Jalan Pulang

Farhan Bashori Hasan
Chapter #3

Kota yang Tidak Pernah Tidur

 Dua minggu pertama di Surabaya terasa seperti memasuki dunia yang benar-benar berbeda.

Rizal tumbuh di lingkungan pesantren salaf. Hidupnya selama bertahun-tahun diisi jadwal yang teratur. Bangun sebelum subuh. Mengaji hingga larut malam. Kitab-kitab kuning, suara santri menghafal nazam, dan nasihat para kiai adalah pemandangan yang akrab baginya.

Sementara Surabaya...

Kota ini seperti tidak mengenal kata istirahat.

Lampu-lampu jalan masih menyala terang bahkan ketika tengah malam tiba.

Kafe tetap ramai saat orang-orang seharusnya sudah tidur.

Anak-anak muda berkumpul hingga dini hari seolah besok tidak perlu bekerja.

 

Awalnya Rizal hanya menjadi pengamat.

Ia duduk diam.

Memperhatikan.

Mencoba memahami.

Tidak semua yang ia lihat buruk.

Namun banyak hal yang terasa asing.

Terlalu asing.

 

Suatu malam, Fendi menjemputnya menggunakan motor.

"Ayo."

"Mau ke mana?"

"Keluar."

"Keluar ke mana?"

"Kalau tahu tujuan dari awal, itu bukan petualangan."

Rizal menghela napas.

Fendi memang tidak pernah berubah.

Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah kafe yang dipenuhi anak muda.

Musik akustik terdengar dari sudut ruangan.

Lampu-lampu kuning menggantung di langit-langit.

Aroma kopi bercampur suara tawa memenuhi udara.

Rizal merasa sedikit tidak nyaman.

Bukan karena tempatnya buruk.

Ia hanya belum terbiasa.

"Kenapa tegang begitu?" tanya Fendi.

"Aku tidak tegang."

"Bohong."

"Aku hanya heran."

"Heran apa?"

"Kalian nongkrong seperti ini hampir setiap malam?"

Fendi tertawa.

"Selamat datang di kota."

#

Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda.

Fendi dan Aril terus mengajaknya mengenal lingkungan baru.

Kadang mereka pergi ke taman kota.

Kadang ke pusat perbelanjaan.

Kadang hanya duduk di warung kopi sampai larut malam.

Rizal menikmati kebersamaan itu.

Namun ada satu hal yang mulai membuatnya terganggu.

Fendi terlalu bersemangat mencarikan pasangan untuknya.

"Usiamu sudah dua puluh tahun."

"Lalu?"

"masak gak pernah pacaran."

"gak punya uang."

"Itu alasan klasik."

"Memang benar."

Fendi menggeleng.

Menurutnya semua masalah bisa diselesaikan sambil berjalan.

Menurut Rizal, tidak semua hal harus dipaksakan berjalan.

#

Beberapa hari kemudian.

Fendi kembali beraksi.

Kali ini ia mengenalkan Rizal kepada seorang mahasiswi fakultas hukum.

Namanya Dinda.

Mereka berbincang hampir satu jam.

Lihat selengkapnya