Ada masa ketika Rizal percaya bahwa dirinya cukup kuat untuk menjaga batas.
Ia percaya bahwa selama niatnya baik, semuanya akan baik-baik saja.
Ia percaya bahwa dirinya mampu mengendalikan hati.
Namun hidup sering kali mengajarkan bahwa manusia tidak jatuh karena satu kesalahan besar.
Manusia jatuh karena seribu langkah kecil yang dianggap tidak berbahaya.
Dan tanpa disadari, Rizal telah menempuh banyak langkah itu.
Hubungannya dengan Nadira semakin dekat.
Terlalu dekat.
Mereka masih belum memiliki status apa pun.
Namun hampir setiap orang yang melihat mereka akan mengira keduanya sedang menjalin hubungan.
Mereka saling mengabari.
Saling mencari.
Saling menunggu.
Saling merindukan.
Meski tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan.
Suatu malam, Fendi kembali mengingatkannya.
"Kalau serius, datang ke rumahnya."
Rizal diam.
"Kalau belum siap, jaga jarak."
Rizal tetap diam.
"Jangan menggantungkan seseorang terlalu lama."
Untuk pertama kalinya, Rizal merasa tidak suka mendengar nasihat itu.
Bukan karena salah.
Justru karena terlalu benar.
Beberapa hari kemudian, Nadira mengajaknya menonton film.
Awalnya Rizal menolak.
Namun setelah beberapa kali dibujuk, ia akhirnya mengiyakan.
"Ini terakhir," katanya pada dirinya sendiri.
Padahal ia tahu.
Kalimat itu sudah terlalu sering digunakan.
Film selesai menjelang malam.
Ketika mereka keluar dari bioskop, langit sudah dipenuhi awan gelap.
Angin bertiup cukup kencang.
"Sepertinya bakal hujan," kata Nadira.
Rizal mengangguk.
"Mudah-mudahan kita sampai duluan."
Namun mereka kalah cepat.
Baru beberapa kilometer meninggalkan pusat kota, hujan turun dengan deras.
Sangat deras.
Butiran air menghantam jalan seperti ribuan kerikil kecil.
Pandangan mulai kabur.
Jalanan menjadi licin.
Rizal memperlambat motor.
"Kita menepi dulu."
Nadira mengangguk.
Mereka berhenti di sebuah gubuk kecil milik petani yang berdiri di pinggir jalan.
Bangunannya sederhana.
Hanya beratap seng dengan beberapa bangku kayu di dalamnya.
Namun cukup untuk berlindung dari hujan.
Suara hujan menghantam atap seng dengan keras.
Menciptakan irama yang membuat suasana terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Nadira duduk di salah satu bangku.
Tubuhnya sedikit menggigil.
"Kedinginan?"
Perempuan itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Rizal melepas jaketnya.
Jaket lama ayahnya.
Jaket yang tak pernah sekali pun ia pinjamkan kepada siapa pun, bahkan kepada fendi dan aril sahabat terbaiknya.
"Pakailah."
Nadira sempat menolak.
Namun akhirnya menerima.
"Terima kasih."
Rizal hanya tersenyum.