Langit sudah mulai turun warna ketika aku keluar dari kantor. Sisa cahaya sore menggantung tipis di antara atap-atap bangunan Korem Wirasena. Udara tidak lagi panas, tapi juga belum benar-benar sejuk. Jenis sore yang membuat jalanan terasa lengang dan pikiran ikut berjalan pelan.
Aku menyalakan motor dan melaju keluar gerbang. Beberapa orang prajurit dan pegawai Korem yang berpapasan denganku sore itu, kusapa sekedarnya saja.
Seperti hari sebelumnya, aku harus mampir terlebih dahulu ke rumah Mama Diaz untuk mengambil box kue istriku. Di sebuah pertigaan di Jalan Haji Kohar, aku berbelok ke kanan, menyusuri jalan yang hanya cukup untuk satu mobil.
Sesampainya di rumah yang bercat biru muda itu, aku langsung menyelesaikan urusanku dengan cepat. Hanya mengambil box lalu langsung melanjutkan perjalanan pulang.
“Nggak ngopi dulu, Pak?” ujar Mama Diaz sambil menyerahkan tiga box kue terbuat dari plastik di teras rumahnya.
“Terima kasih Bu, saya langsung aja. Udah malem,” jawabku.
Lalu aku pun pamit undur diri.
Dari rumah itu aku ambil jalan lurus. Setelah melewati beberapa rumah, kini aku memasuki area belakang bekas pabrik baja. Di sisi kiriku pabrik tua itu, di kananku perkebunan luas yang ditanami pohon sengon. Pencahayaan di sepanjang area itu minim sekali. Hanya ada dua lampu penerang jalan dengan cahaya redup yang masing-masing terletak di ujung jalan. Satu lampu di ujung saat akan masuk area itu, satu lagi di ujung lainnya, di pertigaan dekat lapangan sepak bola. Aku hanya mengandalkan cahaya lampu motorku yang belum LED ini, dan cahaya bulan yang muncul malu-malu di balik awan. Andai awan itu mau mengalah, bergeser sedikit saja, mungkin bulan akan bercahaya bulat utuh.
Dari kejauhan tiba-tiba saja mataku menangkap sekumpulan orang.
Mereka nampak sedang berdiri. Ngumpul.
Di tempat yang gelap itu, tubuh mereka hanya terlihat sebagai siluet saja.
“Mungkin anak-anak Vespa Punk itu,” pikirku.
Meski pikiranku langsung tertaut pada sekumpulan anak vespa punk dengan dandanan kumuh yang selalu kutemui saat melintasi jalan ini, namun ada juga pikiranku yang lain berpikir, mungkin saja bukan. Mungkin saja mereka adalah begal, seperti cerita yang sempat kudengar mengenai area belakang pabrik ini.
Kucoba hitung, ada sekitar lima orang.
Semakin dekat semakin jelas ternyata bukan lima, melainkan enam. Semakin dekat semakin jelas lagi, nampak satu orang berada di tengah sementara lima yang lainnya berdiri mengelilinginya.
Semakin dekat lagi, suara mereka mulai terdengar.
Awalnya hanya seperti orang berbicara keras. Lalu suara itu berubah menjadi bentakan.
“Udah gua bilang, jauhin!”
“Lo gatau siapa dia?!” timpal suara yang lain.
Motor kuperlambat tanpa sadar.
“Kalo gua gak mau jauhin kenapa?” kata orang yang berada di tengah, tidak kalah keras.
Salah satu dari mereka tiba-tiba mendorong orang yang berada di tengah itu. Tubuhnya terhuyung dua langkah ke belakang.
“Bangsat lo!” teriak orang yang mendorong.
Aku sudah cukup dekat sekarang untuk melihat gerakan mereka dengan jelas. Salah satu orang menampar wajah orang yang di tengah itu. Kepalanya langsung terpental ke samping.
Lalu yang lain melayangkan tinjunya ke muka orang itu.
Yang lain lagi menendang.
Orang itu tesungkur.
Tidak ada jeda setelah itu, dua orang langsung mengapitnya di kanan dan kiri
Tendangan datang lagi. Bertubi-tubi.
Satu ke perut.
Satu lagi ke punggung.
“Arghhh…Aduuh…,” yang ditengah hanya bisa merintih. Tangannya berusaha menangkis, meski sulit karena ditahan oleh dua orang yang memeganginya di kanan dan kiri.
“Udah! Udah!” katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.