Keesokan paginya, ada rasa berat yang menempel di sekujur tubuh saat aku bangun tidur. Tubuh seperti belum selesai beristirahat. Sisa-sisa lelah itu nampaknya tidak sempat luruh saat tidur. Aku membuka mata pelan, menatap langit-langit kamar yang masih pucat oleh cahaya pagi.
Kuraih HP. Kulihat jam di layarnya. Pukul enam. Bahkan Subuhku pun terlewat pagi ini.
Di luar, hari sudah mulai berjalan, tapi keinginan untuk tetap berbaring terasa jauh lebih kuat daripada niat untuk bangkit. Untuk beberapa saat aku hanya diam di tempat tidur, membiarkan pagi lewat perlahan. Entahlah, aku seperti tidak memiliki sesuatu apapun untuk diselesaikan hari ini. Terlebih setelah naskah novel itu selesai.
Kemana perginya jiwa disiplin sebagai seorang prajurit militer yang selama ini telah mendarah daging? Seolah perlahan menguap seiring dengan rutinitasku yang tidak membutuhkan itu lagi belakangan ini.
Meski demikian, teriakan Rani dari dapur akhirnya membuatku bangkit juga. Kupaksakan menyeret tubuhku ke kamar mandi. Membersihkan badan, lalu bersiap-siap.
“Mas, mau sarapan apa? Nasi goreng atau nasi telur biasa?” tanya Rani yang sedang sibuk di dapur, saat aku berjalan ke kamar mandi.
Kulirik sekali lagi jam di dinding dekat meja makan. “Telur aja,” kataku.
Selesai mandi dan berpakaian, aku sarapan di ruang TV, tidak di meja makan. Sarapanku pagi ini adalah nasi putih dengan telur ceplok.
“Mas, ini ya,” ujar Rani, membawa satu kantong plastik besar berisi tiga box brownies.
“Mas mau gak?”
“Boleh,” jawabku, sambil mengenakan sepatu.
Rani lalu menyerahkan satu dus styrofoam kecil brownies untuk kumakan di kantor nanti. Setelah itu aku pun pamit berangkat.
Seperti hari sebelumnya, aku kembali mengambil jalan area bekas pabrik baja itu. Selepas pertigaan di ujung lapangan bola, kulihat lagi sekelompok remaja dengan tampilan kumuh itu, di luar pagar pabrik. Mereka duduk-duduk, ada yang tiduran, dekat motor vespa gembel mereka.
Sebuah plang besi bertuliskan Sedot WC lengkap dengan nomor telepon menggantung di salah satu motor yang dimodifikasi menyerupai gerobak itu. Di sekelilingnya bergelantungan botol-botol plastik bekas yang saling berbenturan setiap kali tertiup angin.
Entah dari mana datangnya dorongan itu, aku tiba-tiba menghentikan motorku tidak jauh dari mereka. Kuraih dus styrofoam berisi brownies dari dalam tas.
“Sini!” aku melambaiksn tangan.
Salah seorang dari mereka bangkit, setengah berlari menghampiriku. Kuserahkan dus itu kepadanya.
“Makasih, Pak,” ucapnya.
“Iya,” jawabku singkat. Lalu kembali melaju.
Selepas itu aku mampir ke rumah Mama Diaz untuk mengantarkan brownies buatan istriku, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kantor.
***
Setibanya di kantor, alih-alih langsung menuju meja resepsionis di ruang staf untuk mengisi absensi, aku lebih memilih duduk-duduk di atas jok motor di parkiran, sambil scrolling HP tidak jelas. Tidak jauh dariku, di bawah pohon trembesi yang daunnya rindang nampak seorang prajurit sedang membersihkan satu motor inventaris.
Dia menoleh ke arahku, lalu menganggukkan kepala seraya tersenyum.
“Pak,” ujarnya.
Aku balas menganggukkan kepala.
Wajahnya sudah kukenal karena sering berpapasan, tapi namanya aku lupa.
“Rajin bener, Mas,” sapaku saat sudah berdiri di sampingnya.
“Mumpung lagi santai Pak,” jawabnya sambil terus mengelap tanki motor.
“Perasaan bapak jarang terlihat,” sambungnya.
Aku menyeringai. “Eh, iya. Saya lebih sering di ruangan. Jarang keluar.”