Senja itu aku pulang dengan perasaan yang aneh. Setengah diriku merasa puas dengan pencapaian hari ini. Tulisanku sudah menginjak bab dua puluh. Dan itu didapat dalam waktu satu hari. Hanya tinggal butuh dua atau tiga bab lagi untuk penutup. Aku yakin dua hari lagi aku sudah bisa menyelesaikan naskah ceritaku.
Namun setengah diriku yang lain merasakan sesuatu yang ganjil. Yang sepertinya akan mengarah ke sesuatu yang tidak mengenakkan.
Alih-alih mendapatkan kabar baik tentang profit yang dijanjikan cair hari ini, admin malah seperti berhenti meresponku.
Perjalanan dari kantor menuju rumah seolah dilalui tanpa nyawa. Lampu-lampu jalan, kendaraan yang lewat, semua seperti berlalu begitu saja. Tahu-tahu aku sudah tiba di depan rumah.
Saat aku masuk ke dalam rumah, kudapati Raka sudah tidur. Mungkin kelelahan setelah tadi sore latihan karate di sekolah. Syilla tengah bermain di ruang TV. Seperti biasa, ia menyambut dengan pelukan, lalu kembali sibuk dengan mainannya. Sementara istriku terlihat sedang sibuk di dapur. Pemandangan yang menjadi biasa akhir-akhir ini. Celemek berwarna pink yang terpasang di badan, terigu yang belepotan di tangan dan pipi atau pelipis.
“Mas. Uda pulang,” sambutnya.
“Aku gak masak. Hari ini repot banget banyak pesanan. Sebentar aku buatkan telur ceplok ya.”
Aku mengangguk. Tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamar.
Di dalam kamar, kembali ku pandangi HP. Layarnya hitam, gelap. Kunyalakan. Kubuka WA. Tidak ada notifikasi pesan masuk. Kubuka SMS, sekedar penasaran. Tak kutemukan apa-apa. Hanya beberapa pesan promosi dan pengumuman dari provider kartu yang kupakai. Masih penasaran, kubuka email. Ada puluhan pesan masuk. Pemberitahuan medsos, dan promosi ini itu. Tapi tidak satupun dari admin Remote Global.
Aku keluar dari kamar ketika istriku memanggil dari dapur.
“Mas, makan dulu. Nanti keburu dingin.”
Aku duduk di meja makan. Di depanku ada sepiring nasi putih, telur ceplok, dan sedikit sambal. Istriku duduk di sebelahku. Ia masih mengenakan celemek pink yang tadi kupandangi ketika baru pulang.
Syilla ikut duduk di kursi kecil di samping meja, memainkan sendoknya sambil sesekali mengoceh tentang mainan barunya.
Biasanya aku akan ikut menanggapi ceritanya. Menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang membuatnya semakin bersemangat.
Tapi malam ini tidak. Pikiranku melayang ke tempat lain.
Tanganku mengambil sendok. Menyuap nasi. Mengunyah tanpa benar-benar merasakan rasanya. HP-ku tergeletak di samping piring.
Aku menoleh sebentar ke arah istriku yang sedang menuang air minum. Lalu pelan-pelan kuangkat HP itu dan membuka WhatsApp di bawah meja.
Kubuka grup investasi. Sepi.
Biasanya grup itu ramai hampir setiap jam. Ada saja yang bertanya, ada saja yang memamerkan tangkapan layar profit, ada saja yang mengucapkan terima kasih kepada admin.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Pesan terakhir masih dari siang tadi.
Min, pencairan hari ini jadi kan?
Tidak ada balasan.
Aku scroll layar ke bawah. Mencari kalau-kalau ada pesan baru yang belum sempat kubaca.
Namun nihil. Hanya deretan percakapan lama yang sekarang terasa aneh ketika kubaca ulang.
HP kembali kutaruh di meja.
“Mas,” suara istriku membuatku tersadar.
Aku mengangkat kepala.
“Kok makannya kayak orang melamun?” katanya, sambil memindahkan kue dari loyang ke nampan besar.
Aku tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa.”
“Capek?”
“Ya… lumayan.”
Ia mengangguk pelan. Lalu kembali ke aktivitasnya.
Sekali-sekali, di tengah kesibukannya, dia melirik ke arahku. Seperti mengangkap sesuatu yang berbeda dariku.