Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #21

Ksatria Ardhana

Pagi sekali, aku sudah tiba di kantor. Subuh-subuh, saat aku bangun kudapati pengumuman bahwa pagi ini akan ada apel. Sesampainya di Korem, aku langsung bergabung dengan prajurit dan pegawai lainnya di lapangan.

Apel dimulai.

“Kita akan melakukan beberapa langkah persiapan untuk peringatan HUT TNI ke-79 di Monas,” ujar Letkol Surya, dengan nada tegas.

“Tim kita bagi dua. Ada beberapa yang masuk tim untuk mengikuti Apel Besar di Monas nanti, ada beberapa lainnya bertugas membantu persiapan peringatan di tingkat Kodim,” sambungnya.

Berikutnya, nama-nama tim itu mulai dibacakan.

“Untuk tim Apel Besar di Monas…”

Beberapa nama disebut satu per satu. Para prajurit yang namanya dipanggil langsung menjawab dengan suara tegas.

“Siap!”

Di barisan, beberapa orang saling menoleh, sebagian terlihat senang, sebagian lagi hanya mengangguk kecil.

Aku berdiri tenang di tempatku.

Biasanya aku yang membacakan nama-nama tim seperti itu di depan. Aku yang mengkoordinir tim hingga hari keberangkatan ke Ibukota.

“Kapten Budi Santoso,” penyebutan itu berlanjut.

“Siap!”

“Lettu Hendra Pratama.”

“Siap!”

Nama-nama terus mengalir.

Aku menunggu.

Beberapa orang yang berdiri tidak jauh dariku sudah dipanggil. Mungkin aku sebentar lagi.

Hingga akhirnya daftar untuk tim Monas pun selesai dibacakan.

Aku sempat berpikir mungkin aku masuk tim yang lain.

“Untuk tim yang membantu persiapan kegiatan di tingkat Kodim…”

Nama-nama kembali disebut.

Suara jawaban “Siap!” kembali terdengar bersahut-sahutan di lapangan.

Satu per satu nama lewat. Beberapa di antaranya bahkan prajurit yang lebih rendah dariku. Aku tetap diam. Terus menunggu. Sampai akhirnya daftar itu selesai dibacakan, tidak juga kudengar namaku disebut.

Lapangan kembali sunyi sejenak sebelum Letkol Surya melanjutkan pengarahan berikutnya. Aku hanya berdiri di barisan seperti orang yang kebetulan berada di tempat yang salah.

Selepas apel, aku bergegas ke ruanganku. Kutinggalkan obrolan-obrolan prajurit di belakangku. Obrolan tentang bagaimana nanti teknis keberangkatan ke Monas, dan obrolan tentang bagaimana mengkonsolidasi Kodim untuk mengadakan kegiatan yang menarik dan berimbas langsung untuk masyarakat.

Aku langsung merebahkan diriku di kursi kerjaku. Sebuah kursi sederhanya yang beberapa bagiannya sudah sobek. Aku duduk cukup lama di kursi itu, menatap langit-langit ruanganku yang kusam. Kipas angin di sudut ruangan berputar malas, mengaduk udara yang hangat.

Untuk kesekian kalinya aku merasa dibuang.

Di luar sana orang-orang sibuk membicarakan persiapan Monas, membicarakan kegiatan Kodim, membicarakan bagaimana perayaan HUT TNI ke- 79 itu harus terasa meriah dan bermakna.

Sementara aku di sini. Di ruangan kecil ini. Tanpa tugas yang benar-benar jelas.

Aku menghembuskan napas panjang.

Jika demikian, ini akan menjadi tahun pertamaku merayakan HUT TNI bukan lagi sebagai tentara, melainkan sebagai staff administrasi yang bahkan pekerjaanku pun tidak jelas sampai hari ini.

“Apa aku mundur saja?” batinku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja pikiran itu terlintas. Pikiran untuk mundur saja dari institusi yang telah membesarkanku. Institusi yang selama ini telah kujaga dan kubela nama besar dan kehormatannya, bahkan lebih dari bagaimana aku menjaga nyawaku sendiri.

Di titik ini, aku merasa sudah tidak punya lagi harapan di sini. Karirku sudah selesai. Tidak akan ada lagi penghargaan terhadap diriku.

“Bukankah aku sudah mulai punya jalan lain?” satu suara membisiki otakku.

Investasi itu. Dan juga tulisanku. Novel yang sedang kutulis.

Jika keduanya lancar, tidak saja keuanganku yang akan aman, nama baikku pun akan tetap terjaga. Sebagai tentara yang pensiun dini, selanjutnya namaku akan dikenal sebagai seorang penulis sukses. Penulis buku best seller, yang karya-karyanya sangat menginspirasi dunia. Anak-anak dan istriku akan sangat bangga.

           Untuk kesekian kalinya khayalan itu melintas lagi. Khayalan tentang buku-buku karyaku yang tertata rapi di toko buku besar. Khayalan tentang undangan untuk hadir di podcast-podcast besar. Khayalan tentang duduk di sebuah panggung seminar menulis sebagai nara sumber. Khayalan tentang berdiri di kelas-kelas kesatuan militer untuk memberikan materi tentang bagaimana menulis. Dan khayalan tentang bagaimana menghabiskan hari-hariku di rumah, Bersama anak-anak dan istriku, tanpa perlu lagi pergi ke kantor, karena di titik itu uang yang bekerja untukku, tidak lagi aku yang harus bekerja untuk mendapatkan uang.

           Semua khayalan-khayalan yang manis itu, pagi ini menjelma menjadi kekuatan untukku.

Aku meraih laptop. File naskah itu kubuka. Masih di Bab.10, sejak terakhir kubuka naskah itu. Beberapa kalimat kubaca ulang pelan-pelan, mencoba masuk kembali ke suasana cerita yang sedang kurajut.

Awalnya terasa canggung. Seperti bertemu teman lama, yang sudah lama tidak saling sapa.

Tapi pelan-pelan ritmenya kembali terasa. Tanganku mulai bergerak di atas keyboard. Kalimat demi kalimat muncul di kepalaku, lalu mengalir, menjalar ke kedua tanganku, berujung di jari-jemariku yang menterjemahkannya dalam bentuk tulisan.

Kata-kata menjadi kalimat. Kalimat menjelma paragraf.

Ksatria Ardhana melangkah gagah memasuki istana. Hari ini raja memanggilnya.

“Ksatria Ardhana. Kuperintahkan kau satu tugas mulia. Atas nama bangsa dan negara tercinta. Apakah kau siap mengemban tugas ini?” Sang raja berkata di atas singasananya.

Ksatria Ardhana berlutut. Kepalanya menunduk. Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada.

“Siap, Paduka yang mulia,” jawabnya, penuh rasa percaya diri.

“Bersihkan pemukiman di Area Distrik 27. Kita sangat membutuhkan emas dan logam berharga yang terkandung di dalam tanahnya. Aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki, kau akan mampu menangani permasalahan ini.”

Ksatria Ardhana hanya bisa menunduk mendengar titah sang raja.

“Kerahkan seluruh prajurit yang ada di bawahmu. Senapati Rangga Wiraatmaja akan mendampingi mu dalam menjalankan tugas ini,” lanjut Raja.

Lihat selengkapnya