Hari-hari setelah malam hujan itu terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkan Rizal.
Ia sempat berpikir bahwa begitu ia mengambil keputusan yang benar, semuanya akan menjadi mudah.
Ternyata tidak.
Sangat tidak.
Malam pertama setelah kejadian itu, ia tidak bisa tidur.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan malam hujan kembali muncul.
Suara deras air.
Wajah Nadira.
Perasaan yang nyaris menyeretnya terlalu jauh.
Semua berputar tanpa henti di dalam kepalanya.
Ia bangun sebelum subuh.
Duduk sendirian di lantai kamar.
Lalu menangis lagi.
Bukan karena menyesali keputusan yang diambil.
Melainkan karena menyadari betapa rapuh dirinya.
Selama ini ia terlalu percaya diri.
Terlalu yakin bahwa dirinya kuat.
Padahal kenyataannya tidak.
Manusia memang sering merasa aman sebelum diuji.
Pagi itu, setelah salat Subuh, Rizal pergi ke masjid yang sudah lama tidak ia datangi.
Masjid kecil yang dahulu sering menjadi tempatnya menenangkan diri.
Tempat yang beberapa bulan terakhir jarang ia kunjungi.
Ia duduk di sudut ruangan.
Memandangi jamaah yang perlahan pulang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seperti seseorang yang baru pulang ke rumah.
Proses taubat ternyata tidak semudah mengucapkan istighfar.
Ia tidak selesai dalam satu malam.
Tidak selesai dalam satu minggu.
Bahkan tidak selesai dalam satu bulan.
Ada hari ketika Rizal merasa kuat.
Ada hari ketika ia kembali terjatuh.
Ada hari ketika hatinya terasa tenang.
Ada hari ketika kerinduannya kepada Nadira datang begitu kuat hingga membuat dadanya sesak.
Namun setiap kali itu terjadi, ia terus berusaha bangkit.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Perlahan ia mulai membangun ulang hidupnya.
Ia kembali menghadiri majelis ilmu.
Kembali membaca kitab secara rutin.
Kembali membiasakan tahajud meski sering kalah oleh rasa kantuk.
Kembali memperbaiki hubungan dengan Tuhan yang sempat ia abaikan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Hubungannya dengan Nadira berubah.
Mereka tidak benar-benar bermusuhan.
Namun juga tidak lagi sedekat dulu.
Percakapan menjadi lebih jarang.
Pertemuan semakin sedikit.
Hingga akhirnya hampir tidak ada lagi.
Kadang Rizal melihat unggahan Nadira di media sosial.
Kadang ia mendengar kabarnya dari teman-teman.
Hanya itu.
Dan setiap kali mendengar namanya, selalu ada rasa yang bergerak di dalam dada.
Namun kali ini berbeda.