Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #23

Support dari Rani

Malam ini sulit sekali rasanya mataku tertutup. Padahal aku ingin segera tidur. Berharap dengan tidur yang lelap semua permasalahan sore tadi akan menguap, lalu keesokan paginya aku terbangun dengan semuanya kembali normal. Uangku tidak hilang. Bisnis investasi itu terus berjalan.

Tubuhku sudah berbaring di kasur. Lampu kamar sudah dimatikan. Rani dan anak-anak sudah terlelap sejak lama. Namun mataku tetap terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Di kepalaku angka lima juta rupiah itu terus berputar-putar. Ditambah lagi uang pinjaman dari Fikri.

“Bagaimana cara mengembalikannya?” batinku.

Aku memejamkan mata, memaksa diri untuk tidur. Tapi semakin kurapatkan mata, semakin jelas bayangan itu muncul.

Chat dengan admin. Grup yang tiba-tiba sepi. Foto profil yang hilang. Tulisan kecil di layar: server tidak dapat diakses.

Aku menghela napas panjang.

Jam di dinding menunjukkan hampir pukul dua belas malam.

Aku menyerah.

Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara. Rani bergerak sedikit di sampingku, tapi tidak bangun. Aku berjalan menuju meja kerjaku di pojok kamar.

Laptop masih ada di sana. Kunyalakan.

Layar menyala pelan, menerangi ruangan yang remang. Berpadu dengan lampu kecil di sudut ruangan yang kubiarkan menyala redup. Di luar jendela, malam sudah benar-benar sunyi.

File naskahku terbuka. Aku menatap layar itu beberapa detik.

Di sana sudah ada dua puluh bab. Kubaca kembali bab dua puluh. Memperbaiki beberapa tulisan yang salah ketik. Selesai bab dua puluh, aku kembali ke bab Sembilan belas. Kubaca bab sembilan belas. Kulakukan hal yang sama saat menemukan kata-kata yang salah ketik. Selesai bab sembilan belas, lalu mundur ke bab delapan belas. Selesai membaca ulang bab delapan belas, aku mundur ke bab lima belas. Kubaca ulang dari bab lima belas hingga bab dua puluh. Kutemukan lagi beberapa kata yang kurang tepat, lalu kuganti dengan kata yang lain.

Setelah kurasa tidak ada masalah, aku berhenti mengulang. Kedua tanganku kini menggantung di atas keyboard.

Baiklah.

Kalau aku tidak bisa tidur, setidaknya aku bisa menulis.

Aku mulai mengetik.

Bab 21

Pagi itu, Ksatria Ardhana dipanggil menghadap oleh raja. Raja marah dan akan mengusirnya dikarenakan peristiwa malam itu di Distrik 27…

Aku berhenti.

Menatap kalimat itu. Lalu menghapusnya.

Kutekan tombol Backspace beberapa kali. Lalu kursor kembali, berkedip di layar kosong.

Aku mencoba lagi.

Ardhana berdiri di depan istana, memandang hamparan lembah yang tertutup kabut tipis.

Lalu, berhenti lagi.

Kalimat itu terasa hambar. Tidak hidup. Aku menghapusnya lagi. Tekan backspace lagi.

Aku mengusap wajah. Mencoba lagi mengetik. Kuketik beberapa kalimat. Berhenti. Membacanya ulang. Ah…, Tidak bagus. Hapus lagi.

Terus saja begitu, hingga waktu tahu-tahu sudah berjalan hampir satu jam, dan aku masih juga belum kemana-mana. Halaman itu masih kosong.

Kursor di layar terus berkedip pelan, seolah menungguku dengan sabar.

Aku ingin menjadikan menulis malam ini sebagai pelarian dari kekecewaan yang kualami hari tadi. Namun mood-ku seperti tidak benar-benar hadir di situ. Aku merasa kepayahan sendiri. Tanganku berusaha merangkai cerita Ksatria Ardhana, namun yang muncul di otakku justru angka lima juta itu lagi. Investasi yang mendadak hilang itu lagi.

Aku menggelengkan kepala pelan.

Tidak. Aku tidak ingin memikirkan itu sekarang.

Lihat selengkapnya