"Geni... emang bener-bener lu, Tong!" seru Pak Hagi yang sedari jam empat sore tadi ikutan lembur bersamaku, Geni, Amir dan Lilo.
Geni cuma diam saja. Wajahnya tampak tidak menyembunyikan rasa bersalah. Sedari tadi Geni yang mengambil data harian di ruang kosong berisi mesin tak terpakai dan menyortirnya berdasarkan tanggal.
"Bapak mau pulang, ya. Ini istri nanyain mulu kapan pulang," kata Pak Hagi yang tengah membereskan barang-barangnya.
"Oh, iya, Pak. Gak apa-apa pulang aja. Makasih banyak mau bantu ya, Pak," ucapku. Pak Hagi hanya mengangguk kemudian berpamitan pulang. Sebenarnya memang ini jadwal pulang lembur reguler. Tapi gegara Geni beberapa orang yang tersisa bantuin gue ngerjain laporan.
"Banyak banget kerjaan kamu, Es," ujar Lilo yang membantuku menginput data yang telah disortir setelah kerjaannya sendiri selesai. "Kirain jadi admin enak." Lilo meregangkan badan.
"Enak kalau lagi sepi produksi. Kalau lagi rame ya, gini lah," sahut gue. Masih kesel gue sama Geni. Gegara dia gue harus lembur. Tenggorokan terasa kering dari tadi jadi gue putuskan untuk mengambil air.
"Airnya habis," kata Lilo lagi ketika melihat gue membawa tumbler ke depan.
Gue perhatiin galon di depan emang kosong. Artinya gue harus ngambil air dari sumbernya langsung. Di depan ruang laborat. Di sana ada keran air yang langsung bisa diminum. Semua pekerja di sini minum air dari situ. Kecuali para staff yang minum air galon kemasan bermerk. Ya, meskipun merk-nya ga terkenal-terkenal amat juga, sih.
Keluar ruang gambar, suasana sepi banget. Cuma terdengar suara-suara mesin dari bawah. Laborat juga gelap dan sepi banget ga ada orang karena cuma satu shift aja. Biasanya ada satu dua pekerja yang antre ngambil air minum pake galon tapi sekarang benar-benar ga ada orang.
Agak deg-degan juga nunggu air penuh. Padahal cuma 700 ml aja isi tumbler gue. Gimana kalau harus ngisi satu galon sendirian? Mendadak gue merinding. Katanya kalau tengah malam di sini suka ada penampakan.
Pernah ada satu orang ngisi galon tengah malam ngeliat orang tinggi item di laborat. Katanya. Tapi yang lain bilang ada poci juga. Ah... kenapa jadi kepikir macem-macem sih? Baru juga jam tujuh. Orang-orang produksi masih banyak yang kerja.
"Udah luber, tuh!"
Kaget setengah mati gue ampe tumbler jatuh berguling-guling deket kaki seseorang dan isinya tumpah semua. "Kaget gue. Astagfirullah...."
"Tumben orang gambar belum pulang," kata orang itu sambil memungut botol minum dan memberikannya ke gue. "Maaf, ya kalo ngagetin."
Gue gak pernah lihat orang ini. Cowok tinggi gede dengan wajah sedikit bule. Dia mempersilakan gue untuk ngisi air yang tumpah. Setelahnya dia ngisi galon yang dibawanya.