Jalan Pulang Yang Terlambat

Maria Ulfa
Chapter #3

Langkah kecil menuju jurang kehancuran

Sudah hampir dua bulan sejak Nadira mengenal dunia pertemanan Karin. Dalam waktu sesingkat itu, hidupnya berubah tanpa ia sadari.

Di rumah, Nadira masih menjadi putri yang lembut dan penurut. Ia tetap membantu ibunya menyapu rumah, mencuci piring, bahkan menemani ayahnya menikmati teh hangat di teras setiap malam.

Namun, di luar rumah, ia mulai menjalani kehidupan yang berbeda. Ia lebih sering pulang malam, lebih sering berbohong dan lebih sering menyembunyikan ponselnya ketika ada pesan masuk.

Pagi itu, Rahman sedang memperbaiki kaca jendela yang retak ketika seorang tetangga, Pak Yusuf, menghampiri.

"Pak Rahman."

"Oh, Pak Yusuf. Silakan duduk."

Pak Yusuf tersenyum.

"Saya dengar Nadira mau daftar kuliah?"

"Iya, Pak. Insyaallah kalau rezekinya ada."

"Anaknya pintar. Sayang kalau sampai tidak kuliah."

Rahman tersenyum bangga.

"Makanya saya kerja lebih giat."

Pak Yusuf mengangguk.

"Semoga sukses."

Percakapan itu didengar Siti dari dapur. Senyum tipis menghiasi wajahnya, meski hidup pas-pasan, mereka selalu yakin bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan anak mereka. Tidak ada kemewahan di rumah itu, tidak ada televisi besar atau perabot mahal. Namun, ada cinta yang selalu cukup untuk menghangatkan setiap sudut rumah.

Di sekolah, pengumuman hasil seleksi beasiswa akhirnya ditempel di papan informasi, puluhan siswa tampak berdesakan untuk melihat pengumuman tersebut.

"Nadira!"

Karin menarik tangan sahabatnya.

"Lihat!"

Nadira mencari namanya dengan jantung berdebar, beberapa detik kemudian, matanya membelalak.

Nadira Rahma Putri.

Ia lulus Seleksi Beasiswa Tahap Pertama.

"Alhamdulillah..."

Air mata haru menggenang di pelupuk matanya dan Karin tampak memeluknya.

"Selamat ya!"

Tak lama kemudian, Raka ikut menghampiri.

"Selamat, Nadira."

"Terima kasih."

"Kamu memang pantas."

Guru BK, Bu Lestari, bahkan memanggil Nadira ke ruangannya.

"Kami bangga padamu."

"Terima kasih, Bu."

"Tapi perjuanganmu belum selesai. Tahap wawancara sangat menentukan."

Nadira mengangguk mantap.

"Saya akan belajar lebih keras."

"Jaga pergaulanmu. Jangan sampai fokusmu terganggu."

Kalimat terakhir Bu Lestari membuat Nadira sedikit terdiam. Apakah gurunya mengetahui sesuatu?

***

Sore harinya, Rahman membeli satu kotak martabak sebagai bentuk syukur. Mungkin bagi sebagian orang, itu makanan biasa. Akan tetapi bagi keluarga Rahman, martabak adalah hidangan istimewa yang hanya dibeli pada momen-momen tertentu.

"Makan... makan!" seru Siti sambil tersenyum.

Rahman memandang Nadira penuh haru.

"Ayah tahu kamu pasti bisa."

Nadira memeluk ayahnya.

"Terima kasih sudah selalu percaya sama Dira, Yah."

"Selama kamu mau berusaha, Ayah akan selalu percaya."

Kalimat itu kembali membuat hati Nadira terasa sesak, kepercayaan. Itulah yang selama ini diam-diam mulai ia khianati.

Malamnya, ponsel Nadira kembali berbunyi.

"Karin," gumamnya, ketika membuka kotak pesannya.

"Besok malam ada acara ulang tahun Rio, datang ya."

Nadira membalas singkat.

"Aku lihat dulu."

Lihat selengkapnya