Malam setelah pertemuan di kafe itu, Rizal tidak langsung tidur.
Ia duduk di balkon kontrakannya.
Secangkir kopi hangat berada di tangannya.
Namun sejak satu jam lalu kopi itu tidak berkurang sedikit pun.
Pikirannya masih berada di kafe.
Masih pada pertemuan yang terasa seperti mimpi.
Atau mungkin memang mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang baru saja tersimpan beberapa jam lalu.
Rizal tersenyum tanpa sadar.
Sudah sampai rumah?
Ia membaca pesan itu beberapa kali.
Aneh.
Di usia yang tidak lagi muda, ternyata jantung masih bisa berdebar karena hal sederhana seperti ini.
Alhamdulillah sudah.
Kamu?
Balasan datang tidak sampai satu menit.
Sudah juga.
Dan aku masih nggak percaya kita ketemu lagi.
Rizal tersenyum.
Karena sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Percakapan malam itu membawa mereka kembali ke masa lalu.
Masa ketika mereka masih sangat muda.
Masa ketika semuanya terasa lebih sederhana.
Masa ketika mereka pertama kali bertemu.
Ternyata gadis itu masih mengingatnya.
Masih mengingat diskusi kecil yang dulu pernah mereka lakukan.
Masih mengingat buku yang pernah ia pinjamkan.
Masih mengingat sebuah kejadian yang bahkan hampir dilupakan Rizal.
"Jadi sebenarnya kamu masih ingat semuanya?" tanya Rizal.
Balasan itu datang beberapa detik kemudian.
Tidak semuanya.