Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #20

Tergoda Pinjol

Aku sampai di rumah ketika adzan Isya baru saja selesai. Lampu ruang tengah menyala terang. Dari dapur tercium aroma cokelat dan mentega yang masih hangat.

“Ayaaah…,” Raka menyambutku, memeluk lalu mencium tanganku, ketika aku membuka pintu.

“Adek mana?” tanyaku.

“Nggak tau tuh,” ujar Raka sambil tersenyum, telunjuknya di depan mulut, lalu menunjuk ke kamar.

“Oh…,” ucapku pelan, sambil ngangguk-ngangguk. Aku hafal betul kebiasaan si kecil itu.

“Yaaa, adeknya uda tidur. Padahal ayah bawa sesuatu buat adek. Yauda buat kakak aja deh semuanya,” sengaja kukeraskan suaraku, sasat kulihat si kecil Syilla pura-pura tidur di kamar.

Mendengar itu, Syilla langsung bangkit, dengan tawa lepasnya yang khas.

“Mana. Adek mau, adek mau,” burunya.

Begitu mendekat, langsung kupeluk tubuh kecil Syilla. Kuciumi dan kugelitiki. Entahlah, ada magis apa yang tersembunyi di balik tubuh anak-anak usia balita. Wangi itu, khas. Wangi yang membawa damai, yang menenangkan, yang membuat segala kerumitan di kepala sesaat luruh.

“Arrrggghhhh…. Hahahaha…,” teriakan dan tawanya renyah sekali.

“Mana? Ayah bawa apa?” tanya Syilla.

“Iya, bawa apa, Yah?” kakaknya tidak mau ketinggalan.

“Tutup mata dulu.”

“Iya, iya. Adek tutup mata. Kaka juga,” celotek Syilla. Kakaknya ikut menutup mata.

“Satu, dua, tigaaa,” ujarku.

“Aaaaa, terima kasih, Yah,” Syilla langsung merebut susu ultra kotak kecil dan coklat cha-cha dari tanganku. Disusul kakaknya, yang langsung merebut satu lagi yang menjadi jatahnya.

Di kondisi seperti sekarang ini, di saat keuanganku sedang tidak baik-baik saja, hal-hal kecil itu yang masih bisa terus kulakukan. Agar anak-anakku, tidak merasa kehilanganku sepenuhnya. Untuk hal-hal lain yang lebih besar, keinginan Raka membeli Play Station, Bola basket, atau sepeda lipat, dan keinginan Syilla untuk beli rumah-rumahan boneka, skuter atau sepeda roda tiga, kujawab dengan “nanti”.

“Bunda mana?” tanyaku.

Sebelum pertanyaan itu dijawab, aku sudah beranjak ke dapur.

Kudapati Rani, istriku, tengah berdiri dengan celemek yang masih terpasang di badannya. Rambutnya diikat seadanya. Ada garis tepung tipis di ujung alisnya.

“Tutup mata,” ucapnya, langsung memberi aba-aba.

“Kenapa?” tanyaku.

“Pokoknya tutup mata.”

“Hmmm, oke, oke,” aku pun menuruti.

“Satu, dua, tiga…”

Langsung ku buka mata begitu hitungan ke tiga.

Tangan rani memegang beberapa lembar uang seratus ribuan. Berjajar rapi seperti kipas.

“Hasil penjualan kue hari ini,” ujarnya, tersenyum, tanpa aku tanya itu uang apa.

Bahagia itu, nampak sekali di wajahnya yang memerah tipis. Senyumnya lepas, jujur, seperti senyum anak kecil yang baru saja memamerkan gambar buatannya dan menunggu dipuji.

“Wow. Serius?” tanyaku. Dijawab Rani dengan anggukan cepat.

Satu hal yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya.

Kupikir omongannya untuk kembali menerima orderan kue kemarin itu hanya sesumbar saja. Impulsif. Sesuatu yang dilakukan karena dorongan sesaat. Namun ternyata, setelah melakukan serangkaian promosi tanpa lelah di medsos, status WA, dan bahkan melalui chat langsung ke orang-orang yang dikenalnya, akhirnya berbuah manis.

“Besok masih ada beberapa yang order lagi,” ujarnya, dengan senyum yang masih tidak mau hengkang dari wajahnya. Senyum yang tidak pernah berubah, sejak aku mengenalnya untuk pertama kali sekitar 15 tahun lalu.

Lihat selengkapnya