.

“Iya. Terima kasih. Nanti nyusul,” jawabku.

Sejujurnya perutku mulai bunyi. Terlebih aku tadi berangkat terburu-buru, jadi tidak sempat sarapan. Sial betul, kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa pula aku tadi terburu-buru. Toh kehidupan masih seperti kemarin-kemarin. Tidak ada pekerjaan yang menunggu diselesaikan. Entahlah, aku hanya merasa ada sesuatu yang ingin kusegerakan di tempat kerja pagi ini.

Ruangan kembali sepi. Hanya obrolan Rudi dan Harum yang terdengar samar-samar dari ruangannya. Kuraih HP, kunyalakan, kubuka aplikasi mobile banking. Saldo masih jalan di tempat. Tidak ada perubahan. Tidak ada pergerakan.

Kuletakkan lagi. Menunggu lagi.

Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Aku mencoba membuka youtube. Lama. Buffering. Wifi di sini memang sangat lambat. Kalau saja ada perlombaan antara siput dan kecepatan wifi di sini, aku yakin siput akan menang. Bahkan jika itu siput termalas sekalipun.

Mataku kembali melirik HP. Ada dorongan aneh di dada. Campuran antara harap dan cemas. Seperti anak SD menunggu esok lebaran.

Lalu…

Getar pendek. Disusul bunyi notifikasi.

Jantungku langsung bereaksi lebih dulu daripada pikiranku. Tanganku refleks meraih HP itu. Kugesek jempol di permukaan layarnya . HP menyala.

Notifikasi dari bank. Aku membukanya.

Transfer masuk Rp1.000.000. Nama Fikri tertera sebagai pengirimnya.

Aku menatap layar itu lama. Memastikan aku tidak salah baca.

Satu juta. Benar-benar ada.

Napas yang sejak tadi terasa menggantung akhirnya jatuh juga. Pelan. Panjang.

Ia tidak lupa. Tidak berubah.

Lihat selengkapnya