"Laa illaha illallah ... Laa illaha illallah ... Laa illaha illallah"
Kalimat tauhid itu terdengar nyaring. Menggema di sepanjang lorong seolah tengah mengabarkan bahwa satu makhluk fana telah kembali pada sang pencipta. Mengoyak keheningan pagi itu.
Sesekali isak bergaung mengiringi doa dan ucapan bela sungkawa yang membahana. Begitu pun dengan obrolan sesama pelayat yang sayup-sayup terdengar. Entah karena saling menanyakan kabar atau sekedar membicarakan update kehidupan terbaru satu sama lain. Hal yang akan sulit mereka lakukan jika dalam keadaan normal.
Kematian.
Momen sebuah perpisahan.
Satu jiwa berpulang dan yang lain turut hadir untuk mengenangnya bersama. Ketika itu, kebaikan dan keburukan berubah menjadi fragmen kenangan. Suatu saat kenangan itu akan diceritakan kembali pada generasi baru. Agar kenangannya tinggal walau raganya telah pergi.
"Turut berduka cita ya, Aksa. Ayahmu orang baik."
"Makasih, Om."
"Maaf, Om nggak bisa lama-lama. Om pamit dulu, ya? Tantemu belakangan ini asam uratnya kambuh. Kasihan kalau duduk lama-lama di lantai. Om nggak tega."
"Nggak papa, Om. Makasih banyak udah nyempetin datang. Salam buat yang lain."
"Insya Allah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aksa menjabat tangan dan mengantarkan kepergian adik ayahnya itu dengan hangat. Namun ketika sosok senja itu berlalu, Aksa menatap jejaknya sendu. Di antara semua saudara ayahnya, Om Wira yang paling mirip dengan mendiang. Hal yang pasti membuat rindu menyeruak padahal baru beberapa jam yang lalu tubuh sang ayah berada tepat di peristirahatan terakhirnya.