Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #24

Kurir Berseragam

Aku sedang sarapan ketika Rani yang sejak tadi mondar-mandir di dapur tiba-tiba berkata dari balik meja kompor.

“Mas, mamanya Diaz, temen sekolah Raka, minta aku supply kue untuk usaha cateringnya.”

“Oh ya? Bagus dong,” jawabku ringan.

“Iya. Lumayan banget. Bakalan repeat order terus. Ini aja dia memesan untuk satu minggu ini. Tiap hari seratus piece brownies. Untuk acara pelatihan dinas apa… gitu,” sambung Rani sambil memasukkan brownies ke dalam dus kue putih.  

“Mas, mau ga, sekalian Mas berangkat ke kantor, sekalian antar kue ini?”

“Hmmm…”

“Mau ya. Pliss…,” Rani menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada. Ekspresinya saat memohon malah terlihat sangat lucu. Pipinya memerah. Matanya yang agak sipit, terlihat semakin menipis. Sama halnya seperti saat dia tertawa, matanya mendadak hilang.

“Rumahnya di belakang pabrik yang uda tutup itu, Mas. Pabrik apa tuh namanya?”

“Pabrik baja itu?”

“Iya,” Rani mengangguk.

“Hmmm, berarti aku harus muter dong?”

“Iya. Gak apa-apa ya? Pliss?” dia memasang mode memohon lagi.

Aku mengerutkan kening sedikit.

“Jalan belakang pabrik itu kan lumayan sepi ya? Bukannya dulu pernah ada yang dibegal di situ?”

Rani berhenti sebentar dari pekerjaannya.

“Ah, tapi kan Mas lewatnya pagi,” katanya cepat.

“Lagipula, ngeliat seragam yang dipakai, mana ada begal yang berani sama suamiku ini. Hehehe…,” candanya.

Lihat selengkapnya