Jalan Pulang Yang Terlambat

Maria Ulfa
Chapter #4

Kebohongan demi kebohongan

Hujan turun sejak subuh, membasahi atap rumah sederhana keluarga Rahman. Udara terasa dingin, tetapi dapur tetap hangat oleh aroma sayur bening dan ikan goreng yang dimasak Siti.

Seperti biasa, Siti bangun lebih awal. Setelah salat Subuh, ia menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami serta putrinya.

"Dira... bangun, Nak. Nanti kesiangan," panggilnya lembut.

Tak lama kemudian, Nadira keluar dari kamar. Wajahnya tampak pucat karena semalam baru tidur menjelang dini hari.

"Kamu sakit?" tanya Siti khawatir.

Nadira menggeleng cepat.

"Cuma kurang tidur, Bu," jawabnya sambil menatap sang ibu.

"Belajar terus ya?"

"Iya."

Rahman yang sedang mengenakan jaket kerjanya tersenyum bangga.

"Anak Ayah memang rajin."

Kalimat itu kembali membuat hati Nadira terasa tertusuk, ia hanya mampu menundukkan kepala sambil mengaduk nasi di piringnya.

***

Hari itu, Bu Lestari membagikan hasil ujian simulasi wawancara beasiswa.

"Nadira."

"Iya, Bu."

"Kamu masih yang terbaik."

Teman-teman sekelas bertepuk tangan. Namun, Bu Lestari tidak langsung mempersilakan Nadira duduk.

"Sebentar."

Nadira menghampiri meja guru.

"Ada apa, Bu?"

Bu Lestari memperhatikan wajah Nadira beberapa saat.

"Kamu sedang ada masalah?" tanya Bu Lastri.

Nadira sedikit terkejut.

"Tidak, Bu."

"Kamu terlihat sering mengantuk."

"Mungkin karena banyak belajar."

Bu Lestari tersenyum tipis.

"Semoga benar begitu."

Nadira mengangguk. Namun, entah mengapa, ia merasa gurunya mulai menyadari perubahan dalam dirinya.

Jam istirahat, Karin, Maya, Vina, dan Salsa sudah menunggu di kantin.

"Kita ke tempat baru nanti sore," kata Maya antusias.

"Di mana?" tanya Nadira.

"Coffee lounge dekat alun-alun."

"Aku nggak bisa lama."

"Kamu sekarang ngomong begitu terus."

Nadira tersenyum canggung.

"Ayah pasti nanya."

Karin mengangkat bahu.

"Tinggal bilang ada rapat sekolah."

"Kalau ketahuan?"

"Selama ini ketahuan?"

Nadira terdiam sejenak.

"Tidak," jawabnya.

"Ya sudah, lanjutkan aja," ucap Karin enteng.

Selama ini semua kebohongannya berjalan mulus dan itulah yang membuatnya semakin berani.

Sore harinya mereka berkumpul di sebuah coffee lounge yang sedang populer di kalangan anak muda. Tempat itu nyaman, dipenuhi lampu-lampu hangat dan musik akustik yang mengalun pelan. Rio dan Kevin sudah lebih dulu datang.

Lihat selengkapnya