Matahari telah menelan hampir seluruh bayangan. Teriknya membakar ubun-ubun kepala, hingga peluh mengalir di pelipis.
Rizal mengusap peluh di dahinya lalu melirik jam tangan.
"Sebentar lagi zuhur," batinnya.
Masih cukup waktu sebelum kereta menuju Surabaya berangkat sore nanti.
Ia melangkah menuju sebuah langgar kecil di sudut Stasiun Jember. Bangunannya sederhana. Dindingnya mulai kusam dimakan usia. Namun suasananya teduh dan tenang, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk para penumpang yang berlalu-lalang di luar.
Setelah menunaikan salat Zuhur, Rizal duduk bersandar pada salah satu tiang kayu.
Itu adalah kali pertama ia melangkahkan kaki menuju Surabaya.
Bayangan tentang kota yang menjadi jantung Jawa Timur berkelebat di benaknya: gedung-gedung tinggi, teknologi maju, dan sebuah dunia yang terasa seperti masa depan.
Ia membayangkan jalanan dipenuhi kendaraan tanpa pengemudi, toko-toko yang melayani pelanggan dengan senyum digital dari layar hologram, dan rumah-rumah yang segala urusannya ditangani oleh robot. Dalam khayalnya, pintu terbuka otomatis menyambut kedatangan, dapur sibuk dengan lengan mekanik yang menyiapkan makanan, sementara sebuah mesin kecil berkeliling rumah memastikan kebersihan tanpa henti. Bahkan, ia sempat membayangkan duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi yang disajikan oleh pelayan robot yang tahu persis selera pahit yang ia sukai.
Angin tipis berembus dari jendela langgar yang terbuka. Perlahan, rasa kantuk mulai merayapi tubuhnya, seolah menariknya kembali dari dunia imajinasi menuju mimpi yang sederhana.
Dalam tidurnya, ia kembali melihat wajah itu.
Seorang gadis.
Wajah yang tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.
Senyumnya sederhana.
Namun entah mengapa selalu berhasil menetap lebih lama dari pada yang seharusnya.
Ia berdiri di tengah keramaian yang samar, menatap Rizal dengan mata yang teduh.
Seakan ingin mengatakan sesuatu.
Namun sebelum sepatah kata terucap..........
"Mas... Mas..."
Suara seseorang terdengar dari kejauhan.
"Mas, bangun."
Rizal membuka mata perlahan.
Pandangan yang semula buram mulai kembali jelas.
Sesosok perempuan berdiri di hadapannya.
Jantungnya berdegup cepat.
Untuk sesaat, ia mengira gadis dalam mimpinya benar-benar muncul di dunia nyata.
Deg.
Deg.
Deg.
Namun beberapa detik kemudian ia tersadar.
Bukan.
ini bukan dia.
"Mas nggak apa-apa?" tanya perempuan itu sambil tersenyum ramah.
Rizal menggeleng cepat.
"Iya, Kak."
"Itu keretanya sudah masuk. Lima menit lagi berangkat."
Rizal langsung menoleh ke arah peron.
Benar saja.
Kereta yang ditunggunya sudah tiba dari tadi.
"Astaghfirullah."
Ia segera berdiri dan meraih tas ranselnya.
"Makasih banyak, Kak."
Perempuan itu hanya tertawa kecil.
"Sama-sama."
Rizal berlari menuju gerbong sambil terus mengutuk dirinya sendiri.
Sedikit lagi ia tertinggal kereta.
Begitu menemukan kursinya, Rizal menjatuhkan tubuh dengan lega.
Kereta mulai bergerak perlahan.
Stasiun Jember perlahan menjauh.