Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #26

Laporan Kronologi Kejadian

Ada rasa lega yang pelan-pelan merayap ke dalam dadaku ketika kata terakhir di naskah itu akhirnya kuketik. Seperti seorang pelari yang tiba di garis akhir tanpa benar-benar yakin sejak awal bahwa ia mampu sampai ke sana. Naskah itu belum selesai sepenuhnya, tentu saja. Masih harus kubaca lagi, kusisir kata demi kata, siapa tahu ada ejaan yang terselip nakal atau kalimat yang belum pada tempatnya.

“Hmmm, nanti malam saja,” gumamku.

Kupijit tombol Ctrl & S secara bersamaan, lalu kututup file naskah cerita itu, kemudian kumatikan laptop.

Kurebahkan tubuh ke sandaran kursi, kedua tanganku bertumpu di belakang kepala. Pandanganku jatuh ke jendela. Di luar, dua burung pipit bertengger di dahan trembesi, berceloteh seperti dua tetangga yang sedang bertukar kabar di sore hari. Untuk sejenak seolah semua beban baru saja lepas dari pundakku.

Sekilas angan-angan itu hadir lagi. Sebuah novel dengan namaku tertulis di sampulnya, berjajar di toko buku besar di kota ini. Lalu saat aku memasuki toko itu, orang-orang melirik ke arahku dan saling berbisik. Beberapa kemudian memberanikan diri untuk menyapaku, lalu meminta tanda tangan pada novelku yang dibelinya.

Senyum itu tiba-tiba saja mengembang di bibirku.

Aku bangkit dari duduk, lalu memasukkan laptop ke dalam tas kerjaku. Kututup jendela, kunyalakan lampu, lalu menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Aku baru saja akan bergegas pulang saat kudapati pintu ruangan Harum dan Rudi masih terbuka. Kulongokkan kepala di mulut pintu.

“Harum, belum pulang?” tanyaku.

“Eh iya, Pak. Belum selesai nih,” jawabnya sedikit kaget.

“Rudi, kemana?”

“Udah pulang duluan, Pak.”

Kuhampiri dia. “Ngerjain apa sih?”

“Ini, Pak,” katanya pelan. “Disuruh buat laporan kronologi kejadian.”

“Kejadian apa?”

“Katanya ada keributan warga di wilayah Koramil 304 dua hari lalu. Dari Kodim sudah kirim laporan awal. Tapi komandan minta kronologi yang lebih rapi untuk diteruskan ke Kodam.

Aku mengangguk pelan.

“Terus?”

“Ini bahan-bahannya. Tapi… saya bingung nyusunnya.”

Harum membuka map itu dan menarik beberapa lembar kertas keluar.

“Sementara, harus beres hari ini juga. Ditunggu di meja komandan,” sambungnya.

Kulihat sekilas lembaran-lembaran itu. Catatan singkat, beberapa potongan kronologi yang ditulis tangan, juga satu laporan singkat yang tampaknya dikirim lewat fax. Isinya tidak berurutan. Beberapa bagian bahkan hanya berupa kalimat pendek.

Aku mengambil satu lembar kertas dan membacanya cepat.

“Ini loncat-loncat,” kataku.

Harum tersenyum kecut.

“Itu dia, Pak. Saya juga merasa begitu.”

Aku menarik satu kursi kosong, kuletakkan di samping mejanya, lalu duduk di situ.

“Coba lihat dulu.”

Aku mulai membaca satu per satu catatan itu. Dari beberapa potongan informasi yang ada, pelan-pelan mulai terbentuk gambaran kejadian di kepalaku.

Lihat selengkapnya