"Lu 154 rebu, Es!" seru Amir yang nagih utang pulsa setelah gajian cair. Emang gercep makhluk satu itu dalam hal menagih utang.
Dua lembar uang merah gue keluarin dari amplop. Ya. Amplop. Ga ada transfer-transferan. Gaji lu bakal dibungkus amplop kalo lu kerja di sini.
"Ga ada empat rebu, lu?" tanya Amir seraya mengasongkan selembar uang gocapan.
Gue ngeluarin semua duit di kantong ke atas meja.
"Nah, tuh... ada!" seru Amir girang. Diambilnya dua lembar uang dua ribuan dan diletakkannya uang gocap di meja sebagai gantinya.
"Thank you." Habis itu Amir lanjut ke meja selanjutnya. Semua orang di ruangan ini emang ngisi pulsa selalu ngebon sama Amir.
"Es... kita lembur wajib mulai besok," bisik Geni.
Gue melihat Geni dengan tatapan gak percaya. Mana ada sejarahnya bagian gambar lembur. "Admin mah enggak kali."
"Ih... ga setia kawan, lu!" seru Geni.
"Emang lu dapat kabar dari mana, Gen?" tanya gue setengah berbisik.
"Tadi gue ga sengaja denger pembicaraan manajer produksi sama Pak Han." Geni manyun. "Lu ikut lembur, ya? Mayan tau duitnya...."
"Males gue."
"Yeuuuu... Orang males pangkal miskin!" Geni melempar beberapa lembar kertas padaku. "Lagian kalo lembur lu cuma leha-leha doang. Tapi dapet duit. Kurang enak apa?"
Kata-kata Geni nyangkut di kepala gue. Sampe pulang kerja gue berpikir bahwa gagasan Geni boleh juga.
"Woi! Jangan ngelamun. Kesambet entar," ucap Pak Jae. "Mending maen hayu...."
Gue berhasil menangkap raket yang Pak Jae lempar. "Bukan ngelamun, Pak," sanggahku. "Cuma lagi mikirin sesuatu."