Setiap manusia memiliki kotak takdirnya masing-masing. Kita sering mengira hidup akan berjalan begitu-begitu saja. Lurus seperti jalan yang setiap hari kita lewati. Kita lupa bahwa takdir bisa saja berubah secepat kilat, tanpa melihat kita siap atau tidak.
Itu pula yang terjadi padaku.
Selama lebih dari empat bulan, aku seperti aktor tanpa peran di tempat tugasku yang baru. Dicueki. Diabaikan. Seolah aku benar-benar tidak ada dalam penglihatan orang-orang. Pagi tadi Letkol Surya tiba-tiba memujiku. Bahkan mengucapkan terima kasih. Lalu sekarang. Aku duduk di balik jeruji besi kantor Polsek. Takdir yang berubah begitu cepat.
Dua jam sudah aku duduk di balik jeruji besi. Dinding selnya lembap dan berbau campuran keringat, besi tua, dan sisa asap rokok yang entah dari siapa. Lampu neon di lorong depan berkedip pelan, membuat bayang-bayang jeruji jatuh panjang di lantai semen.
Sejak dibawa ke kantor polsek oleh dua orang warga tadi, aku sudah melewati serangkaian pertanyaan yang sama berulang-ulang. Nama, alamat, pangkat, satuan, lalu cerita yang harus kuulang dari awal sampai akhir. Aku menjawab semuanya dengan jujur. Tapi wajah penyidik itu tetap datar, seolah setiap kalimatku hanyalah bagian dari cerita yang belum bisa ia percayai. Setelah itu mereka menutup pintu sel dan membiarkanku di sini, sendirian dengan pikiran yang masih berputar pada kejadian di belakang pabrik tua tadi. Aku belum benar-benar mengerti bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini.
Saat pikiranku coba merangkai lagi satu per satu peristiwa sore tadi hingga aku berakhir di tempat ini, terdengar suara langkah di lorong.
“Silahkan ikut saya,” ucap seorang petugas yang mengenakan celana jeans dan jaket kulit, sambil membuka gembok sel. Kata-katanya datar. Dingin, sedingin lantai di dalam sel ini.
Aku berjalan membuntutinya dari belakang, dibawa ke sebuah ruangan. Ada satu buah meja dengan tiga buah kursi di ruangan itu. Dua kursi saling berdampingan, sementara satu kursi lagi berada di seberang yang lain dipisahkan oleh meja kayu yang sudah nampak usang.
Kulihat Rani duduk di salah satu kursi. Saat ia mengetahui kedatanganku di ruangan itu, ia langsung menghambur ke arahku.
“Mas, kenapa bisa gini, Mas?” tangis Rani langsung tumpah di pelukanku.
“Gak tau. Kejadiannya cepet banget,” jawabku berusaha terdengar tenang.
“Silahkan duduk, Bu,” kata polisi tadi. Perlahan pelukan rani pun mengendur.
Dengan air mata yang masih keluar deras, wajah rani menunduk di pundak kiriku, sementara tangannya melingkar di punggungku.
“Kejadiannya gimana, Mas,” tanya Rani. Suaranya tidak terlalu jelas karena beradu dengan tangis.
“Waktu abis ambil box kue, di jalan yang gelap di belakang pabrik, aku lihat ada orang yang dikeroyok. Aku berenti buat nolong orang itu,” jawabku terbata-bata.
“Ibu sabar saja. Pihak kepolisian sedang mendalami kasusnya,” kata polisi tadi, yang kini duduk di hadapan kami dipisahkan oleh meja.
“Bagaimana hasilnya, kami akan beritahukan segera,” sambungnya.
Aku mengangguk, berharap anggukanku akan menular kepada Rani dan berbuah ketenangan dalam dirinya.