Jalan Pulang Yang Terlambat

Maria Ulfa
Chapter #5

Undangan awal kehancuran

Pagi itu, langit tampak cerah setelah hujan semalaman mengguyur kota. Embun masih menempel di dedaunan ketika Rahman bersiap berangkat bekerja. Sebelum keluar rumah, seperti biasa ia menghampiri kamar Nadira.

"Dira."

"Iya, Yah?"

"Jangan lupa makan siang."

"Iya."

"Belajar yang rajin. Tinggal sedikit lagi kamu lulus."

Nadira mengangguk sambil tersenyum.

"Doakan Dira ya, Yah."

Rahman mengusap kepala putrinya.

"Setiap selesai salat, Ayah selalu mendoakanmu."

Ucapan itu membuat dada Nadira kembali terasa sesak. Belakangan ini, setiap perhatian kecil dari ayahnya justru berubah menjadi rasa bersalah yang semakin sulit ia sembunyikan.

***

Di sekolah, suasana mulai berubah. Semua siswa sibuk mempersiapkan ujian akhir dan kelulusan. Bu Lestari membagikan jadwal wawancara beasiswa.

"Nadira."

"Iya, Bu."

"Wawancaramu hari Selasa depan."

"Baik, Bu."

"Persiapkan dirimu."

"Siap, Bu."

Setelah guru keluar kelas, Raka menghampiri Nadira.

"Selamat."

"Terima kasih."

"Aku yakin kamu lolos."

"Aamiin."

Raka tersenyum tipis.

"Jangan sia-siakan kesempatan ini."

Belum sempat Nadira menjawab, Karin datang sambil menggandeng lengan Maya.

"Dir!"

"Apa?"

"Vila jadi hari Sabtu."

Nadira langsung menegang.

"Sabtu?"

"Iya."

"Tapi..."

"Semua sudah bayar."

Rio ikut mendekat.

"Kalau kamu nggak datang, acaranya kurang lengkap."

Nadira menatap wajah teman-temannya satu per satu. Semuanya tampak begitu bersemangat.

"Aku belum minta izin."

Karin terkekeh.

"Seperti biasa."

Ucapan itu membuat Maya dan Vina ikut tertawa. Nadira hanya mampu tersenyum hambar.

Sepulang sekolah, Nadira duduk di halte sambil memikirkan alasan apa yang akan ia katakan kepada kedua orang tuanya.

Kegiatan sekolah? Belajar kelompok Lomba? Semua alasan itu sudah terlalu sering ia gunakan.

Ponselnya bergetar, pesan dari Karin masuk.

"Kalau perlu, bilang ada pelatihan beasiswa. Orang tuamu pasti percaya."

Nadira menutup layar ponselnya. Entah sejak kapan ia begitu mudah menerima saran untuk berbohong. Dulu, ia bahkan merasa bersalah ketika lupa mengembalikan uang kembalian seribu rupiah kepada ibunya.

Sekarang... ia mampu menyusun kebohongan tanpa banyak berpikir.

Sore itu, rumah keluarga Rahman terasa lebih ramai. Adik Nadira, Fahri, baru saja menerima rapor semester.

Lihat selengkapnya