"Nah, ini bapaknya si bos. Dia yang bangun pabrik ini," jelas Pak Han.
Sore itu si Geni nemu album foto lawas yang berisi pekerja generasi pertama pabrik ini. Beberapa gue kenal karena orangnya masih kerja di sini. Tentu dengan wajah yang sepuluh tahun lebih muda.
"Kamu tahu, Es?" Pak Han, kepala bagian gue, ngelirik gue kemudian melihat ruang office yang dibatasi kaca nako. "Dia mati di sini."
"Oh, gitu, Pak...." Gue ga tahu harus bereaksi kayak apa.
Pantes aja bos yang sekarang itu labil. Masih muda, ga ada pengalaman. Ternyata harus nerusin usaha bokap mendadak. Sampe berenti kuliah, katanya.
"Pembunuhnya ga diketahui, Es."
He? Dibunuh?
Pak Han merapatkan tubuh ke meja, begitu juga si Geni. Gue reflek ikutan. Ada hawa-hawa misteri gelap yang tercium. Udara mendadak turun beberapa derajat fahrenheit.
"Katanya, dibunuh ninja!" setengah berbisik Pak Han.
"Masa, sih, Pak?" Keinget ninja assasin-lah, kan, gue.
"Kamu tahu, kan, pintu kantor pake sandi?"