Pagi itu, matahari baru saja menyembul dari balik pepohonan ketika aroma nasi goreng memenuhi rumah sederhana milik keluarga Nadira. Rumah itu memang tidak besar, tetapi selalu dipenuhi kehangatan.
"Dira... bangun, Nak. Nanti terlambat sekolah," panggil Siti, ibunya, sambil mengetuk pintu kamar.
"Sebentar, Bu..." sahut Nadira dengan suara serak.
Beberapa menit kemudian, gadis berusia delapan belas tahun itu keluar mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi. Rambut hitamnya dikuncir sederhana. Wajahnya yang cantik tanpa riasan membuat siapa pun mudah menyukainya.
"Masyaallah, cantik sekali anak Ibu," puji Siti sambil merapikan kerah seragam putrinya.
Nadira tersenyum kecil.
"Ah, Ibu lebay."
"Biarin. Anak sendiri kok."
Di ruang tengah, Rahman, ayah Nadira, sedang membaca koran bekas sambil menyeruput teh hangat sebelum berangkat bekerja sebagai sopir angkutan.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Iya, Yah."
Rahman mengangguk bangga.
"Nanti sore jangan lupa belajar. Minggu depan pengumuman beasiswa universitas, kan?"
"Iya."
Ayahnya tersenyum lebar.
"Ayah yakin kamu pasti lolos."
Kalimat itu membuat Nadira ikut tersenyum. Sejak kecil, ia memang selalu menjadi kebanggaan keluarga. Nilainya hampir selalu terbaik di sekolah. Guru-guru mengenalnya sebagai murid yang sopan dan rajin.
Harapan kedua orang tuanya hanya satu, melihat Nadira kuliah. Mereka rela bekerja keras demi mewujudkan mimpi itu. Setelah sarapan, Nadira berpamitan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," jawab kedua orang tuanya hampir bersamaan.
---
Di sekolah, suasana begitu ramai. Para siswa sibuk membicarakan rencana setelah lulus.
"Nadira!"
Seorang gadis modis melambaikan tangan, namanya Karin. Murid pindahan yang baru beberapa bulan masuk sekolah. Karin dikenal cantik, percaya diri, dan berasal dari keluarga berada.
"Eh, Rin."
"Kamu nanti ikut nongkrong nggak habis sekolah?"
Nadira menggeleng.
"Nggak bisa. Aku harus pulang."
"Kamu pulang terus."
"Ayah sama ibu pasti nunggu."
Karin tertawa kecil.
"Kamu ini kayak anak SD saja."
Nadira hanya tersenyum. Bel tanda masuk berbunyi, pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat jam istirahat, Karin kembali mendekati Nadira.
"Aku serius, lho. Malam Sabtu nanti kita jalan."
"Malam?"
"Iya."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Nggak diizinin."
Karin mendesah panjang.