Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #25

Roh J.K. Rowling

Begitu tiba di Korem Wirasena, aku langsung mengisi absen kedatangan. Telat lima belas menit. Selain karena belum terbiasa dengan jalanan di area bekas pabrik baja tadi, arus kendaraan di depan Pasar Rakyat pagi ini juga sangat padat. Alhasil aku terlambat tiba di kantor.

Setelah itu aku bergegas menuju ruanganku. Ruang seorang staf administrasi yang bahkan sampai sekarang pekerjaannya masih belum jelas.

Di depan Gedung B, aku berpapasan dengan Harum

“Hey, dari mana?” sapaku.

“Eh, Pak. Dari ruangan Letkol Surya,” jawab Harum, agak terkejut.

“Untuk hari ini,” katanya, sambil matanya bergerak turun naik, menunjuk tumpukan map merah yang dipegangnya.

“Padat merayap. Huh,” sambungnya lagi. Ia mengembuskan napas dari bibir yang dimonyongkan.

“Semangat,” kataku, sambil mengepalkan tangan kanan. Harum hanya menggerakkan alisnya tipis naik turun.

“Hmmm, barangkali saya bisa bantu ngerjain? Toh saya juga gak ada pekerjaan,” kataku, sambil melirik sedikit Harum yang kini berjalan beriringan di kananku.

“Mungkin sebaiknya nunggu arahan komandan, Pak,” jawab Harum.

Aku hanya mengangguk.

Kami lalu masuk ke Gedung C, melalui pintu depan, pintu kayu yang sudah keropos di beberapa sisinya dan sudah tidak bisa dikunci lagi. Tiba di depan pintu ruangan masing-masing, kami berpisah. Harum masuk ke ruangan di sisi kanan lorong, aku masuk ke ruanganku di sisi kiri lorong.

Seperti biasa, sudah menjadi rutinitasku selama empat bulan ini. Aku masuk ruangan, mematikan lampu, lalu membuka jendela. Kadang aku berdiri sejenak di sisi jendela itu, menyaksikan burung pipit yang berloncatan di dahan pohon trembesi, sambil sesaat menikmati hembusan udara pagi dari luar. Setelah itu aku menyapu ruangan dengan menggunakan sapu lantai yang bentuk ijuknya sudah tidak utuh lagi, pendek dan hampir sebagiannya sudah bercopotan, sekedar untuk mengusir debu di lantai, meja dan kursi.

Selanjutnya, jika cahaya matahari yang masuk melalui jendela terlampau sedikit, biasanya kunyalakan kembali lampu di ruanganku. Tapi lebih seringnya, kubiarkan saja gelap sepanjang hari.

Aku langsung menyalakan laptop, membuka file naskah novelku.

Meski di kepalaku belum ada gambaran tentang apa adegan berikutnya yang akan kutulis, namun kalimat dan ekspresi Rani tadi malam saat mengetahui aku sedang membuat sebuah novel, membuat semangatku menjadi surplus pagi ini.

Aku mulai menuliskan adegan apapun yang ada di kepalaku, selama itu masih nyambung dengan alur cerita yang kubuat. Jemariku seperti kerasukan roh seorang J.K. Rawling, atau minimal roh Andrea Hirata. Suntikan semangat dari istriku itu, benar-benar seperti sihir yang mujarab. Ampuh. Aku tenggelam di dalam cerita yang kutulis, hingga tanpa sadar adzan zuhur berkumandang.

Aku meregangkan punggung. Kedua tanganku merentang.

Baru aku sadar, sejak pagi bahkan aku belum minum segelas air pun. Aku berdiri, kuraih tumbler di sudut meja, hendak mengambil air di pantry. Di saat bersamaan aku baru teringat brownies yang dibekalkan Rani tadi pagi. Belum kusentuh sama sekali.

Kukeluarkan kotak berisi brownies itu. Kuambil beberapa potong untuk kumakan. Sisanya, di dalam dus, kubawa keluar. Saat menuju pantry, kulongokkan kepala ke dalam ruangan Harum dan Rudi.

“Ada brownies nih. Bikinan istriku,” kuletakkan di atas meja Rudi.

Lihat selengkapnya