Jalan Lain Menuju Pulang

Galih Priatna
Chapter #27

Live Tiktok

Sore itu aku pulang dengan perasaan lega yang masih mengendap di dada. Membantu Harum tadi sebenarnya bukan hal besar bagiku. Namun entah kenapa ada rasa ringan yang tertinggal setelahnya. Kucoba melupakannya, tapi perasaan itu tetap ada. Seperti air yang perlahan meresap ke tanah, tak terlihat, tetapi terasa.

Aroma cokelat dan mentega langsung menyeruak saat kubuka pintu.

“Mas, lihat!” Rani berteriak, histeris saat aku masuk ke dalam rumah.

Di tangannya ada beberapa lembar uang ratusan ribu yang ia kipas-kipaskan.

“Hasil penjualan kue?” tanyaku.

“Ya,” Rani mengangguk mantap.

“Tapi sebagian besarnya dari hasil live tiktok.”

“Live tiktok?”

Rani mengangguk lebih cepat. Wajahnya merekah, matanya menghilang.

“Jadi, tiap lagi bikin kue itu, aku sambil live tiktok. Orang-orang menonton, banyak banget. Puluhan, kadang ratusan,” jelasnya.

“Terus?” keningku mengerut.

Aku betul-betul tidak mengerti dengan cara kerja live tiktok itu. Bagaimana bisa uang-uang itu datang dari sebuah aplikasi di handphone?

“Orang-orang ada yang langsung order karena tertarik dengan kue yang aku buat, ada juga yang ngasih gift.”

“Gift? Apaan itu?” masih belum hilang kebingunganku.

“Itu loh, orang-orang yang nonton live aku, terus mereka suka, mereka biasanya kirim gift. Nah, gift-gift itu bisa diuangkan,” lanjut Rani.

“Terus, itu uangnya?”

“Iya,” jawabnya sambil mengipas-ngipaskan uang itu.

“Lumayan kan?” katanya lagi.

“Hmmm, iya. Lumayan juga,” kataku.

“Laper nih,” aku mengusap-usap perut.

“Sebentar, aku bikinkan indomie dulu ya,”

“Kok indomie?” tanyaku.

“Iya, aku gak sempet masak tadi. Orderan kue banyak banget.”

“Hmmm, yauda lah.” 

Aku masuk ke kamar, berganti pakaian. Setelah itu, duduk sebentar di sisi tempat tidur.

Kunyalakan HP. Kubuka kembali aplikasi Investasi itu. Masih tidak ada yang berubah. Jumlah saldoku masih tertera disitu.

Saldo awal : Rp2.350.000

Top Up Level Gold : Rp5.000.000

Tapi itu hanya berupa angka. Jumlah aslinya seolah menguap.

Kurebahkan badanku di kasur. Kutatap kosong langit-langit kamar. Pikiran itu kembali singgah. Tentang bagaimana mengembalikan pinjamanku.

Kubuka aplikasi pinjaman online itu. Tertera tanggal jatuh tempo tagihan. Kupejamkan mata, sambil menghitung dalam hati berapa hari lagi tersisa sebelum aku harus membayar pinjaman itu.

“Bun, kaka sama adek kemana?” teriakku sambil tiduran di atas kasur.

“Kakak masih ngaji, adek ikut di rumah Bi Yanti dulu,” jawab Rani dari dapur.

“Dari kapan adek di Bi Yanti?”

“Dari sore.”

Aku mengerutkan dahi. “Kok di rumah Bi Yanti sih?” gumamku.

Aku keluar kamar. Menghampiri Rani yang sedang mengatur piring di meja makan. Semangkuk Indomie dan telor ceplok terlihat sudah siap.

Kuraih piring, menyendok nasi ke piring itu sambil duduk di kursi makan.

“Adek kenapa di rumah Bi Yanti?” tanyaku.

“Tadi sore aku sibuk banget bikin kue,” jawab Rani sambil menempel-nempelkan stiker di dus yang sudah berisi kue brownies.

Lihat selengkapnya