Waktu tidak bergerak dengan suara keras. Ia hanya bergeser pelan namun pasti, seperti bayangan yang memanjang tanpa kita sadari. Tahu-tahu, tujuh malam telah lewat sejak aku memutuskan menjadikan ruangan itu sebagai ruang kerjaku yang baru. Bukan sebagai perwira militer, tapi sebagai penulis.
Ya. Sudah kudeklarasikan itu. Menjadikan menulis sebagai pekerjaan utamaku. Seragamku militer, namun tugas utamaku, paling tidak yang diberikan oleh diriku sendiri, adalah menulis. Kupergunakan secara maksimal jam kerjaku dari jam tujuh sampai jam empat sore untuk menulis, melakukan riset, mencari data yang dibutuhkan untuk ceritaku.
Jika ide di kepalaku menguap, aku berlama-lama duduk di sisi jendela, memandangi pohon trembesi yang daunnya melambai-lambai ditiup angin, melamun, membayangkan segala kemungkinan, untuk selanjutnya kurangkai menjadi bagian dari ceritaku.
Di satu minggu ini aku juga mulai mem-follow akun beberapa penulis. Mendapatkan sebanyak-banyaknya insight dari mereka melalui postingan-postingan mereka di medsos. Salah satunya penulis muda popular yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi.”
Dalam salah satu postingannya, ia menulis: ketika kita menjadikan menulis sebagai pekerjaan, maka perlakukan ia seperti pekerjaan sungguhan. Duduk tujuh jam. Delapan jam. Seperti dokter. Seperti pegawai bank, melakukan pekerjaannya.
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa punya semacam pembenaran.
Kalaupun ada satu dua tugas yang diberikan kepadaku, sangatlah ringan, sangat tidak penting dan terkesan diada-adakan saja oleh Letkol Surya. Mungkin sekedar untuk memastikan bahwa aku masih ada di ruang itu. Tugas-tugas itu kuanggap selingan saja. Bisa selesai dalam hitungan menit. Selebihnya, aku kembali tenggelam di dalam cerita yang sedang kutulis.
Dalam seminggu ini, Bab sembilan sudah lewat. Kini aku mulai menjajaki Bab sepuluh. Angka yang datang dengan sedikit dorongan semangat baru.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku, yang, bahkan menulis cerpen pun belum pernah, bahwa aku bisa menulis cerita hingga sepuluh bab. Dan itu masih permulaan cerita, belum masuk ke konflik yang semakin meningkat.
Selama aku dipindah tugaskan ke tempat ini, aku sangat jarang sekali bersosialisasi dengan yang lain. Aku sangat menghindari untuk berkumpul, entah di kantin, di taman, atau di pelataran masjid selepas solat zuhur. Bukan aku sombong dan merasa tidak membutuhkan orang lain, aku sangat menghindari perbincangan tentang apa alasan aku dipindah tugaskan. Itu hanya akan membuat luka yang sedang coba kusembuhkan, muncul kembali.
Namun di balik itu semua, ada satu hal yang mengusik perasaanku. Yang membuat tidurku tidak nyenyak. Yang membuat napasku mendadak berat saat mengingatnya. Investasi itu.
Seminggu sudah sejak aku mentransfer uang deposit itu. Uang yang kudapatkan dengan meminjam dari Fikri, ajudanku saat bertugas di Cibening. Hingga kini, belum ada kabar apapun tentang sejumlah keuntungan yang dijanjikan.
Terakhir aku chat admin, balasannya adalah tunggu dalam waktu seminggu setelah deposit. Uang keuntungan pertama akan masuk di minggu pertama. Namun, hingga kini belum juga ada kabar itu.
Hingga akhirnya di satu pagi, tepat di hari ke tujuh setelah proses deposit itu, kuputuskan untuk keluar sejenak dari ruang kerjaku, ku hampiri Harum dan Rudi di ruangannya.
“Eh, Harum. Pernah ikut bisnis ga? Bisnis online gitu,” tanyaku, saat aku duduk di sampingnya.
Harum yang sedang mengetik, menoleh ke arahku. Tangannya masih menggantung di atas keyboard.
“Bisnis online seperti apa, Pak?”
“Ya, seperti invenstasi. Atau apalah. Yang bisa dikerjakan di rumah.
“Hmmm, enggak, Pak. Pernah sih bikin akun Shoppee untuk berjualan. Tapi nggak fokus,” ujar Harum.
“Kalau teman saya sih ada yang pernah ikut bisnis Crypto Currency,” sambungnya.
“Apa tuh?” tanyaku.
“Crypto Currency. Kalau gak salah, semacam uang digital gitu. Namanya kalau gak salah, Edisi Cash.”
“Oh ya. Trus sekarang gimana? Sukses?”
“Gagal. Ternyata penipuan. Kasian banget. Sampai habis 50 jutaan.”
Aku langsung menelan ludah.
“Ko bisa?”
“Iya. Awalnya, bisnisnya sangat menjanjikan. Orang-orang banyak yang sudah invest dan digadang-gadang udah dapet keuntungan yang lumayan besar,” Harum berhenti sejenak, mengambil kertas lalu memasukkanya ke mesin printer, lalu duduk kembali di depan komputernya.
“Tapi, lama-kelamaan, uang yang dijanjikan nggak cair lagi. Ternyata itu Scam,” sambungnya.
“Si Hendar itu ya?” Rudi yang sedang main HP tiba-tiba nyambung.
“Iya, bener. Tuh Pak Rudi juga tau orangnya.”
“Iya bener kasian banget itu. 50 juta, zaman sekarang. Kalo dipake beli tahu bisa se truck itu. Hehehe,” kata Rudi lagi. Kini sambil bangkit, mengambil casan HP di saku jaket yang digantung di balik pintu.