Jalan Pulang Yang Terlambat

Maria Ulfa
Chapter #2

Kebohongan yang berhasil ditutupi

Minggu pagi di rumah keluarga Rahman selalu dimulai dengan kesibukan sederhana. Siti menjemur pakaian di halaman, sementara Rahman memperbaiki sepeda tua yang sudah bertahun-tahun menemaninya berangkat bekerja.

Di dalam rumah, Nadira baru saja bangun. Semalaman ia sulit memejamkan mata. Bayangan pesan singkat dari ayahnya terus berputar di kepalanya.

"Ayah cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."

Ia menggenggam ponselnya erat. Rasa bersalah masih ada, tetapi perlahan tertutup oleh kenyataan bahwa kebohongannya tidak terbongkar.

"Kalau sekali saja, mungkin tidak apa-apa," gumamnya pelan.

"Dira!" suara ibunya terdengar dari luar.

"Iya, Bu," jawab Dira.

"Ayo sarapan."

Nadira keluar kamar dengan senyum yang dipaksakan. Rahman langsung menyambutnya.

"Belajar kelompoknya sampai jam berapa semalam?"

"Jam... sepuluh, Yah," jawab Dira dengan tenang.

"Bagus. Ayah kira lebih malam."

Nadira hanya mengangguk. Lagi-lagi ia berbohong dan lagi-lagi ayahnya mempercayainya tanpa sedikit pun rasa curiga.

---

Hari Senin, sekolah kembali ramai. Di depan gerbang, Karin sudah menunggu bersama dua temannya, seorang gadis berambut pendek bernama Maya, terkenal cerewet dan suka menjadi pusat perhatian.

Di sampingnya berdiri Vina, perempuan berpenampilan anggun yang selalu mengikuti tren media sosial.

"Nah, bintang kita datang!" seru Maya.

Nadira tertawa kecil.

"Kalian lebay."

"Kamu ternyata seru juga kalau diajak keluar," ujar Vina.

"Awalnya kupikir kamu anak rumahan yang nggak bakal mau nongkrong."

Karin merangkul bahu Nadira.

"Aku bilang juga apa? Tinggal dibuka sedikit pintunya."

Mereka tertawa bersama, tak jauh dari sana, seorang laki-laki memperhatikan mereka. Namanya Raka, ia ketua Osis yang sejak lama mengenal Nadira sebagai siswi teladan.

Ia mengernyit.

"Aneh, sejak kapan Nadira dekat dengan Karin?" ucapnya.

Di samping Raka berdiri sahabatnya, Fikri.

"Memangnya kenapa?"

"Entahlah, aku merasa heran aja," jawabnya.

"Karin itu anak gaul."

"Lingkungannya agak bebas, aku hanya bingung kenapa Nadira bisa dekat dengan Karin," ucapnya sambil terus menatap kearah Nadira dan Karin.

Fikri mengangguk pelan.

"Mudah-mudahan Nadira nggak ikut-ikutan," ucap Raka.

---

Sepulang sekolah, Karin kembali mengajak Nadira.

"Kita ke kafe, yuk."

"Nggak dulu."

"Ayolah."

"Aku harus pulang."

"Sebentar saja," Maya ikut membujuk Nadira.

"Nggak enak kalau cuma bertiga."

Nadira bimbang, ia melihat jam. Kalau hanya satu jam, nungkin ayah dan ibunya tidak akan tahu.

"Aku ikut," ucap Nadira.

"Yes," Maya dan Karin terlihat senang.

Lihat selengkapnya