Jalan Pulang

Farhan Bashori Hasan
Chapter #4

Retaknya Sebuah Benteng

Awalnya Rizal mengira Nadira hanyalah satu pertemuan biasa.

Sama seperti puluhan orang lain yang pernah ia kenal.

Bertemu.

Mengobrol.

Lalu perlahan menghilang ditelan kesibukan masing-masing.

Namun ternyata tidak.

 

Tiga hari setelah acara diskusi itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Dari nomor yang tidak tersimpan.

Nadira.

Rizal sempat menatap layar beberapa detik.

Tidak langsung membalas.

Bukan karena tidak ingin.

Ia hanya tidak terbiasa.

Seumur hidupnya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama kitab daripada mengobrol dengan perempuan.

Pesan itu sederhana.

Assalamu'alaikum.

Buku yang kemarin Mas rekomendasikan judulnya apa ya? Aku lupa mencatat.

Rizal membaca ulang dua kali.

Lalu membalas.

Wa'alaikumussalam.

"Filosofi Teras". Kalau suka buku reflektif mungkin cocok.

Tak lama kemudian balasan datang.

Wah, terima kasih.

Aku cari besok.

Percakapan selesai.

Sangat biasa.

Namun anehnya, malam itu Rizal beberapa kali membuka kembali layar ponselnya.

Seolah berharap ada pesan lain yang muncul.

 

Hari demi hari berlalu.

Percakapan mereka mulai bertambah.

Awalnya hanya soal buku.

Kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas.

Tentang pendidikan.

Tentang keluarga.

Tentang cita-cita.

Tentang masa depan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rizal menemukan seseorang yang benar-benar nyaman diajak berbicara.

Bukan karena Nadira selalu setuju dengannya.

Justru sebaliknya.

Perempuan itu sering membantah pendapatnya.

Sering mengkritik cara berpikirnya.

Kadang membuat Rizal kesal.

Namun selalu berhasil membuatnya berpikir lebih jauh.

Itulah yang membuatnya berbeda.

 

Suatu malam.

Rizal sedang membaca kitab di kamar ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Nadira.

Lagi apa?

Pertanyaan sederhana.

Namun entah mengapa membuatnya tersenyum.

Membaca.

Kitab lagi?

Iya.

Serius amat hidupmu.

Rizal tertawa kecil.

Memangnya kenapa?

Kadang aku heran.

Apa kamu nggak pernah bosan?

Rizal terdiam.

Pertanyaan itu sebenarnya pernah muncul dalam benaknya.

Namun tidak pernah benar-benar ia pikirkan.

Tidak juga.

Hebat.

Lihat selengkapnya