Jalan Pulang

Farhan Bashori Hasan
Chapter #6

Saat Hati Mulai Menjadi Pusat

 Rizal pernah mendengar sebuah nasihat dari gurunya di pesantren.

"Setan tidak selalu mengajak manusia berlari menuju maksiat. Kadang ia hanya mengajak berjalan perlahan ke arah yang salah."

Dulu ia menganggap nasihat itu biasa saja.

Kini ia mulai memahaminya.

 

Perubahan besar jarang terjadi dalam semalam.

Ia datang dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan kecil.

Dan itulah yang sedang terjadi pada Rizal.

Awalnya hanya pesan singkat.

Lalu panggilan telepon.

Kemudian pertemuan-pertemuan yang semakin sering.

Hingga tanpa sadar, hampir setiap hari selalu ada Nadira dalam aktivitasnya.

Jika pagi hari ada kabar dari Nadira, suasana hatinya terasa lebih baik.

Jika seharian tidak ada pesan, pikirannya menjadi gelisah.

Semua terjadi begitu alami hingga ia tidak menyadari betapa bergantungnya dirinya.

 

Suatu sore mereka bertemu di sebuah toko buku.

Mereka berkeliling dari rak ke rak.

Membahas buku yang pernah dibaca.

Menertawakan sampul buku yang aneh.

Saling merekomendasikan bacaan favorit.

Sederhana.

Namun menyenangkan.

Saat hendak pulang, Nadira berhenti di depan sebuah rak novel.

"Kalau suatu hari kamu menulis buku, kira-kira tentang apa?"

Rizal berpikir sejenak.

"Mungkin tentang perjalanan hidup."

"Serius amat."

"Lalu menurutmu?"

Nadira tersenyum.

"Tentang orang-orang yang berusaha menjadi baik meski berkali-kali gagal."

Rizal memandangnya beberapa detik.

Entah kenapa.

Kalimat itu terasa seperti menggambarkan dirinya.

 

Malamnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rizal melewatkan kajian rutin yang biasa ia ikuti.

Alasannya sederhana.

Nadira mengajaknya menonton pertunjukan musik kecil di sebuah kafe.

"Aku cuma sekali minta ditemani."

Begitu kata Nadira.

Dan Rizal mengiyakan.

Padahal biasanya ia tidak pernah melewatkan kajian tersebut.

Tidak pernah.

Namun malam itu ia memilih hal lain.

Saat berjalan pulang, hati kecilnya sempat bertanya.

"Kenapa aku begitu mudah mengubah prioritas?"

Namun pertanyaan itu segera tenggelam oleh rasa senang karena menghabiskan waktu bersama Nadira.

#

Hari-hari berikutnya berlalu semakin cepat.

Mereka mulai saling bercerita tentang masa lalu.

Tentang luka yang pernah dialami.

Tentang mimpi yang belum tercapai.

Tentang ketakutan yang tidak pernah mereka tunjukkan kepada orang lain.

Dan semakin banyak cerita yang dibagikan, semakin dekat pula jarak di antara mereka.

#

Suatu malam.

Rizal sedang membaca pesan dari Nadira ketika Fendi tiba-tiba masuk ke kamar.

"Masih chat?"

Rizal mengunci layar ponselnya.

"Tidak."

"Bohong."

"Ada perlu apa?"

Lihat selengkapnya